Thursday, July 2, 2009

BILIK REDAKSI
Salam Sastra!
Usai absennya buletin sastra tercinta ini, ada cerita mengesankan (meski agak sedikit emosional) dari seorang pembaca-penggemar LONTAR. Melalui pesan pendeknya yang dikirim kepada kami, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di distrik timur Pasar Wates, berusia 54 tahun, mengaku terharu mendapati LONTAR yang ‘tercecer’ di pojok Alun-Alun Wates. Puteranya, yang seorang pelajar, rupanya merupakan pembaca setia LONTAR dan kerap berbagi bacaannya itu dengan sang ibu. Selama ini si anak setia menanti LONTAR terbit, hingga beberapa waktu silam menanyakan kepada sang ibu, “kenapa LONTAR ngga terbit-terbit, Ibu?”
Duuuh… Rasa haru sang ibu yang dibopongkan ke kami itulah, meski hanya melalui pesan pendek, yang menyentuhkan ‘rasa emosional’ di bilik redaksi. Untuk selanjutnya, memantik kami agar segera bergegas, meracik sedap naskah-naskah yang bejibun di layar maya kami, dan bergegas pula kami hidangkan kepada kalian; sidang pembaca LONTAR yang budiman. Kami juga tak jemu menunggu-nunggu, karya-karya orisinil dari kalian semua. Bergegaslah pula untuk mengirim ya? Terima kasih, Kawan….
Selamat Membaca...


TETES
Membela Pancasila

Memasuki bulan Juni, kita langsung teringat dengan Pancasila, ideologi yang merupakan pilihan cerdas para pendiri NKRI yang kita cintai ini. Sampai sekarang Pancasila adalah alat pemersatu bagi negara kepulauan nusantara dan perlu kita teguhkan kembali dalam dunia yang semakin global. Ideologi transnasional sudah mulai masuk dan memengaruhi warga negara. Jika kita melupakan sejarah dipilihnya Pancasila sebagai dasar negara maka dikhawatirkan persatuan negara menjadi goyah.
Indonesia adalah negara besar dengan laut yang luas dan ribuan pulau yang terpisah-pisah. Perlu kesadaran kebangsaan yang kuat untuk tetap menjadi negara besar. Berbagai suku bangsa, bahasa, budaya, agama, dan berbagai perbedaan adalah karunia yang perlu kita jaga kelestarian dan keberlangsungannya. Semua itu adalah kekayaan negara ini.
Mungkin ada orang yang membahas relevansi Pancasila dengan kondisi saat ini, dikarenakan Pancasila pernah menjadi alat penguasa untuk memaksakan kehendaknya. Kalaupun Pancasila pernah disalahgunakan, maka kita tidaklah kemudian menolaknya seperti halnya facebook yang juga bisa disalahgunakan, tetapi tidak kemudian kita mengharamkannya hanya karena sedikit penyimpangan.
Sejatinya, NKRI dengan Pancasila sebagai dasar negaranya adalah sudah final sebagaimana yang telah diputuskan Muktamar NU tahun 1984. Jadi membela NKRI dan Pancasila adalah termasuk jihad dan merupakan manifestasi dari hubbul wathan (cinta tanah air). (Z. Latif)


ADA APA DENGAN LA
Tadarus Puisi dan Bedah Buku ”Mutiara Kata”
Mutiara kata mengalir di acara Tadarus Puisi Komunitas LA, Kamis 26 Februari 2009 yang digelar di Taman Binangun Kulonprogo, komplek Alun-Alun Wates. Selain diisi pembacaan puisi oleh seluruh hadirin, buku Mutiara Kata karya Anton WP dibedah oleh M. Rio Nisafa. Dengan dimoderatori Sukardi Cimeng, ”Mutiara Kata bisa menjadi semacam buku petunjuk bagi para penulis, sekaligus sebagai motivator untuk menemukan kata-kata yang bisa menjadi ikon versi diri sendiri”, ungkap Rio yang biasa meng-ikon-i diri sendiri dengan ”Rock d' Word”. Acara kali ini dihadiri pula oleh kawan-kawan dari Sanggar Sastra MAN 2 Wates dan komunitas Padhang mBulan. (Chito)

Tadarus Puisi bersama Salman Rusydi Anwar
Sebagai wujud khidmat dan eksistensi di dunia sastra, Komunitas Lumbung Aksara menyelenggarkan hajat bulanannya, Tadarus Puisi (TP). Acara yang diselenggarakan tanggal 26 Januari 2009 ini mengambil tempat di Taman Binangun KP. Peserta yang hadir kali ini 25 orang dengan pembicara seorang sastrawan muda berdarah Madura, Salman Rusydi Anwar.
Acara diawali dengan ritual LA, yaitu pembacaan tahlil oleh Zukhruf Latief. Dilanjutkan dengan sambutan oleh Lurah LA, Marwanto. Untuk memecah kebekuan suasana, diselingi dengan pembacaan puisi oleh beberapa peserta. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi sastra bersama Salman Rusydi Anwar. Sastrawan ini bercerita bagaimana proses kreatif menulis. Menurutnya, sebuah inspirasi bisa berasal dari mana saja, terutama dari pengalaman pribadi. Dari pengalaman-pengalaman pribadi tersebut, bisa dilukiskan kembali lewat kata-kata sehingga orang lain pun bisa terhanyut ketika menikmatinya. Bagi mereka yang pernah membaca karya-karya Salman, akan mendapati nafas spiritual, di mana hal tersebut berasal dari pengalaman pribadinya. (Sukardicimeng)

MENIKAH itu ENAK dan PERLU
Di sehampar tahun 2008 - 2009 ini, kabar bahagia tengah mengalun di ruang hati kawan-kawan sejarah Lumbung Aksara. Sebuah siklus kehidupan pelan-pelan tetapi nyata, merengkuhi segenap jiwa-jiwa yang dikebat cinta. Dimulai dari pekan pertama bulan Syawal tahun 2008: Samsul Maarif, mantan redaksi LONTAR, menggandeng Ummu Hani' (sekarang tengah menanti buah hati yang sudah tumbuh) di Piyungan Bantul, 25 Desember '08: Zukhruf Lathif (layouter LONTAR) dan Siti Ulfah Nabawiyah mengikrarkan diri di depan hadapan Tuhan di Pleret Bantul (sekarang juga tengah menanti kelahiran keturunan pertama), 13 Februari 2009: Fajar R. Ayuningtyas (Fafa) dan Dhiawan meresmikan ikatan cinta mereka di Hargorejo Kokap, dan di hari yang sama adalah Nur Widodo (komunitas Sangsisaku) menikahi kekasihnya di Kendal Jawa Tengah, dan 21 Juni 2009: Siti Masitoh (PU LONTAR) disunting oleh Burhanul Fahruda di Plumbon Temon. Tali kasih yang berpadu sedemikian itu pasti kian indah, seiring doa restu dari kawan-kawan semua, juga pembaca LONTAR; semoga kebahagiaan jualah yang senantiasa memandu kisah cinta mereka; melahirkan puisi terindah; puisi paling puisi... Amin. Andakah yang akan menyusul? Hayoooo... (Ndari AS)

Peringatan 3 Tahun Komunitas Sastra Lumbung Aksara Kulon Progo
Sabtu sore, 2 Mei 2009, bertempat di halaman kampus UNY Wates, Komunitas Sastra Lumbung Aksara Kulon Progo menggelar perayaan HUT-nya yang ke-3. Meski sederhana, tidak mengurangi kehangatan sekaligus keakraban di antara para “penyair” Kulon Progo. Tampak hadir Komunitas Padhang mBulan, para penggiat sastra dan masyarakat umum.
Lumbung Aksara sebagai satu-satunya ”komunitas kultural”, yang mencintai seni, pustaka, budaya, dan sastra, dalam 3 tahun usianya, tidak pernah lelah untuk terus menggeliatkan minat baca-tulis di kalangan masyarakat Kulon Progo. Banyak yang telah dilakukan di usianya yang begitu ranum, seperti penerbitan buletin sastra LONTAR, menggagas berdirinya Taman Bacaan Masyarakat, merutinkan agenda Tadarus Puisi, dll, di mana semuanya bermuara pada tujuan bersama yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.
Aguk Irawan MN (penyair-sastrawan dan Pengasuh Pesantren Kreatif Baitul Kilmah Jogja) yang di-dapuk untuk memberikan orasi sastra, menegaskan bahwa “sastra itu bisa menyapu peradaban, sastra itu bisa mencuci, menyenggol yang luka, bisa menghapus yang perih”, sembari berpesan kepada kawan-kawan Lumbung Aksara agar selalu menjaga 'nurani'nya dalam bersastra dan tidak usah latah mengikuti arus sastra “gelap” dan menyesatkan”. Acara yang berdurasi sekitar 2 jam itu di meriahkan dengan pembacaan puisi oleh para penyair Kulon Progo.
Selamat buat Lumbung Aksara, semoga tetap kekeuh untuk terus “Membaca-Menulis; Menjaga Hidup“. (Izur)


CERPEN
RUANG TUNGGU
Cerpen Elang Retak
“Didedikasikan kepada para kekasih yang tak jenuh menunggu”

Jubelan manusia tumpah di ruang itu. Berdiri enggan, duduk pun tak mau. Sebentar-sebentar menatap penanda waktu di dinding. Ada yang tersenyum cerah, sebentar lagi orang yang ditunggu tiba. Ada yang terlihat murung, bakal berpisah.
Di sebuah pojok, berdiri sepasang kekasih. Mereka termasuk barisan yang murung berat. Si perempuan itu menatap sayu wajah kekasihnya. Bibirnya mengguratkan senyum jingga. Sementara lelaki di depannya tampak menggumamkan sesuatu; sederet kata penguat.
Dawai perpisahan sedang dimainkan sang musisi waktu. Pada jeda ini alur rasa menggapai klimaks. Pola verbal kehilangan sentuhan ajaib.
“Enu, andai kau yang kutuju, aku tak perlu berlari, karena tanpa kukejar pun. Kuyakin kau tetap di sini menungguku ”, bisik Erang dengan bibir bergetar.
“Iya, saya akan bertahan sampai kau pulang”, balas Wella.
Dialog cinta bergulir. Entah sebentuk permohonan untuk tegar menjalani kisah yang akan terpisah ruang dan waktu, entah metamorfosis dari pertanyaan serpihan keraguan hati tak bertepi. Temu dan pisah adalah dua titik kecil yang bisa ditarik garis-garis mini membingkai sebuah kisah.
Akan halnya kisah cinta Erang dan Wella. Bermula tiga tahun silam. Erang, mahasiswa Ilmu Politik UGM Yogjakarta, sementara Wella, mahasiswi keperawatan UNDANA Kupang Nusa Tenggara Timur diperkenalkan oleh teman mereka lewat telepon. Lembut tutur Wella yang mempesona, ibarat panggilan pulang bagi Erang untuk kembali menapaki sebuah masa yang pernah membuat dia retak dan enggan berhubungan dengan semua sosok perempuan.
“Aku jatuh cinta lagi. Kali ini pada suaramu ”. Serangkai kata, awal kebekuan mencair terucap dari mulut Erang. “Iya, aku juga“, Wella terkontaminasi sindrom perasaan mutual yang sama.
Keduanya sepakat menamakan ini sebuah kebetulan yang indah. Kebetulan, karena terjadi begitu saja. Indah, sebab bermata airkan ledakan rasa yang tak tertahan, bermuara pada kesepakatan tak terucap untuk menjaganya. Dan semua pun mengalir, sejalan ritme yang tak sengaja dikonsep, larut dalam manis dan getir. Mereka masih bertahan, tenggelam dalam mekanisme cinta yang tak butuh tali.
Kali ini menjadi perpisahan kedua, sekaligus menandai saat pertama Wella mengakhiri status sebagai mahasiswi, usai diwisuda sebulan kemarin. Long distance tetap berlanjut, Wella di Labuan Bajo NTT, Erang di Yogyakarta.
Lonceng perpisahan pun bertalu. Kapal Tilong Kabila yang akan membawa Erang dari Labuan Bajo menuju Yogyakarta merapat di dermaga.
”Enu, jaga hati e! Jaga diri juga. Jangan lelah menunggu. Jika kau rindu, datanglah ke sini di saban kapal merapat. Deraskan kembali kata-katamu tadi, bahwa kau akan bertahan sampai aku benar-benar pulang. Percayalah, aku mengunjungi hatimu saat itu”. Wella mengangguk kecil, tak kuasa menjawab. Erang mendaratkan kecupan hangat di keningnya, kemudian beranjak menaiki tangga kapal, diiringi lambaian tangan sang kekasih. Hingga kapal perlahan beringsut menjauh dan tak kelihatan lagi ujungnya, Wella menurunkan tangan. Beranjak dari ruangan itu.
Sebelum pergi, dia sempat berbisik lirih dalam hati, “Nana, saya sudah terbiasa dengan ini, dan kau harus tahu, sedetik pun di catatan waktuku, tak pernah berpikir tuk melepasmu dari kisah kita. Cuma Nana yang saya cemaskan. Satu hal, Nana, rapatkan mantel dan kencangkan sepatu boat biar tidak ada cahaya lain yang masuk!”.
Waktu terus bergulir menguji konsistensi para pelakon kisah menggenggam janji. Wella tenggelam dalam rutinitas baru sebagai tenaga honorer di sebuah klinik kesehatan Labuan Bajo. Amanat perpisahan yang dipesankan sang kekasih tetap setia dijalani: ia selalu mendatangi ruang itu di saban kapal merapat.
Rupanya, menjalani sesuatu yang tak biasa, dengan penuh keyakinan sekali pun tetap akan konyol. Tapi Wella tak pernah memilih untuk yakin atau tidak. Ia hanya menuruti panggilan rasa. Dan cinta butuh kerangka biar tidak berlari liar tanpa batas, tanpa tujuan. Wella telah menjadikan Erang sebagai satu-satunya tujuan hidup dalam bingkai cinta. Lakon yang kemarin pun terulang, lalu terulang lagi, meski konyol dan bodoh.
Sampai pada suatu hari, muncul sepenggal pesan singkat dari sang kekasih di Jogja.
”Enu, maafkan aku. Aku sudah salah jalan. Telah mengingkari kisah kita. Saat ini, aku tengah menjalani dua dunia. Jika bertanya pada rasa, di mana sebenarnya pelabuhan yang kutuju, rasa akan enggan menjawab. Sebab, sebelum melakoni dua dunia ini, aku tak pernah berdiskusi dengannya, atau sekadar mohon diri. Sengaja kukirim sms saat ini, karena aku tahu sebentar lagi kapal akan merapat. Katakan pada sosok asing yang akan kau jumpai dalam monologmu nanti, ini kali terakhir kau menunggunya”.
Ibarat petir di siang bolong, itulah tamparan paling keras dalam hidup Wella. Lelaki yang dipercaya sebagai penjaga hati, datang dengan kejujuran yang menjijikkan, melebihi sebuah kebohongan paling busuk. Lelaki terindah hingga dia merelakan dirinya mengenal banyak hal terkonyol, kini bermutasi menjadi monster. ”Tapi bukankah cinta tak butuh tali? Dan kisah tak akan pernah berakhir, sebelum rasa itu sendiri datang mencabutnya. Lalu di mana rasa saat Erang….berkhianat? Dan, ruang tunggu itu?” Monolog Wella.
Ruang tunggu adalah tempat persinggahan jejak yang pergi dan datang. Mampir sejenak di sana berarti siap berfluktuasi dengan imajinasi menjadi orang lain. Yang siap berangkat pasti ingin bertukar sosok dengan yang baru turun dari kapal. Tapi, akankah yang datang juga menginginkan itu? Yang tersisa hanyalah kumpulan penjemput dan pengantar dengan imajinasi liar berpendar dari satu titik ke titik lain.
Ruang tunggu dengan pembatas berupa pajangan kaca tembus pandang adalah penjara nyata untuk setiap keinginan berontak. Sebuah titik jungkir untuk berlayar dan terus berlayar, hingga tak pernah kembali. Atau titik labuh setiap keinginan untuk tak lagi pergi. Bisunya tiang penyangga dan beningnya kaca pembatas tak pernah mengajak para pesinggah untuk berdiskusi tentang arti datang dan pergi. Atau sekedar bernegosiasi betapa retaknya sebuah hati yang ditinggal.
Tut...tut...tut...Sayup-sayup dari kejauhan terdengar bel kapal berbunyi. Wella sadar dari terpekurnya. Pedih yang melukai hati serasa pulih seketika. Dia bangkit dan berangkat ke pelabuhan. Masuk ke ruang itu. Dan berdiri di tempat kemarin ia berdiri.
Dia diam sejenak, lalu; “Nana, ini kali terakhir aku tak perlu menunggumu lagi di ruang ini. Dan kau tak harus pulang sebelum bertemu dengan rasamu itu. Kutunggu kau dan rasamu kembali di ruang hatiku. Di sana kupastikan kalian masih sempat berdebat sebelum kau akhirnya pergi lagi. Ketahuilah aku tak cukup punya kekuatan tuk menahanmu. Cinta kita tidak butuh tali!!” Tit…tit….tit…, sms terkirim.

CATATAN :
Enu : panggilan buat perempuan dalam kosa kata bahasa Manggarai NTT.
Nana : panggilan untuk lelaki.
Erang : hebat, jago, luar biasa, istimewa.
Wella : diadopsi dari kata wela yang berarti bunga.
Labuan Bajo : nama kota di ujung barat Pulau Flores NTT. Kota yang termasuk salah satu ikon pariwisata lokal dan nasional, sebagai tempat transit para wisatawan yang hendak berkunjung ke Pulau Komodo.
Tilong Kabila : Satu-satunya kapal penumpang milik PELNI yang bersandar di pelabuhan Labuan Bajo dengan rute pelayaran Makassar-Labuan Bajo-Bima-Lombok-Bali.


GEGURITAN
GAPUK...
Dening: Redjo Wahid

Sumilir angin wengi iki
Rasa adem tansah nggugah ati
Binarung suaraning ratri
Ra krasa luh tumetes mlebes mili

Mbok..aku bingung
Prasasat lumebu ing alas gung liwang-liwung
Dalan-dalan kuwi tansah nyandhung-nyandhung
Gawe cupet ati petheng katutup mendhung

Aku isin marang gebyaring lintang
Aku gila nyawang sewu ayang-ayang
Kang tansah tumuju lenggah
Ing sakjroning impen ngejawantah

Mbok..aku ora kuat
Nampa panandhang kang kedungsang-dungsang
Pepes nyempyok prahara sinandhang
Aku ora kuat..

Nalarku gempung...
Ora bisa weruh
Marang sapa aku njaluk tulung
Aku gemblung..

Apa kalbuku wus gapuk
Banjur arep nglumpruk
Ing sakjroning angen-angen kang temumpuk
Mboh ra weruh

Pacraban Wukir Kencana
14 Maret 2008


PUISI-PUISI
Hari Ini Tak Ada Pagi
Untuk: Ayu
Oleh: Sukardi Cimeng

Hujan itu telah mulai reda
Setelah semalam memuntahkan isi hatinya
Seiring detik jam yang terus berjalan
Lagilagi matahari tak mau menyembul keluar
Bertengger di balik gunung menggantikan malam yang pekat
Hanya angin dan kabut yang berselingkuh di balik bukit
Menyisakan dingin yang menusuk pori
Apakah hari ini tak ada pagi?

Ah, biarlah
Pagi adalah makhluk yang tak bernyawa
Berkuasa atas kehendak tuannya
Aku masih punya kata dan pena
Yang kan kurajut menjadi cerita kehidupan
Menyusuri titian panjang
Hingga kutemui engkau yang telah lama menunggu
Bersembunyi di balik bayang mimpi malam itu

Kita berjalan bersama
Mengurai kata yang telah kita susun
Hingga di akhir asa

Pengasih, Januari 2009


Derup Jiwaku
Oleh: Ike Riyanti N.

Kuambil pena
Aku goreskan di atas kertas
Khayalku meninggi
Sekilas terlihat jalan
Panjang terbentang lurus
Itulah jalan setapak
Jalan yang acapkali aku lalui
Walau terasa berat hati jiwa
Raga ini, yang ada hanya
Dirimu, hanya bayangmu
Lihat sungai kering
Riak air tak nampak
Sekering hati di sini
Menanti..
Hanya bayang mu, hanyalah
Itu yang selalu kau berikan
Hari-hari yang sepi
Tanpa dirimu
Rasa hati menggebu-gebu
Berjumpa denganmu
Walau hanya sekejap
Sejauh mata memandang


Setelah Seorang Pemburu Singgah
Oleh: FAFA

Pemburu itu akhirnya singgah. Di kepompongku
Menggantungkan sayapsayap kekupu liar lain di celahcelah
Buruannya.

"Warnamu akan indah." Ia meletakkan senapan
Berdiri menaksir aku. Setelah menggantungkan sayap terakhir di celah
Yang tersisa

Dalam kepompong. Dalam remang. Dalam balutan Warna indah sayapsayap itu
Sayapku yang mulai tumbuh. Mendadak
Patah
Ia berdiri dan pergi


Denting Sunyi Menyergap
Oleh: Septi Martiyani

Tawamu membeku
Dan hatimu membisu
Kepakan sayap pipit di ujung cemara
Gerimis yang membentak di balik jendela
itu hanya sekeping luka yang kau bilang begitu indah
saat kau beritahuku arti cinta
saat kau berikan aku nafas cinta
kau berkata semua tentang cinta
Luka indah itu kini kau lukai
Dengan jeratan benang hitam di hati
Kau kekang dengan sejuta kebohongan
Merobek hatiku yang haus asa
gerimis itu adalah air mataku
dan pipit kecil itu adalah jeritan hatiku
apa cinta itu hanya divariasi luka?
dan harus berakhir dgn luka ?
Aku memang tak lagi mau mencinta
Sematkan luka indah itu sebagai cahaya
Biar aku yang berakhir dengan luka


MAGNET
Oleh: Siti Masitoh

Seperti magnet, kita menyimpan ego
Berguru pada arah yang tak bisa disatukan
Kutub utara
Kutub selatan
Kita pun memilih salah satunya
Untuk saling berlawanan
Atau berdekatan

Seperti magnet, kita mencipta diri
Mengekalkan muatan, atau melebur keberadaan
Positif
Negatif
Kita pun belajar darinya
Untuk menjadi lebih
Atau menjadi kurang

Seperti magnet, kita hanya saling memindahkan
Luka pada senyum
Kuat pada rapuh
Hingar pada sepi
Apa yang tampak
Dan apa yang kita sembunyikan
Seperti juga petak umpet
Yang membiarkan kita memilih
Dicari
Atau mencari


Kota dengan Warna Jingga
; Jogjakarta
Oleh: Andjar

Redup lampu jejalan merasuk kejiwa menjadi lilin, meleleh diam-diam dalam kenangan musim, gugur dalam setiap panggil
Degup rindu menanya cakrawala menggeletar
Tak sampaikah, segala panggil pada ruang segala kuingin
Mirip resah, dedaunan yang jatuh dimainkan arus angin Jiwa yang tak jua diam, menjejak gelegak
Ku bawa segala getir, cerita burung dengan ingatan yang karatan
Lusuh sayapnya, mendekap deru cuaca tak reda-reda
Tak jengah diarus ; menggerus
Kota dengan segala warna jingga, memeram jiwa; menanti ku bertumbuh dalam dahaga
dalam letih tanya, di rimbun cecabang ku mengais kemakluman
Lapar yang tak reda
Sisa rindu yang tak lerai dalam peziarahan ingin kutandaskan benar, deras sangsai pada muara pertemuan Kusapa juga musim, dimana cawan kerontang menanti gerimis kepulangan Sisa kembara, lelaki yang menyetubuhi mimpi; lebam jiwanya diliputi debu jejalan-trotoar
mengalir darah, di deru kota; datang juga segala bising dengan erangan dari masa silam
Lanskap kota yang tercabik; menimbun prasangka, etalase kaca,
berserah pada cakrawala dalam gerimbun antene; rumah-rumah kaca
Anak-anak zaman mencari; di tikungan gamang, di cecabang perdebatan

Jogjakarta, Maret 2006


Sebatang Lilin
Oleh: Ragil Prasedewo

Sebatang lilin tergeletak di atas nisan
Di sebelahnya, sebilah pedang, serangkai bunga,seonggok
Batu diam dalam malam
Sebilah pedang, serangkai bunga, seonggok batu, temani
Kesendiriannya
Ketika senyap hadir
Seorang anak yatim, ikut mengirim doa

Djogja, 26 Februari '09


SMS DARI PEMBACA
”Ass. Klo mu ngirim cerpen g5n? Pa langsung bs dmuat? Wass. ”
(Aftanty 085292843XXX)

”Slmt pg. Sy Andarisa. Dmana x bs mndptkn lontar. Sy blum puas klo hnx liat dblog. Cz sy sring khbsn. Krn ksbkn jd g up date n g bs ngrim tlisan”
(Andarisa, 085292451XXX)


BACA BUKU
Puisi & Santri; Seperti Kopi

Judul : Hijrah dari Tubuhmu (Antologi Puisi Komunitas Malaikat)
Cetakan : I Februari 2006
Penerbit : Komunitas Malaikat Tasikmalaya JABAR
Tebal : viii + 81 halaman

Bagi saya, membacai beragam puisi, seperti menikmati secangkir kopi. Dari mulai aroma wangi hingga larut mencercap getir setiap butirannya. Dan seperti keimanan saya yang lain, puisi bukanlah kata-kata yang muntah begitu saja. Tanpa mengendapkan rasa, puisi tak lebih dari omong kosong belaka.

Adalah sembilan penyair dari Komunitas Malaikat yang konon adalah santri yang penyair (atau penyair yang nyantri?) yang mencoba membenamkan kegelisahannya dalam wujud larik puisi yang apik. Bahasa kerinduan, keterasingan, keberjarakan antara aku (penulis) dengan yang lain terungkap cukup seragam dalam antologi ini. Barangkali karena ‘ruh’ dari masing-masing penyair yang nyaris sama, meskipun latar belakang kesibukannya berbeda.

Persinggahan demi persinggahan saat hijrah dari pesantren ke pesantren, agaknya membuat para penyair ini kenyang dengan kata-kata. Terlihat dari penggunaan metafor yang cukup rumit, sehingga mengisyaratkan bahwa puisi ini berat, bahkan bisa dibilang cukup serius. Meski begitu karena ruh ke-’santri’-annya yang juga cukup melekat, tidak sedikit dari puisi-puisi dalam antologi ini yang terkesan nyufi. Ekspresi kesahajaan, kejujuran, lugas, dan apa adanya, begitu menggoda. Sesederhana menjalani hidup sebagai sabda titah semesta. Ufhh...
Sebagai seorang pembaca biasa, bisa jadi saya tidak jujur kepada Anda.

Lantas, bagaimana menakar kejujuran sebuah puisi dalam antologi ini? Barangkali Anda sendiri yang harus menjawab dengan membacanya.
(AriZur, Penikmat kopi dan cerita iseng lainnya. Masih menunggu cinta)


BIODATA PENULIS LONTAR
EDISI 21/Th. III/2009
Andjar, panggilan dari A.Ginandjar Wiludjeng, lahir di Banyumas 11 Juni 1983. Mahasiswa Teknik Arsitektur Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) dan ASDRAFI (Akademi Seni Drama Film Indonesia). Dipercaya sebagai Ketua Teater Dokumen (Pendopo Mangkubumen) periode 2005-2007 UWMY. Sekarang, sajak-sajaknya bertebaran di media massa, lokal maupun nasional. Tinggal di nDalem Mangkubumen Yogyakarta.
Ragil Prasedewo, penyair dari SMK N 2 Pengasih jurusan Bangunan. Dia menggemari sastra dan rajin hadir di acara Tadarus Puisinya LA. Ia juga tak malu membacakan sajak-sajaknya. Tinggal di Mutihan Wates.
Siti Masitoh, saat ini berstatus pengantin baru. Bersama suaminya, Burhanul Fahruda, belajar menulis sajak kehidupan berdua saja. Meski menikmati keberduaannya, ia tetap aktif memegang tampuk PU LONTAR. Tinggal di Plumbon Temon.
Redjo Wahid, penggurit aktif yang 'nyentrik'. Tinggal di Wates dan Panjatan.
Ike Riyanti N, tidak menyertakan biodata lebih panjangnya kecuali bahwa ia adalah pelajar di MAN 2 Wates, Jl. Khudhori Wonosidi Kidul KP.
Septi Martiyani, mengaku senang baca LONTAR, tapi tak tahu gimana caranya dapetin LONTAR selain dari perpus sekolahnya, di SMK N 1 Pengasih. Pelajar kelas X Ak 1 ini ber-email di nurani.bening@yahoo.co.id.
Fafa, Nyonya baru. Masih betah tinggal di Hargorejo Kokap. Blog pribadinya ada di selepas-lautan.blogspot.com.
Elang Retak, menyatakan terima kasih pada LONTAR atas spirit multikultur yang “dibuka” melalui buletin sastra ini. Cerpenis asal Manggarai Flores Nusa Tenggara Timur ini tengah menempuh studi di Jurusan Hubungan Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta. Berdiam di Mrican-Arimbi 10 Yogyakarta.


KATA-KATA MUTIARA
"Jika seseorang kehilangan kesenangan kecil dalam hidupnya, bahkan seandainya kesenangan besar sekalipun, dan sebagai gantinya diberi kesempatan mencintai seseorang, maka tak ada yang lebih baik dari itu”
(Taslima Nasrin, dalam novelnya; LAJJA)

Monday, May 25, 2009

Lontar 20

BILIK REDAKSI


Salam Sastra!

Pecinta LONTAR yang baik hati, dengan segala sesal yang sejatinya tak ingin kami bagi, kami harus berucap mohon maaf yang terdalam. Atas vakumnya buletin sastra tercinta ini selama….lamaaaaaa sekali. Jeratan tali di kaki-kaki kami yang sungguh sukar untuk kami urai dan kami enyahkan, membuat kami kesulitan berjalan dan berlari jauh mengejar kalian: pembaca dan pecinta LONTAR yang budiman, yang selalu setia mengirim rindu kepada kami. Sesungguhnya, kami tak malu dan tak ragu untuk mengatakan bahwa kami pun rindu. Mudah-mudahan ini tidak terdengar seperti apologi. He he.

Edisi terbaru kali ini dan seterusnya kolom BYAR sudah tak ada lagi digantikan dengan kolom “sejenis tapi tak sama”, seiring kebijakan pergeseran kerja-kerja redaksi dan sedikit alasan regenerasi. Semoga pembaca maklum.

Maka, mulai saat ini ijinkan kami bertandang lagi, menyapa kalian semua. Mendenyutkan kembali nafas bersastra di tlatah Kulonprogo yang selama ini terasa ‘mati suri’.

Rentangkanlah tangan kalian. Biar kita selalu hangat dan mesra.

Hmm, salam hangat!

Selamat Membaca...



TETES


Siklus: Mata Rantai yang tak Bisa Putus?

TULISAN ini tak hendak menempatkan diri sebagai katalis dari rona demokrasi yang tengah “dipestakan” di negeri ini. Sekedar guneman yang terbata-bata menyimak peta saja.

Ungkapan Lord Acton mungkin masih cukup populer hingga kini; “kekuasaan cenderung korup”, dan demokrasi di negeri ini, meminjam istilahnya Rocky Gerung, rupanya diturunkan maknanya menjadi dangkal dan banal: sekedar transaksi kekuasaan (garis bawah dari saya). Riskan untuk disusupi tindak korup. Korup dalam makna luas yang tak melulu berarti menilap duit. Tak sepenuhnya sinis memang, tetapi beberapa bulan terakhir ini semua tampak nyata di depan penciuman kita. Akrobat yang dianggap sebagai ”pesta demokrasi” yang indah dan dinanti-nanti, tak lebih dari rutinitas yang dangkal. Terasa sekali bancakan duit rakyat berhamburan di seluruh lokasi berikut persoalan yang bejibun meningkahi kekurangan demi kekurangan penyelenggaraan hajatan itu sendiri. Sikap pesimis dan apatis di elemen besar warga negeri ini, membuktikan helat yang diselenggarakan terasa kurang nresep. Hanya menambahi jenuh yang masih belum pergi. Entahlah.

Sahdan, negeri ini dinyalakan sumbu kemerdekaannya untuk menuai hak warganya meraih kesejahteraan hidup. Klise sih. Kemudian demokrasi disepakati sebagai ”yang dibayangkan” sebagai jalan pengelolaan sebuah negeri. Infrastrukturnya melalui di antaranya pemilihan umum. Namanya saja pemilihan; setiap individu berhak memilih ikut dan berhak memilih tidak. Dua hal yang sama-sama tak ringan sebenarnya. Dan pada taraf inilah sesungguhnya kita masuk di sebuah siklus.

Siklus adalah hal yang bersifat berulang, bahkan kadang hanya pengulangan saja, tanpa sesuatu perubahan berarti. Kita pasti tak ingin stagnasi keadaan berlangsung terus di sini. Apakah lantas siklus atau mata rantai itu bisa diputus demi hal besar yang lebih berarti? Jawabannya akan sangat bergantung pada kualitas pemimpin dan agenda kerja yang dihasilkan kelak. Ya. Sosok pemimpin, bukan sosok pejabat.

Wallahua’lam bi ash-showab

(NDARI saja, www.sketsajagad.blogspot.com)



ADA APA DENGAN LA

Tadarus Puisi dan Bedah Buku “Tasawuf Cinta”

Sebagai perwujudan khidmah terhadap dunia sastra di Kulon Progo, pada tanggal 16 Agustus 2008. Komunitas Sastra Lumbung Aksara mengadakan hajatan bulanannya yaitu Tadarus Puisi yang bertempat di Pondok AB, selatan Taman Makam Pahlawan Giripeni Wates. Hadir pada kesempatan itu para punggawa serta simpatisan LA., diantaranya Lurah Marwanto, Siti Masitoh, AriZur, Ndari, Didik Komaidi, Rio “Rock the World”, Burhan, Sukardi Cimeng, dll.

Acara yang dipandu oleh Borhanul Fahruda tersebut berlangsung meriah. Diawali dengan pembacaan tahlil oleh Didik Komaidi, dilanjutkan dengan bedah buku “Tasawuf Cinta” karya Gus Edo dari Jombang Jawa Timur. Sebagai pembedah kala itu adalah Sukardi Cimeng.

Sehabis bedah buku diadakan diskusi sastra diantara masing-masing peserta TP. Dalam diskusi tersebut banyak disinggung tentang merebaknya novel-novel bernuansa Islam dengan label “Cinta”. Fenomena tersebut disinyalir hanya sebuah “latah” belaka, dimana hal tersebut merupakan pragmatisme dari penulis dalam mengejar pasar yang hanya menguntungkan bagi pemodal (kapitalis), dimana dalam hal ini adalah penerbit. Menanggapi hal tersebut, proses kreatif yang terus-menerus sangat diperlukan sehingga akan terbentuk sebuah karakter dari karya sastra.

Acara tersebut diakhiri dengan pembacaan puisi oleh masing-masing peserta. (Cimeng).


Tadarus Puisi dan Diskusi Buku LA

Kamis, 26 Februari 2009 bertempat di Taman Binangun Kulon Progo. Di tengah cuaca mendung dan pekat disertai rintik hujan yang menyelimuti tidak menyurutkan sekitar 25 orang untuk membaca puisi dan berdiskusi tentang buku Kata-Kata Penggugah Motivasi untuk Mulai Menulis karya Anton WP. Sebagai pembedah buku kali ini adalah Rio Nisafa. Dalam kesempatan itu dikatakan bahwa bagaimana buku tersebut mampu memotivasi bagi setiap pembacanya untuk memulai menulis.

Setelah tanya jawab dengan peserta selesai, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi. Setiap peserta yang hadir turut membacakan puisinya, baik itu karya sendiri atau karya orang lain. Puisi dari Joko Pinurbo menjadi puisi yang kala itu banyak dibaca oleh peserta. Menurut Zahra, salah seorang peserta dari MAN 2 Wates ini mengatakan bahwa acara ini sangat bagus, setidaknya menginspirasi untuk menggerakkan sanggar sastra disekolahnya.(Sukardi Cimeng)


Berbuka dengan Puisi

Berita AAdLA kali ini dibuka dengan flashback di tahun 2008 lalu. Di berbagai tempat, buka puasa bersama menjadi kegiatan “dadakan” yang diagendakan masyarakat saat memasuki bulan Ramadhan. Pun demikian halnya bagi Komunitas LA pada Ramadhan 1429 H silam. Sebagai wadah masyarakat pecinta sastra di Kulon Progo, Ahad tanggal 28 September 2008, Komunitas LA secara ”dadakan” pula menyelenggarakan Tadarus Puisi yang dikemas dalam bentuk buka puasa bersama di kediaman koordinator Lumbung Aksara Marwanto, Maesan Lendah. Selain dihadiri oleh keluarga besar Komunitas LA, acara ini juga dihadiri oleh sahabat-sahabat dari komunitas Padhang mBulan dan Sangsisaku. Pada bulan yang sama 2 tahun sebelumnya dan di tempat ini pulalah, Tadarus Puisi pertama kali digelar dan hingga sampai saat ini masih terus rutin diselenggarakan. (Hening)



SMS (SEPUTAR MENULIS SASTRA)

Sportivitas dalam Berkarya

Beberapa tahun silam pernah terjadi polemik seru perihal menulis sastra kaitannya dengan pencapaian tujuan/imbalan materi. Ada yang mengutuk habis-habisan sikap pragmatis-pamrih penulis yang mengejar materi (atau kepentingan lain) dari tulisannya; nama dan uang. Ada yang toleran dan apologis dengan sekian alasan. Toh, semuanya kembali kepada si penulis sastra itu sendiri. Apakah menulis merupakan panggilan jiwanya yang ”tidak main-main”, luhur, agung, ataukah menulis itu baginya yang penting dimuat dan dapat honor/kontraprestasi, syukur-syukur namanya menjadi dikenal--terutama oleh redaktur agar jika mengirim karya di lain saat dapat dimuat lagi?

Bisa jadi, industri berikut infrastruktur sastra yang memberi tempat khusus pada karya sastra adalah mula bukane. Godaan pragmatis akan pundi-pundi susah ditolak. Pun halnya dengan prestisius nama yang menjadi dikenal orang. Media massa menyediakan kesempatan kepada siapa saja untuk mempublikasikan karyanya dengan teknis yang mudah dan murah dibanding jika menerbitkan sendiri--melalui buku misalnya. Di sini, kompetisi atas kualitas karya sesungguhnya diutamakan, meski juga bukan rahasia lagi kalau faktor kedekatan (relasi) dengan redaktur juga menjadi kunci bandrek bagi dimuatnya karya sastra.

Kedengarannya, faktor pragmatisme dalam menulis karya sastra adalah hal yang manusiawi--biasa. Akan tetapi, bisakah itu dibenarkan? Atau katakanlah jika itu bisa dibenarkan, bisakah dibenarkan pula jika demi mencapainya, maka seorang penulis harus ”melacurkan” integritas pribadinya dengan menanggalkan pakaian kejujuran dan sportivitas dalam berkarya? Banyak contoh bisa disebut, seperti plagiat (meniru atau mencuri karya orang lain baik separo atau keseluruhan), mengirim satu karya yang sama ke lebih dari satu media massa, mengirim karya dengan diatasnamakan orang lain (istri, anak, pacar, kawan atau bahkan atas nama lembaga atau komunitas tetapi untuk kepentingan pribadi), menulis dengan ”nggaruk sponsor” tokoh-tokoh kenamaan (yang bukan dimaksudkan untuk memperkuat wacana, tetapi untuk tujuan popularitas--politik citra--pribadi penulis), dan lain-lain. Hal terakhir sesungguhnya menurut saya justru memperlihatkan betapa tidak PD-nya si penulis itu akan ”siapa dirinya” sehingga musti mencatut nama orang lain agar ”siapa dirinya” menjadi ada atau memiliki ”nilai tambah”.

Kalau boleh sedikit berbagi kabar, menulis sastra tak ubahnya pekerjaan yang luhur dan agung. Karena ia menyampaikan bagian terdalam tak terlihat dari sosok manusia: pikiran, jiwa, dan perasaan. Seorang penulis barangkali bisa dikatakan seperti nabi-nabi, atau orang suci, yang memiliki tanggung jawab moral ”menyampaikan risalah” dan karenanya dituntut untuk selalu ”terjaga” dari hal pragmatisme semu yang akan merusak ”risalah terdalam” pribadinya itu sendiri.

Makanya saya sering berkerut kening jika ada iklan yang bombastis dalam setiap akan diadakannya pelatihan menulis; ”Anda ingin kaya? Ikutilah pelatihan menulis, dapatkan resep jitu menembus media massa atau penerbit. Jadilah terkenal dan kaya dengan menjadi penulis”. Wah!

Semoga kalimat saya barusan tidak terlalu hiperbolis. Apa pun, rasa-rasanya, sungguh indah jika kita bisa senantiasa berbudaya untuk menjunjung tinggi sportivitas dan kejujuran dalam berkarya. Setiap karya adalah berharga, orisinil, unik, luhur, yang karenanya sayang jika harus dikotori oleh ”pragmatisme kesemuan”. Seperti kata seorang kawan yang tidak mau disebut namanya, bahwa ”karya sastra itu separo wahyu”. Aih...

Wallahua'lam bi ash-showab.

Selamat Menulis, Dab!

(Akhiriyati Sundari, anggota redaksi LONTAR)



CERPEN

Senja Terakhir

Cerpen Deffnau

Tiap sore Raenjoh sibuk berkeliling dengan gerobaknya, mengangkut sampah. Sampah tetangga sekelilingnya yang sebagian besar orang kaya di sebuah kota kecil. Perutnya mual benar setiap kali menuang sampah ke gerobaknya, apalagi sudah dua hari ia libur tak mengambil sampah karena meriang, aromanya jadi berlipat ganda. Badannya masih terasa berat dan lesu, tapi dipaksakannya untuk bekerja.

Dan sore ini Raenjoh bekerja seperti biasanya. Sampah keluarga Suprana, sampahnya paling banyak, tapi tak pernah memberi uang lebih dari 6 ribu sebulan. Jumlah itu memang Raenjoh sendiri yang mematok tanpa pernah berani menaikkan upahnya. Kadang Raenjoh berharap Pak Suprana menolak uang kembalian ketika uang 10 ribu disodorkan kepadanya. “Yach, namanya juga pedagang, serba dihitung”, Raenjoh mengungkit pribadi pemilik sampah.

Berikutnya sampah dari rumah Bu Sinta, pemilik toko “Apa Saja” di pinggir Jalan Negara. Campur aduk kertas-kertas dan sayur basi. “Eman-eman nih kertas dan dus-dus kosong, lengket sama sayur basi, kenapa tak dipisah-pisahkan supaya bisa diambil pemulung. Malas amat!” sungutnya dalam hati. Sampah rumah berikutnya sudah menunggu Raenjoh. Bak demi bak dituang di gerobaknya.

Gerobak pun penuh, ditariknya ke tempat penampungan sementara di teteg kereta api. Esok pagi truk-truk akan mengangkutnya ke tempat pembuangan akhir. Adzan maghrib menggema di kejauhan, Raenjoh bergegas pulang, seperti sapi menarik gerobaknya yang sudah kosong. Langit jingga. Para tetangga juga pulang dari berbelanja di toserba, ada yang habis jalan-jalan sore, bermain sepeda santai sambil memamerkan motor modifikasi kebanggaannya bersama anak istri mereka. Satu dua senyum pada Raenjoh.

Hari sudah gelap. Diparkirnya gerobak sampah di samping rumah. Raenjoh lelah. Lapar. Raduedhit--istrinya--tak masak apa-apa, tinggal tersisa nasi yang ditanak tadi pagi. Jadilah sore ini Raenjoh makan nasi kecap, lumayan daripada biasanya yang hanya lauk jelantah (minyak goreng bekas) dan garam, meskipun gurih tapi tak cukup bergizi. Terbayang kaleng-kaleng ikan, setumpuk tusuk sate, dan kue-kue yang tadi diangkutnya di antara tumpukan sampah..

***

Pagi menjelang. Raduedhit sibuk membantu keperluan anak-anaknya sebelum berangkat sekolah. Sulung kelas 1 SMP, adiknya kelas 5 SD, adiknya lagi kelas 2 SD, sedang Rakopen--si bungsu--baru 3 tahun. Setelah itu Raduedhit mencuci di rumah keluarga Subondo. Si Rakopen selalu ikut ibunya karena di rumah sendirian. Sesekali Raduedhit berteriak-teriak menghalau Rakopen yang bermain-main air cucian. Jam 11 siang Raduedhit selesai mengerjakan perintah keluarga Subondo. Kontraknya sih cuma mencuci, tapi praktiknya Raduedhit masih disuruh ini itu, kalau dituruti tak ada habisnya. Dalam hal ini Raduedhit dianggap keluarga sendiri, artinya tanpa bayaran kecuali upah mencuci. Raduedhit tak kuasa menolak tetangga dan sekaligus bossnya itu.

Ketika Raduedhit pulang mencuci, seperti biasa rumahnya masih berantakan dan setumpuk pekerjaan rumah tangga menunggunya. Selama Raduedhit pergi kerja menjadi tukang cuci, Raenjoh bingung di rumah harus mengerjakan apa, mengurus rumah merasa bukan tugasnya meskipun tangannya nganggur, mau ngantor sudah pasti tak ada yang sudi menerima, ia tak punya ketrampilan apa-apa, juga tak mengenyam pendidikan. Kantornya yang sudah pasti dan harus dijalaninya setiap sore adalah dari bak sampah ke bak sampah.

***

Suatu sore. Raenjoh menarik gerobak sampahnya. “Ups, keterlaluan”, umpat Raenjoh. Pembalut wanita yang masih basah kemerahan dibuang begitu saja di tempat sampah Bu Jorse, tanpa dicuci, tanpa dibungkus. Raenjoh memungutnya, melempar ke gerobak.

Berikutnya sampah keluarga Subondo, tempat istri Raenjoh menjadi tukang cuci. Kaleng kornet, dos susu, bungkus sosis, Raenjoh belum tahu seperti apa rasanya, mungkin enak sekali, dan, aha… ada struk belanja toserba yang sudah lusuh. Raenjoh coba membaca… “Wah wah wah, banyak amat belanjanya, kenapa mesti membeli barang neko-neko seperti itu, mendingan uangnya dikasihkan aku aja untuk bayar sekolah dan lauk anak-anakku, toh dia nggak bakal mati meski nggak belanja aneh-aneh kayak gitu, dasar boros!”, Raenjoh terlihat geram.

Dituangnya semua isi tong sampah ke gerobak, lalu “plok!”, pampers bayi yang belum dibuang tinjanya melayang. Raenjoh sejenak tertegun, merasa tak berharga. “Pampers kotornya untukku, yang nemplok di popoknya untuk istriku, lalu anakku si Rakopen bermain-main dengan air cuciannya. Kasihan anak istriku. Subondo benar-benar manusia kemaki. Dumeh Sugih”.

Sampah berikutnya menunggu giliran. Raenjoh sudahi pikiran-pikirannya. Sampai juga di teteg kereta api, saatnya Raenjoh kosongkan lagi gerobaknya, lalu bergegas pulang. Jari tangannya luka, tergores pecahan gelas kaca di bak sampah Pak Sugaya.

***

Hari demi hari Raenjoh menjalani. Setiap petang mengangkut sampah. Kadang-kadang Raenjoh tak bersemangat. Ya, tapi setidaknya Raenjoh tak ingin anak-anaknya menjadi sampah. Lelaki itu merasa harus tetap bekerja. Raenjoh seolah tengah menunggu kapan nasibnya berubah. Mungkin sebuah keajaiban bila di negeri Raenjoh ada yang menaruh perhatian kepadanya. Mungkin memberinya modal, atau ketrampilan, atau…. “Atau…mungkin keadaan sepertiku sengaja dibiarkan untuk keuntungan mereka saja, mempekerjakan orang kepepet sepertiku dengan upah serendah-rendahnya…”, pikiran kacau melintas-lintas di kepalanya. Raenjoh ingin berubah, tapi bagaimana caranya? Apa harus menunggu seseorang menjemputnya, menanyakan keadaannya, lalu mengubah jalan hidupnya? Ah, rasanya itu harapan yang kelewat indah.

***

Pagi. Sampah menumpuk. Kemarin sore Raenjoh tak nampak. Seperi ada keperluan penting yang lain.

Sore. Raenjoh tidak “ngantor”. Mungkin mengunjungi orang tuanya di desa.

Sore berikutnya. Sampah makin menumpuk. Ah, mungkin Raenjoh belum selesai urusannya.

Sorenya lagi. Sampah tak diangkut. Baunya menusuk. Hingga sore-sore seterusnya, Raenjoh tak muncul-muncul. Sumpah serapah ditujukan kepadanya, Raenjoh dituduh menjadi biang keladi kekumuhan yang mengganggu kenyamanan orang-orang kaya.

***

Raenjoh di rumah saja. Tubuhnya yang rapuh terbaring. Typus membuat badannya panas, TBC membuat batuknya mengkis-mengkis. Lukanya mengalami infeksi, tergores pecahan gelas di bak sampah Pak Sugaya. Mungkin ini hadiah dari keuletan Raenjoh, yang bekerja dengan tangan telanjang, tanpa masker apalagi antiseptik, tanpa pengaman apa pun ketika ia bergelut dengan sampah: kotoran dan penyakit. Kini Raenjoh tahu, seiring senja yang merayap, seseorang telah datang menjemputnya untuk mengubah nasibnya. Entah siapa yang akan menjadi penggantinya nanti. Keheningan menyelimuti.

***

Wates, 13 April 2006



PUISI-PUISI


Untuk Temanku di Yaman

(Surat yang tak pernah kukirim)

Oleh : Alfanuha Yushida


Gemuruh cerita tentangmu

Seiring pulang rombongan haji

Kami di sini sedang menerima ujian hati

Tiang-tiang tempat kami berpegangan

Tiba-tiba menjadi gelombang dan badai

Mencengkeram dan menghempaskan

Menarik dan menghentakkan

Kami limbung kami bingung

Doakan kami

Fainna ma'al 'usri yusra

Fainna ma'al 'usri yusra

Agar tak hilang hati kami

Karena tinggal harapan lah milik kami

Hingga gelombang dan badai

Menjadi tiang kembali

Agar kami bisa berpegangan kembali

Ami…n

Kg, Januari 2007


Lagu Kidung

Oleh : Nur Islamiyatun


Kusenandung dalam rinduku

Di antara doa terucap tak sempurna

Kubariskan irama malam-malamku

Dalam khayal terselip mimpi tak pasti


Jika memang perjalanan ini boleh berujung

Terbuai pasti dalam satu titik

Kan ku rengkuh malam-malam indah-Mu

Dalam baris ayat meski tak sampai pada-Mu

Kan ku dekap sunyi dalam diamku

Yang mendatangkan selinap nikmat

Ketika acara sembabkan wajah

Di antara serpih setiap gerakku


Bukan kemarin terlewati

Bukan hari ini terlampaui

Bukan esok yang akan terganti


Namun...

Di antara setiap hari-hari

Nama-Mu tersuci di hati

Robby...



Senja Adalah Kau dan Aku

Oleh : Nichi


Sejak kau tinggalkan aku saat senja memerah di langit itu

Sejak itu pula aku masih menunggumu

Bersama janji yang kau selipkan malam itu

Kau akan kembali suatu saat nanti

Dan aku percaya itu, aku percaya padamu


Tapi kadang rinduku memuncak dalam sepi

Bergetar perlahan lalu tersingkap oleh bayangmu

Terasa sesak bergelayut dalam diri

Lalu gerimis di mataku mulai mencair

Mungkinkah rinduku terbaca olehmu?



Pagi

Oleh : Asti Widakdo


Dingin pagi membelenggu bersama putih

Kabut menyatu

Kicau burung bersahutan

Berlomba menyenandungkan syair cinta

Sambut sang surya

Perlahan, dingin terurai

Pekat kabut mengerut tersapu senyum

Mengulum

Kilau bintik-bintik embun pagi di pucuk

Daun pun memudar

Mengiringi mentari bersinar

Bising suara motor satu demi satu silih

Berganti

Berkolaborasi dengan kicau burung yang

Sayup-sayup senyap

Lalu-lalang orang, bersepeda, berjalan

Bergerak awali kehidupan

Curahkan pemandangan yang...

Mengumandangkan kuasa Tuhan


Kulonprogo, Januari 2007



JERIT

Oleh : dmeileni. w PB

senja ini aku mati

tertegun diantara resah hati

airmata berlomba turuni celah-celah

terjal asaku yang remuk tergilas

tertindas

terinjak


deru mega yang berarak

memecah lara yang

tersisa diantara duka


senyumku luruh tersapu pekat mata

jari jemari yang gerayangi guratan luka lamaku

terus merasuk

merobek

selaput sendu kidung malamku


tuhan........

biarkan hujan menghapus

jejak-jejak tikaman noda di nadiku



“Malam...”

Oleh : Itul


“Malam...”

Satu butir sapamu lewat telepon genggam kemarin malam

“Malam juga...”

Mestinya kutambah dengan “apa kabar?”

Dan percakapan kita pun mengalir

Sampai kokok ayam mengisyaratkan fajar


Sayang, warna itu sudah kau ramu menjadi ungu

Tinggal kardus coklat dan sampul yang menyimpan bisu



di gerbang lautan api

Oleh : fathin chamama


andai bukan nanMU

sudah menggelap ku ke-7

andai bukan nanMU

sudah menghilang ku kan ku

meski tak 1 cahaya termenangkan

bersyukur patut ku

masih ku meletak di tangga ini.

pada latar tingkat 0

antara surgaMU dan nerakaMU

patut bersyukur ku,

meski titikku dekat ke MalikMU

andai bukan nanMU

tiada bertahan ku mampu

pun tak tahu malu

andai terijinkan,

ingin ku menjauh api ini. aku sayang aku.

wahai……. itu bisaku cuma. cinta aku aku

wahai……. ijinkan ku menjauh api ini

Kulon Progo, June 4 2007



SMS DARI PEMBACA

”Mlm LA, da acr pertmuan gak? Klo ad mu ikut gabung. Penggemar LA ”

(Tanty M2W 085292843XXX)

”Selamat dan sukses buat LA. Di HUT yang ke-3”

(Nur Widodo - 081328005XXX)



BIODATA PENULIS LONTAR

EDISI 20/Th. III/2009

Alfanuha Yushida, entah kapan Bapak satu ini menyelesaikan studi pasca-Sarjananya di Bandung. Yang jelas, kawan-kawan LA selalu terhibur dengan ulah jenakanya. Asli Bendungan Wates.

Asti Widakdo, santri di sebuah pondok pesantren di Bantul yang nyambi mahasiswa. Dia sesekali terlihat masih beredar di seputaran Kulonprogo. Mencari-cari ilham untuk puisi-puisinya.

Deffnau, cerpenis yang ini adalah seorang ibu satu anak--perempuan. Rajin menemani putrinya yang masih duduk di Taman Kanak-Kanak untuk menggambar. Hasilnya? Gambar karya putrinya itu sempat dimuat di Kedaulatan Rakyat. Meski begitu ia menjadi jarang berkonsentrasi untuk menulis cerpen. Tinggal di Wates.

dmeileni. w PB, penyair yang ini baru sekali mengirimkan karyanya ke redaksi. Tanpa biodata lagi. Tapi nama PB yang disandang di belakangnya ditengarai bahwa ia aktif di sanggar seni Padhang mBulan.

Fathin Chamama, penyair yang ini semenjak ditugaskan sebagai aparatur negara di ibukota-nya Indonesia, jarang kumpul bareng di kegiatan rutin LA. Semoga Jakarta tidak mengurungnya dari kegiatan berpuisi.

Itul, nama panggilan dari Maftukhatul Khoiriyah. Anggota redaksi LONTAR ini masih malang-melintang antara Kulonprogo-Jogja, demi tugas hidup yang diembannya. Meski begitu dia selalu mengeluh karena tak bisa bikin puisi. Tinggal di Tirtorahayu Galur.

Nichi, alumni MAN Wates 2 KP. Bisa dibilang gadis satu ini rajin mengirim karya ke redaksi LONTAR. Tapi kok belum pernah nongol di acaranya LA ya?


KATA-KATA MUTIARA

"Membaca buku memang tidak membuat kita jadi selalu benar, tetapi setidaknya buku dapat membantu kita untuk mengakui bahwa kita tidak selalu benar. Membaca buku tidak menjamin kita menjadi sukses, tetapi setidaknya kita tahu bagaimana jalan untuk sukses"

(Garin Nugroho, dalam katalog sebuah pameran buku)

Tuesday, August 26, 2008

LONTAR 19

BILIK REDAKSI

Salam Sastra!
Mulai hari-hari ini dan hampir setahun ke depan, kita akan dihadapkan kembali pada hingar-bingar musim kampanye, mobilisasi massa demi menuju PEMILU 2009. Kita semua barangkali masih akan menduga-duga, euphoria ini mampukah mengalahkan euphoria bulan lalu ketika masyarakat negeri ini bersorai dan gempita menonton Piala Eropa. Kampanye adalah sebuah musim, yang satu saat pasti akan berlalu. Kampanye adalah bagian sah dari sebuah pesta demokrasi. Akan tetapi, semua tersebut itu hanyalah tataran idealnya saja. Berapa PEMILU kita telah ikuti, kondisi bangsa tidak semakin membaik, bukan? Apanya, di mananya yang salah? Seolah-olahkah kalimat ini tendensius mengkambinghitamkan PEMILU? Rasanya tidak. Kami hanya enggan berpikir terlalu rumit dan jauh. Maka kami sendiri merasa harus kembali membuat ”bayangan”. Sebuah komunitas yang dibayangkan bernama Indonesia lebih baik, syukur-syukur yang maju. Bolehlah sedikit nasionalis. Ah....
Selamat Membaca...


BYAR
Kethoprak
( Utik TW )

Ajakan nonton kethoprak. Itulah SMS terakhir yang kuterima darimu. Sebelum kau berpulang pada sebuah pagi yang tak lagi dingin. Matahari, di pagi itu, telah senyum begitu lebar. Ah, bahkan tertawa. Ya, seperti tawamu yang amat lepas: ketika kita sedang tadarus puisi, menyiapkanTBM atau menggarap laporan PMK yang tak kunjung rampung. Dan di jalan Deandeles itu agaknya kau juga tertawa meski dalam dekapan malaikat--, tawa yang terakhir.
Dan bukankah kethoprak (setidaknya dalam perspektif modern) mengajak kita tertawa? Mungkin memang bukan yang utama. Tapi, dalam konotasi tertentu, tawa dalam istilah kethoprak tidak bisa sekedar disebut bumbu. Simak misalnya dalam ungkapan: “Wah, malah kethoprak-an” atau “Jangan sok kethoprak-an, ah”. Ungkapan tersebut sering diartikan: jangan membuat lelucon. Akhirnya, pada tafsir kontemporer, acapkali seni kethoprak direduksi sekedar (pentas) lelucon.

Padahal, pada awal kemunculannya, kethoprak bukanlah berisi cerita yang cuma mengajak kita tertawa. Konon, sejarah kethoprak yang bergulir tahun 1887 dengan jenis kethoprak lesung, dimulai dengan mengusung tema-tema “serius”: babad, legenda, dan adaptasi karya pujangga ternama semacam Pangeran Hamlet karya Shakespeare. Tapi, dalam perkembangannya kethoprak diidentikkan pentas yang mengusung lelucon. Muncullah kethoprak plesetan dan kethoprak humor.

Hal ini agaknya karena kehidupan yang kian pragmatis dan gersang. Dalam pragmatisme hidup, mengusung keseriusan ibarat berteriak ditengah gemuruh gelombang. Dan di dunia yang telah gersang, sesuatu yang serius acapkali membuat kram otak. Sebaliknya, lelucon/humor menjadi segelas es pelepas dahaga. Lalu dengan ditunjang perkembangan audio visual, pentas kethoprak meraih booming. Tapi, kejemuan memang gejala alamiah. Publik pun bosan. Masyarakat muak. Kethoprak tak lagi lucu. Sebab kehidupan nyata itu sendiri yang kemudian menjelma lelucon. Dan, dalam konteks ini, Utik tak salah: menyikapi dunia yang letih dengan tawa yang lepas.
Ah, Utik. Mungkin teman-teman lebih mengenangmu sebagai aktivis yang tak jenak diam (mobilitas telah identik dengan dirimu) atau kedua tahi lalat di pipimu. Namun ijinkan aku selalu terkenang dengan tawamu. Seperti di sore itu, memang ada isak dan air mata mengiringi jenazahmu tapi selanjutnya yang terngiang adalah tawamu. Tawamu yang khas. Mengingatkanku pada pepatah Yahudi: saat manusia berpikir, Tuhan tertawa.***

MARWANTO (www.markbyar.blogspot.com)

RALAT:
Pada LONTAR 18 tertulis “Utik” Tri Wahyuni meninggal pada 8 Mei 2008. Yang betul adalah meninggal pada 8 Juni 2008. Dengan ini kesalahan telah dibetulkan. Redaksi mohon maaf atas kesalahan penulisan tersebut.


ADA APA DENGAN LA

LA Bedah ”Sang Musafir” di Sanggar Singlon
Setelah sekian lama absen dari agenda rutin bulanan LA, Sabtu 28 Juni '08 di Sanggar Singlon Pengasih, komunitas Lumbung Aksara (LA) kembali mengadakan kegiatan bedah buku. Di panggung terbuka yang mirip pendopo berukuran 5 X 10 m, kerabat LA disodori ”Sang Musafir” sebagai menu utama.
Novel Sang Musafir besutan Mohamad Sobary ini begitu detil dikupas oleh Burhanul Fahruda selaku pembedah buku ini. ”Adalah bahasa 'kebebasan' yang menjadi muara perjalanan hidup seseorang” begitu tandasnya usai menceritakan isi novel tersebut. Meski hanya beberapa yang hadir, suasana menjadi hangat karena dimoderatori oleh A. Soendari. Acara ini kemudian ditutup dengan Tadarus Puisi dan lounching LONTAR edisi 17. (Izur EA)

”Panji Koming” di Alun-Alun Wates
Alun-alun Wates kedatangan Panji Koming. Sosok dalam cerita kartun Kompas itu telah menyatroni masyarakat Kulon Progo lewat pementasan teater yang digelar di panggung terbuka Alun-alun Wates, oleh Komunitas Trotoar, Sabtu, 5 Juli 2008,19:30 WIB. Komunitas Trotoar menampilkan teater sebagai bentuk respon terhadap program Dinas Pariwisata dan Budaya Kulon Progo yang memberi kesempatan unjuk gigi pada beberapa komunitas di Kulon Progo. Lewat sosok yang merakyat, konyol, namun cerdas itu Komunitas Trotoar mampu memotret kehidupan masyarakat Indonesia yang penuh dengan trik kasus suap dan sedang terombang-ambing ini.
Sebagai rakyat kecil, Panji koming memiliki impian besar bagi dirinya dan negerinya. Upaya mengadu nasib sebagai orang penting dalam kerajaan mengalami banyak aksi sikut menyikut; mulai dari kasus suap, sogok-menyogok, sampai akhirnya pemberontakan. Alhasil, hukuman mati pun harus ditanggungnya. Beruntung, Pailul mampu menyelamatkannya.
Pentas teater garapan Joko Mursito berdurasi kurang lebih selama 2 jam itu mengolaborasikan gamelan dan beberapa alat musik modern lainnya. Pertunjukan pun menjadi lebih menyatu dengan budaya lokal dan masyarakat setempat. Tampak beberapa pejabat dinas KP, perwakilan dari komunitas LA dan beberapa komunitas lainnya, serta masyarakat setempat menonton dalam suasana yang bergairah. (Osephe)

Bimtek Perpusda DIY
Penuhi undangan Perpusda DIY, senin 30 juni 3 juli 2008 LA mengirimkan wakilnya, The Pukon, untuk mengikuti Bimbingan Teknis Perpustakaan Desa, di gedung pusat Badan Perpustakaan DIY, Jl. Tentara Rakyat Mataram no. 4 Yogyakarta.
Bimbingan yang melibatkan kurang lebih 40 pengelola perpustakaan kecil yang tersebar di seluruh pelosok desa di DIY tersebut mengusung tema peningkatan SDM melalui pendekatan perpustakaan. Dalam pengantarnya, Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan DIY, Drs. Tulus Widodo menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi pendidikan kita. Dengan bimbingan teknis ini diharapkan perpustakaan-perpustakaan yang berada di desa semakin meningkat baik jumlahnya maupun kualitasnya. Materi yang disampaikan pun cukup menjawab persoalan-persoalan kecil para pustakawan desa selama ini, yaitu pelayanan, klasifikasi, katalogisasi, dan pelestarian perpustakaan. Dengan dinamika tanya jawab dan praktek, bimbingan yang berlangsung selama 4 hari tersebut diikuti secara antusias oleh para peserta. Pihak perpustakaan daerah mengerahkan tak kurang dari 5 stafnya untuk menjadi pembicara, antara lain: Drs. Heru Purwanto sebagai pengampu katalogisasi, Rini Handayani, Msi. sebagai pengampu klasifikasi, Drs. Iskak Budi L sebagai pengampu pelayanan, Petrus Wihardo sebagai pengampu pelestarian, dan beberapa staf lain yang membantu secara teknis. Acara ditutup dengan upacara kecil dan pembagian buku kenangan.
Setelah penuh dengan bekal pengelolaan perpustakaan, para peserta akhirnya pulang dengan PR-nya masing-masing. Di LA sendiri, rencananya akan mengerahkan personilnya untuk merealisasikan bimbingan teknis ini. Mudah-mudahan! (Osephe)


CERPEN

Anak Laki-Laki di Teras Rumah
Dua Belas Tahun yang Lalu

Cerpen Fafa

Mungkin dia bukan siapa-siapa kami. Aku bahkan tak mengenalnya hingga suatu sore ia berdiri di teras rumah, mengepit tas kain kumal, bercelana pendek dan kaos oblong yang sudah mulur. Kakinya polos tanpa alas. Waktu itu aku yang teringat film-film dengan adegan seorang ibu berpesan kepada anaknya ; don't talk to stranger, langsung berlari ke dalam rumah, menjumpai kedua orang tuaku. Mereka keluar, dengan aku membuntut memegangi rok ibuku. Anak kecil itu berdiri menggigil sebab gerimis tiba-tiba bertambah deras. Rambutnya yang masai menutupi sebagian wajahnya. Ayah membimbingnya masuk. Ibuku mengeluarkan serentet pertanyaan seperti muntahan peluru di serial Combat sambil menepiskan peganganku pada roknya.
Sekarang sudah duabelas tahun berselang. Anak itu tumbuh bersama-sama denganku. Ibuku sudah enggan lagi bertanya siapa gerangan dia sebab ayahku akan selalu bilang; dia tak penting. Ibuku sudah tak bertanya-tanya lagi akhirnya. Tapi rupanya keingintahuan seorang perempuan melebihi apapun. Rasa ingin tahu ibu bertahan melewati tahun sampai aku tumbuh dewasa dan anak laki-laki asing itu juga. Apakah ia anak ayah dengan perempuan lain?
Suatu hari ibuku berkata.
"Ibu tak membenci siapapun, apalagi hanya anak kecil kumal yang tiba-tiba datang di tengah gerimis."
Aku diam saja tapi menemukan kelelahan sarat di mata ibuku. Setelah itu ia mengiris kubis sambil menangis.
Anak laki-laki itu tumbuh baik. Ia rajin membantu ayahku di ladang pantai kami. Ia betah menyiangi rumput liar di antara tanaman cabe merah, terbakar matahari. Jika musim bertanam melon, ia akan terlibat dari penanaman benih hingga mengangkut melon-melon matang ke bak pick-up. Kulitnya semakin hari semakin legam tapi ia jauh lebih bersih daripada ketika pertama kali datang ke rumah kami.
Suatu hari yang lembab seperti saat pertama kali dia datang, aku dan anak laki-laki itu bercakap-cakap.
"Ibu selalu sedih karena aku?'
" Barangkali jika kau mau beritahu siapa kau...."
"Kau tahu, aku bisa membaca apa yang akan terjadi besok. Maka biarkan apa yang tak diketahui tetap begitu adanya."
Aku tertawa. Zaman sudah sangat maju, meski kami hidup di desa aku sudah tak percaya lagi dengan hal-hal berbau mistis dan supranatural. Aku lebih percaya pada internet. Maka kubiarkan dia menunggu gelakku habis.
"Kau tak percaya kan? Tapi ayah dan aku percaya."
Sejak hari itu, dia berusaha membuatku percaya bahwa ia bisa membaca masa depan. Ke kamarnya yang penuh dengan gambar konstelasi zodiak anak laki-laki itu sering menuntunku masuk. Di dalam ia akan mencoret-coret menunjukkan gambaran di pikirannya tentang ayam-ayam ayah, berapa bertelur minggu ini, berapa ton hasil ladang cabe, dan ikan apa saja yang dibawa pulang nelayan di pantai dekat ladang kami. Suatu kali ia tak mencoret-coret tapi menatapku dalam-dalam.
"Apa-apaan sih?"
"Ssstt. Aku sedang membaca masa depanmu."
"Ah, katakan saja padaku apa soal ujian besok daripada kau baca masa depanku. Itu lebih penting buatku." Aku tergelak dan dia melotot.
Ibuku, menangkap kelebatan anak laki-laki itu menuntun aku masuk ke kamarnya suatu sore.
"Kau tak tahu siapa dia."
Ibuku mengiris kubis keras-keras, hingga aku khawatir jika meleset dan mengenai tangannya tanpa sadar seperti perempuan-perempuan di perjamuan Zulaikha.
"Aku hanya bercakap-cakap. Katanya ia bisa membaca masa depan."
Ibuku makin keras mengiris kubis. Aku merasa bersalah.
Anak laki-laki itu telah membawa warna yang lain ke rumah kami. Aku merasakan kegembiraan seorang ayah memiliki anak laki-laki yang bisa diajaknya mengerjakan ladang. Aku tak mungkin membantunya sebab sedikit saja kulitku terkena rumput maka gatal-gatal seluruh badan dan ibuku sambil berkeluh akan membedaki ruam-ruam di kulitku. Tapi di dalam rumah ada bara yang juga siap meledak. Aku masih ingat muntahan pertanyaan seperti rentet peluru di serial Combat itu, dan setelah bertahun-tahun ini, masih banyak ranjau tertanam yang siap meledak. Ayahku tak pernah berkata apa-apa tentang anak laki-laki itu.
Dan pada sebuah subuh, aku masih meringkuk di bawah selimut setelah terlambat tidur sebab harus mengetik berlembar-lembar laporan praktikumku, terdengar gaduh di ruang tengah. Aku beranjak melawan dingin sebab suara itu membuatku tak bisa lagi memejamkan mata. Daun pintu perlahan kubuka sedikit, berusaha tak menimbulkan derit. Cahaya lampu panjeran di ruang tengah yang redup tak menghalangiku melihat apa terjadi. Anak laki-laki itu berdiri di tengah ruangan, membelakangi televisi yang tak menyala. Ayahku duduk dan ibuku berdiri di tentang pintu antara ruang tengah dan dapur. Dan, seorang lelaki tak kukenal berdiri membelakangi pintu kamarku hingga tak kulihat wajahnya.
"Sudah saatnya ia menjadi hakku."
"Lalu bagaimana dengan janjimu?"
" Bagaimana bisa waktu dua belas tahun tak kau gunakan dengan benar?"
Ibuku menatap mereka silih berganti.
"Janji apa yang kau tunggu sebab anak laki-laki ini?!"
Lelaki asing itu memandang ibuku. Aku melihat ibuku yang meradang seolah tunduk di bawah tatapan laki-laki itu. Ayahku seperti hendak menjelaskan sesuatu tapi hanya terkunci di mulutnya. Aku melihat ruang tengah terbalut suasana mistis. Bukankah aku tak percaya pada hal-hal semacam ini? Tapi tak bisa kucegah tiba-tiba aku merinding.
Lelaki tak kukenal itu memanggil si anak laki-laki dengan isyarat tangan. Anak laki-laki itu mendekat. Mereka kemudian pergi tak berkata-kata. Ibuku beku di tentang pintu dan ayahku duduk terpaku. Aku menutup pintu. Tak tahu apa yang kupikirkan.
Tak ada yang berubah esok harinya, kecuali ibu yang semakin riang, suara irisan kubisnya terdengar merdu, dan ayah yang terlihat lebih murung. Anak laki-laki yang dua belas tahun lalu berdiri di teras kami itu, aku tak pernah tahu siapa.
***



GEGURITAN

CANDRA KALIMASADA
Dening Redjo

Kapan anggonmu teka kang...
Datan kaweruh dumadimu kadiparan
Apa bebarengan kelawan untang
Tekamu pindha tathit tanpa udan

Ngancik ing wewengkon iki
Suwara-suwara kuwi tansah hangandhani
Marang sak kabehing guru suci
Rumesep pangeran luhur mring gusti

Tekamu samar ndak sawang
Ananging sewu werdi kang ndak gawang
Prasasat nemu ing sak jroning pralambang
Ya ing sak tumekaning ati sing kapang

Kudune aku lumaku ing kana kae
Ngancik lad-ladan kancane dhewe
Nggayuh ayang-ayang sing dadi sesawangane
Lan marang kabeh wae kang wis rinonce

Kudune aku tumandang cipta
Ngampiri kabeh sing padha tandang karya
Bisa gawe gumyak senajan mung sedela
Nyirnakna bebendu kang bakal mbalela

Ananging kang...mung digawe bubrah
Bubar-bubar sumebar tanpa wadhah
Apa kudu ana bebanten maneh
Nggendong kamulyan tanpa jiwa sareh?

Apa bakal ketemu maneh
Oncating dubita bisa gumuyu ngekeh..

Kang.. apa jagade wis padhang
Banjur anapaki ara-ara sinebrang
Manekung amrih rahayu sing digadhang
Bisa nggulung murka ati sing kemramang abang

120205



PUISI-PUISI

Kau Yang Tak Pernah Menemukan Namaku
Oleh : Chyto

Di jembatan pertemuan kau tanyakan nama
Yang tak terdapati
Dalam deretan huruf dan angka
Sungai sungai yang tak hendak berhenti sebelum ceruk menggenangkanmu
Sebegitu waktu
Menenggelamkan apaapa
atau menyatu di antara matahari yang terluka

Sayang engkau lupa mencatat sejarah yang kutitipi sebagian diriku
Untuk menggenapkan perkenalan

Andai arah angin bisa kau putar mungkin
Dapat kau ambil serpihanku yang telah mendebu
Disembunyikan waktu entah ke mana
Dan kau dapatiku belum punya nama

Andai cahaya mampu mengantarmu
Di kegelapan. Kau boleh punguti namaku
Tercecer di Jogja antara perjalanan kita ke Surabaya
Terlalu lelah buku harianmu mengeja
Tak yakin kapan saat kau tiba
Aku mungkin telah berada di Jakarta

Akhirnya kita tak pernah bertemu
Kecuali diriku tubuh tanpa nama

Mungkin sebaiknya kita mendekam di rahim yang sama
Setetes darah kita nikmati berdua

Lumbung Aksara, 21Jan08


DARI BALIK KACAMATA
: perempuan-perempuan lumbung aksara

Oleh : Imam Wahyudi

Dari balik kacamata yang tenang. Aku selalu saja terkesima.
Pada mereka yang masih setia menanti. Kekasih yang
tiada pernah berkabar. Datang dan pergi.
Tak bisa diduga dan dimengerti

Lihatlah. Perempuan-perempuan itu duduk melamun di muka
jendela sepanjang hari. Bersama sepi yang bernyayi.
Ditemani secangkir kopi yang mulai basi. Dan pohon sawo
di samping rumah yang mulai renta.
Sebentar lalu rintik hujan turun menetes satu-satu di teritisan.
Seolah menaksir rindu yang menahun.

“Oh...kekasih datanglah ?! Aku menantimu.
Aku menunggumu...”

Perlahan semilir angin berhembus pelan. Tak dinyana
menerbangkan para kekasih ke hadapan. Berloncatan.
Mereka menghambur ke pelataran.
Menyambut kata-kata yang berjumpalitan.
Menangkapnya dengan rindu yang makin meradang.
Makin sayang

Konon kemudian orang-orang ramai bercerita. Tentang
perempuan-perempuan yang bahu membahu membuat
rumah inspirasi bagi kata-kata. Berkembang semakin besar
Makin berkibar. Menjadi lumbung kata-kata.

Sementara disini, dari balik kacamata yang gamang.
Aku makin terkesima. Melihat mereka tiada lelah bercumbu
dengan kata-kata sepanjang malam....

Kulon Progo, Mei 2008


Sajak Buat Laut Kita
Oleh : Nurul Lathiffah

hujan ini, tetes pertama
seteleh kau susur Yogya-Surakarta
di perjamuan ini, wangi mawar, kau susun di dekat
:perapian
lalu kita eja jarak yang panjang
rindu yang mengejar pertemuan
menitiskan selaut keharuan
menyesak.
mendesak.
menggelorakan.
Laut kita yang semula mati.sepi. hening. Kering.


Jangan Menelponku Malam Ini
Oleh : Akhiriyati Sundari

Jangan menelponku malam ini
Sebab sinyal telah hilang di tikungan gedung dewan
Akan sia-sia kau jelajahi sunyi
Seperti pernah kau puja
Dan kau tulis dalam altar ruang senyapmu

Jangan menelponku malam ini
Sebab rembulan tak lagi luruh
Melewati kelokan hatimu yang menyepuh
Lipatan demi lipatan sepenuh sungguh

Jangan menelponku malam ini
Sebab tak lagi ada rinai air
yang menghanyutkan sepi kembara
langkah yang tak terbaca
menyudut di titian

Jangan menelponku malam ini
Kecuali kau kabarkan
BBM batal naik detik ini
Ah,
Sketsahati, 23 Mei '08


NASIYEM
Oleh : Lathif

Apa kabarmu Nasiyem?
kemarin kau mempesonaku
bahkan karenamu
aku hampir menduakan Tuhanku
kau datang dalam mimpiku
dalam sadarku
dalam i'tikafku
bahkan dalam shalatku

Apa kabarmu Nasiyem?
Ada apa dengan perutmu?
Aku kan sudah bilang
jangan buka jendela malam-malam
karena angin malam tak baik untukmu

Apa kabarmu Nasiyem?
Parfummu menyelinap di sela-sela nafasku
Kenapa kini berbau comberan?
Ohh ... betapa sayang
Bidadariku terpuruk di tempat sampah

Kauman, 30 September 2007


Aku Jalan Tengah Malam
Oleh : Firdaus Asykar

Aku jalan tengah malam
Ada yang berjajar jajakan diri
Bukan, bukan lelaki
Perempuan, seksi
Di sekitaran Pangsud
Hingga dini hari

Aku jalan tengah malam
Dari gedung anggota dewan kota
Kekanan susuri tepian Kalimas
Bersandar pada pagar di trotoar
Lelaki gagah dengan press-body T-shirt
Kadang sendiri-berdua-bertiga

Aku jalan tengah malam
Kembang kuning, Diponegoro
Remang kuburan Cina
Jadi tempat sukasuka
Bukan laki juga wanita
Waria saja, waria saja

Aku jalan tengah malam
Dari simpang lima Pasar Burung
Naik
Berderet etalase, penuh sofa
Ditawarkan lelaki bersafari
Beberapa pakai Batik,
Ini katanya yang paling gede se-Asia Tenggara
Komplit dari yang
Hampir remaja sampai setengah baya
Yang langsing sampai segembrot tebing

Aku jalan tengah malam
Aku jalang tengah malam
Jalan Surabaya tengah malam
Jalang Surabaya tengah malam

(2008)


BACA BUKU

Apa Ya?*

Judul buku : Sang Musafir
Penulis : Mohamad Sobary
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Agustus 2007
Tebal : 272 halaman

Pertanyaan ini akan selalu ada kapan saja. Tidak akan berhenti. Memusingkan. Dan sulit atau tidak sulit untuk kita jawab.
Berjalan. Ada tembok. Kita hadapi. Kita ambrolkan. Kita lalui. Kita lega...ada lagi. Kita lakukan hal yang sama dan kita ulangi berkali-kali danterus-menerus.
Mungkin ini sekilas pribadi sang musafir.
Banyak hal yang bisa kita dapatkan dari Sang Musafir, kalau saja ini terjadi dalam diri kita sendiri atau kita jalani, segala apa yang ada dan kita hadapi adalah sekian banyak mutiara hidup penuh sensasi. Betapa tidak, musafir kehidupan berjalan tiada henti dari waktu ke waktu, dia adalah petualang yang mendapatkan apa yang ia cari dan apa yang belum ia dapatkan.
Bahasa yang sederhana dan mudah dipahami menjadikan novel Mohamad Sobary ini enak untuk dibaca, dimengerti artinya, dipahami isinya dan banyak lagi. Perjalanan setiap judul membawa kita pada persoalan hidup dan kehidupan. Perjalanan musafir menjadikan orang tidak boleh berhenti, menjadikan orang harus berjuang untuk hidup, bercengkerama dengan kehidupan, menghadapi benteng yang ia ciptakan dan tercipta.
Kebebasan, mungkin ini inti setiap kehidupan, mungkin ini yang sekian lama manusia mencari, mengejar dan bahkan demi kebebasan itu, ia rela memenjarakan orang lain, ia rela membunuh orang lain.
Betapa tidak. Kebebasan seorang yang sudah ia dapat, ia harus terbelenggu dengan sebuah sistem birokrasi yang penuh aturan, penuh kepentingan pribadi, kelompok bukan lagi demi kepentingan bangsa. Ini sungguh penyiksaan yang harus dialami orang yang akan masuk ataupun yang dipaksa masuk dalam sistem itu, seperti dalam judul empat. Keterbelengguan seorang pada birokrasi menjadikan ia harus beradaptasi dengan hal yang baru dan berlainan, walaupun tidak selamanya kita akan merasakan kebebasan itu selamanya, ewuh-pekewuh itu kadang juga harus muncul pada setiap diri.
Atau kita bayangkan Muhammad sang nabi. Status musafir dia jalani selama 23 tahun di Madinah, ketika Makah kebebasannya dirampas oleh musuh-musuhnya, kesimpulan yang terbaik adalah hijrah. Memusafirkan kelompoknya yang setuju dengan ide-idenya, keluar dari Makah. Mereka diterima kelompok Ansor, bersatu, membangun, berstrategi untuk mendapatkan hak setiap manusia atas nama kebebasan. Sungguh luar biasa.
Saya tidak mengomentari isi buku Sang Musafir. Terlalu wagu untuk melakukan itu, tapi sebagai pengagum pengarangnya, saya sangat banyak mendapatkan seluk-beluk kehidupan pribadinya ketika harus berbagi untuk dirinya, keluarganya, dan bahkan untuk manusia pada sekitarnya yang terlihat ataupun yang jauh. Bagaimana perjuangan kehidupan ia lakukan demi kebahagiaan bersama.
Demikian saja yang bisa saya tuliskan, masih banyak sisi lain dan terlalu banyak yang tidak kita tahu.

(* adalah kesan dari pembacaan ”Sang Musafir” oleh Burhanul Fahruda, pegiat AB Giripeni Wates)



SMS PEMBACA

”Halo Lontar..sy penggemarmu d Jkrta..usul blh kan...kgiatan LA dtayangin d situs Lontar dong. Mksie..B-) ”
(Fathin 085643011XXX)

”Mo nanya neeh, LONTAR, q toe suka nulis2, bikin puisi, cerpen, b-leh gak q salurin hobi q ke LONTAR and gimana caranya?”
(Arif, Margosari 081802645XXX)


BIODATA PENULIS LONTAR

Akhiriyati Sundari, masih aktif mengurusi keredaksian LONTAR sehari-hari. Berdiam di Blok 2 Ngestiharjo Wates. Sketsa-sketsa gumamannya bisa dibaca di blog pribadinya: www.sketsajagad.blogspot.com

Chyto, alumni PAI UIN Sunan Kalijaga. Memiliki PD yang tinggi hingga berani menyanyikan lagu SATU Dewa 19 saat ujian pendadaran skripsinya di hadapan sidang dewan penguji. Puisinya pernah dimuat di koran Seputar Indonesia.

Fafa, pemilik nama lengkap Fajar R. Ayuningtyas ini sekarang sibuk bekerja di sebuah mini market di daerah Wates. Masih suka berpuisi dan menulis apa saja di www.selepas-lautan.blogspot.com. Tinggal di Ngulakan Hargorejo Kokap.

Firdaus Asykar, lelaki asli Ngawi Jawa Timur yang mengaku berusia 27 tahun ini aktif di Teater Kusuma Surabaya sejak tahun 2001 dan telah menerbitkan buku kumpulan cerpen tunggalnya Aku Mengumpat Setiap Hari (2008). Beberapa puisinya terdokumentasi di www.surgadaim.blogspot.com.

Imam Wahyudi, suka menamai diri sendiri dengan sebutan ”Mbah Im”. Mengaku masih terus sabar mencari inspirasi walau karya-karyanya tak pernah membumbung tinggi. Puisi-puisinya bersemayam dengan damai di pondok mayanya www.ilalang-berbisik.blogspot.com.
Lathif, staf pengajar MTs Ma'arif Dondong Wates. Tinggal di Kauman Bendungan.

Nurul Lathifah, sekarang telah berstatus alumni SMA N 1 Lendah dan meneruskan belajar di Fakultas Psikologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Lahir di Kulonprogo, 21 September 1989. Karya-karyanya pernah dimuat di Horison, buletin Coret dan SKH Kedaulatan Rakyat.Tinggal di Dusun 3 Rt.12/05 Brosot Galur.

Redjo, memiliki nama asli Wahid. Memiliki nama pena yang puitis ”Pujangga Rimba”. Aktif nimbrung berkesenian di komunitas Padhang mBulan. Tinggal di Wates, sesekali di Panjatan atau sebaliknya.


KATA-KATA MUTIARA
“Kebebasan berarti tanggung jawab, itulah sebabnya, mengapa kebanyakan orang takut kepadanya” (George Bernard Shaw).

Thursday, July 31, 2008

LONTAR 18

BILIK REDAKSI

Salam Sastra!
Pecinta LONTAR yang budiman, akhirya BBM betul-betul dinaikkan. Kami merasakan negeri ini kian menggelinding kolaps saja menghadapi hidup yang kian tergerus. Dan, hari-hari ini kami seperti bergulat dengan angka-angka, harga-harga, dan aneka amuk massa yang memilukan hati siapa saja yang hatinya masih menyala. Kekerasan atas nama ”berebut benar” sungguh mencolok mata dan menerjang manusia-manusia negeri ini ke dasar jurang dehumanisasi besar-besaran. Sejauh itu, pihak yang seharusnya bertanggung jawab mengayomi dan memberi rasa aman bagi semua pihak, bahkan dijamin konstitusi, malah sampai hati membiarkan semuanya terjadi. Akankah negeri ini berbalik arah menerapkan hukum rimba di mana ”asu gede menang kerahe?” Apa kata dunia?
Selamat Membaca...


BYAR

Pamflet

Tiga bulan lalu saya mendapat kiriman 2 eksemplar Inilah Pamflet Itu. Buku antologi puisi tersebut di-pos-kan oleh Hersri Setiawan dari salah satu sudut kota Jakarta. Memang sejak digelar Temu Sastra Tiga Kota (Yogyakarta, Kulonprogo, Purworejo) di Wates pada Januari lalu dimana ia tak bisa menghadiri, saya dan Pak Hersri berulangkali berniat jumpa darat. Namun selalu gagal. Mungkin, untuk sementara, hadirnya buku tersebut menjadi pengganti pertemuan kami.

Tapi mengapa Hersri memilih judul Pamflet? Dua ratus tiga puluh dua tahun lampau Thomas Paine menerbitkan Common Sense --dengan tebal 47 halaman, hemat saya, ia adalah “pamflet dalam arti yang sebenarnya”. Sebab pamflet adalah membakar. Dan tak ada buku dalam sejarah kesusastraan yang mempunyai pengaruh begitu cepat seperti Common Sense. Buku ini bagai sangkakala memanggil kolonis Amerika untuk bangkit memperjuangkan kemerdekaan mereka tanpa kompromi dan tiada sangsi”, demikian tulis Robert B Down dalam Books That Change The World.

Dan, memang, Inilah Pamflet Itu bukanlah Common Sense. Tapi, dalam salah satu sajaknya, kita bisa menemui semangat yang membakar. Coba simak bait akhir dalam “Suara Jalanan”: hidup//merebut kemerdekaan, hidup//merebut kemanusiaan. Sebuah ungkapan lugas nan sederhana. Tapi, agaknya, ada magma yang (tak henti-hentinya) hendak dimuntahkan --oleh seorang tua berambut perak yang senantiasa berjiwa muda, yang pernah merasakan betapa kejamnya kekuasaan yang tercerabut dari cinta.

Ya, meski gema muntahan itu tak sedahsyat goresan Paine. Apalagi di tengah masyarakat ramai bangsa ini yang notabene telah bebal terhadap bisikan hakiki kemanusiaan. Pada bangsa yang terdiri dari tatal-tatal, anasir di dalamnya justru amat peka terhadap hal yang berbau remeh temeh. Aliran, Klik, komunitas, golongan, dan segala bentuk pengkotakan lainnya bagaikan bom bersumbu pendek.. Alhasil, organisasi semacam FPI tak butuh lagi selembar pamflet. Sebab “ia adalah pamflet itu sendiri”.

Di sini, masihkah hidup//merebut kemerdekaan, hidup//merebut kemanusiaan mampu bergema? Saya ragu. Tapi, saya yakin masih ada yang sudi bersuara …..
MARWANTO (http://www.markbyar.blogspot.com/)


ADA APA DENGAN LA

Kangen-kangenan dengan Sangsisaku
Minggu, 25 April 2008 beberapa awak Lumbung Aksara mengadakan pertemuan dengan Sangsisaku yang diwakili oleh Nur Widodo. Kali ini mengambil tempat di Pantai Glagah Indah. Tidak banyak yang dilakukan selain kangen-kangenan sesama komunitas sastra, tetapi suasana di sekitar tempat acara membuat pertemuan menjadi semakin berkesan. Semilir angin pantai merasuk sampai ke tulang, tetapi "bagus untuk terapi", begitu kata Ndari. Perbincangan sempat dihentikan sebentar untuk mencari tempat yang lebih kondusif karena dingin angin laut makin kuat menembus celah baju dan menerbangkan kertas-kertas dokumen.

Laksana pasukan Densus 88 mereka menyisir jalan dan kebun di sekitar pantai. Dan disepakatilah sebuah area di tepian muara sungai Serang. Diskusi dilanjutkan dengan cerita Nur Widodo tentang Sangsisaku, sastra, dan mancing. (Lho… nyambung nggak? :Red) “Mancing tidak hanya dapat ikan, tetapi juga memunculkan inspirasi”, begitu katanya. (Oo…o :Red). Kisah-kisahnya menggambarkan dirinya yang memang hobi mancing. Atau dia akan menampilkan genre baru yaitu Sastra Pemancingan? Tunggu saja beberapa tahun ke depan. (Ltf)

LA ikuti gelar Sastra Balik Desa di Semarang
Komunitas Sastra Hysteria yang digawangi Adin, Gema, Bagus, dan beberapa mahasiswa UNDIP Semarang menggelar acara bertajuk Sastra Balik Desa yang dirangkaikan dengan Temu Penyair Tujuh Kota di Dusun Gebyok Patemon Gunung Pati Semarang, 16-18 Mei 08. Perwakilan dari LA dua orang; Siti Masitoh dan Akhiriyati Sundari. Rangkaian acara yang berseling pementasan budaya warga, diskusi sastra, dan lounching antologi penyair tujuh kota Mencari Rumah betul-betul terasa sebagai geliat ajang saling kian eratnya jaringan komunikasi antarkomunitas sastra yang belakangan marak. Kemasan acara menarik dan terkesan menjadi berbeda karena nuansa pedesaan yang digunakan sebagai latarnya. (Chyto)

Kunjungan dari Solo
Sabtu, 24 Mei 2008, kawan-kawan dari komunitas sastra Meja Bolong Solo (Joxum, Ari Wibowo, Gusmel, Nungky, Gatot, dan Wisanggeni) menyempatkan bertandang untuk menjalin kemesraan dengan denyut sastra di Komunitas Lumbung Aksara (LA) Kulonprogo. LA menyambut hangat kehadiran mereka berenam yang tiba di Gedung PCNU KP sekitar jam tiga sore, untuk kemudian menjamu mereka dengan menu-menu sastra (dari urusan perut sampai obrolan-obrolan sastra) di RM. Padang “DELIMA”. Tak lupa mereka memberi kenang-kenangan untuk LA dengan beberapa eksemplar buletin ALIS edisi pertama terbitan mereka. Obrolan gayeng berlanjut lagi di PCNU, diselingi dengan pembacaan puisi dari kedua komunitas. Harapan LA dan kawan-kawan Solo, acara kunjungan sastra semacam ini diharapkan mampu menjadi ruh bagi kedekatan dan jalinan antar komunitas sastra, dan menjadi tradisi yang terus berlanjut tidak saja bagi LA dan komunitas di Solo, tetapi juga komunitas-komunitas sastra yang lain. Saat Maghrib tiba, kawan-kawan Solo undur diri mengakhiri curhat dan berpamitan untuk melanjutkan kencan mereka di sebuah penerbit di Jogja. Makasih ya atas kunjungannya… (Chyto)

LA on air di RSJ
Selasa, 27 Mei 08, LA diundang RSJ (Radio Swara Jogja) untuk bincang bersama seputar apresiasai sastra dus khususnya membaca sastra di Kulonprogo. Kedatangan LA di RSJ disambut meriah oleh Mbak Asti salah satu penyiar. Tepat pukul 16.00-17.00 LA mendapat kehormatan untuk live (on air) dalam acara program interaktif seni dan budaya. LA di wakili oleh AriZur, Ndari, Menol, dan Hendri. Juga hadir dua kawan dari komunitas Padhang mBulan yang di wakili oleh Wakhid dan Landung. Acara yang berlangsung satu jam itu diisi pula dengan interaktif (tanya jawab) seputar komunitas masing masing dan perkembangan sastra di Kulon Progo, baca puisi, dan geguritan. Acara yang disuguhkan sangat menarik sehingga mengundang para pendengar di rumah untuk bertanya kepada kedua komunitas tersebut. Semoga acara ini bisa menjadi acara rutin untuk RSJ dan tetap jaya di udara, maju terus sastra Indonesia. (Hendri Sulistya)

LA hadir di Lounching Antologi Nur Wahida dan Saut Situmorang
Selasa, 27 Mei 2008, dengan mengambil tempat di Warung Nusantara (Waroeng Koes Ploes) Jalan Bantul Dongkelan, beberapa awak LA menghadiri acara lounching buku puisi (antologi) Mata Air Akar Pohon karya Nur Wahida Idris dan Otobiografi Saut Situmorang karya Saut Situmorang. Buku keduanya merupakan terbitan penerbit SIC Jogja. Tidak ada diskusi atau pembedahan buku dalam acara ini, tetapi dari awal sampai akhir hanya diisi dengan pembacaan puisi. Meski terasa kering karena kemasan acara yang sepi dari backsound, acara ini dihadiri banyak sastrawan nasional dan lokal yang turut membaca puisi antara lain Agus Noor, TS Pinang, Iman Romanshah, Indrian Koto, Sukma, Mahwi Air Tawar, Faisal Kamandobat, dll serta yang menjadikan acara menjadi seru adalah penampilan Sutan Tsabit Kalam Banua (6 tahun). Lelaki kecil yang putera dari penyair Raudal Tanjung Banua dan Nur Wahida Idris sang punya helat acara ini membacakan sendiri puisi-puisinya yang cukup menggelitik, surerealis, dan luar biasa untuk anak-anak seumurannya. Selamat ya… (Ndari AS)

TKP (Teater Kulon Progo) present to “The Kancil”
Sabtu malam, 7 Juni '08, beberapa awak LA dan komunitas Padhang mBulan nonton bareng dan mengapresiasi pentas teater di panggung terbuka alun-alun Wates, yang merupakan rangkaian dari pentas rutin gelaran DisBudPar. Setelah komunitas Sangsisaku, kemudian LA, bulan Juni ini giliran komunitas teater TKP unjuk kebolehan. Mementaskan The Kancil, yang menggelitik dan menyentil, TKP menunjukkan totalitas berteater dan tampil memukau serta menyedot cukup banyak penonton dari kalangan muda. Sudah sewajarnya sebab TKP memang sebuah komunitas teater dan cukup sering mengadakan pementasan. Setidaknya hal ini juga menunjukkan geliat masyarakat Kulon Progo dalam mengapresiasi seni dan sastra. Acara nonton bareng kali ini ditutup dengan minum kopi bareng di angkringan mbak Ika, proliman Karangnongko Wates. (Fafa)


CERPEN

Ketika Kunci Itu Kau Simpan
Cerpen Retno Prihandaru

Pelangi di atas cemara dekat gereja mengingatkan aku padamu yang terakhir kutemui tujuh bulan lalu. Dengan warna yang menumbuhkan bunga lili setelah lama bernaung dalam tandus. Lama tersembunyi di balik semak-semak kering tak seorangpun menjamahnya.

Mencintaimu adalah satu kesalahan besar sepanjang usiaku namun entah mengapa aku begitu menikmatinya. Selama ini aku yang selalu mempedulikan nyanyian-nyanyian kidung, sekarang seolah terbius untuk mendengarkannya lewat alunan yang menggelora menusuk sendi-sendiku. Keberadaanmu di depan jendela kamarku membuatku mencari cara untuk menembus kaca yang terlalu tebal dan kemudian meraihmu untuk merasakan hangat tubuhmu.

Kau berhasil membuatku tertarik untuk bangkit dari rasa engganku menerima segudang cinta dari sosok yang disebut pria. Menolak paradigma bahwa kaum pria adalah buaya darat. Kau begitu sempurna bagiku. Dan kau bukan seperti yang mereka katakan bahwa kaum sepertimu adalah pecinta yang jalang. Memberi segudang iming-iming yang manis membuat para bunga hanyut dalam lautan madu yang disuguhkan.

Entah setelah tujuh bulan berlalu aku masih saja tak bisa mengenyahkan bayangmu yang kini sudah menjadi milik bunga lain. Bukannya aku tak bisa dan tak ingin melupakanmu, namun kau selalu saja tampil mempesona di depan jendela kamarku memenuhi dinding-dinding kamarku serta tak bosan-bosan memperdengarkan nyanyian kidung yang dulu sering kau mainkan untuk mencairkan hati menambah suasana romantis di dekat cemara depan gereja itu. Harusnya aku menampik semua itu, karena kau telah bernyawa dua. Dan aku terperangkap dalam selimut cintamu membuatku malas untuk bangun dari tidur malamku. Kau…..tak henti-hentinya meyakinkanku bahwa kau masih mencintaiku. Mengucapkan puisi karya Sapardi Djoko Damono, itu yang selalu kau katakan sampai aku bosan mendengarkannya namun ngilu juga mendengarnya. Kemana aku harus lari saat aku sakaw mencari candumu. Harus ku tahan rasa ingin merasakan lagi kecup manismu, memberitahuku betapa indahnya memiliki cinta. Merindukan pelangi yang kau kemas dalam sentuhan-sentuhan lembut serta kata-kata romantis.

Dan kemudian setelah tujuh bulan berlalu. Ada seorang pria yang ingin masuk di depan pintu kamarku. Aku belum memberinya kunci, karena kunci yang kumiliki kau bawa dan kau simpan di saku celanamu setiap waktu. Seorang pria itu mencoba berbagai cara agar bisa memasuki kamarku yang saat ini sedang berantakan, berserakan gambar-gambarmu. Layaknya dirimu yang menampakkan diri di depan jendela kamarku melambaikan tangan seolah memberi isyarat agar aku membuka kamar untukmu. Namun aku hanya tersenyum sambil membayangkan wajahmu yang aduhai.

Sampai kemudian aku mulai merasa jenuh dan tersiksa. Tubuhku semakin kerontang saja layaknya bunga di depan kamarku yang tak pernah terkena air hujan. Aku berontak, dan melihat seorang pria yang beberapa bulan ini menampakkan diri di depan kamarku. Aku mulai merasakan kembali hatiku yang tergetar untuk kedua kalinya. Perlahan-lahan bunga di depan kamarku mulai mekar kembali, tak tahu kenapa. Padahal hujan belum kunjung turun.
Dan kemudian aku memberanikan diri untuk meminta kunci kamarku yang selalu kau bawa kemana-mana di saku celanamu ketika kau mengunjungiku. Saat aku meminta, kau tidak memberikanya. Kemudian aku menangis layaknya anak kecil saja yang ingin dibelikan mainan. Kau tetap tidak memberikan kunci itu kepadaku. Aku tak bisa diam seperti ini. Hingga akhirnya aku mencoba merebut kunci yang ada di saku celanamu. Namun aku malah jatuh di pelukanmu dan kembali kenangan-kenangan lamaku teringat kembali. Namun aku tak ingin hanyut dalam nuansa seperti ini lagi. Aku bersyukur masih memiliki akal sehat. Kembali teringat keinginanku dari awal, bahwa aku ingin merebut kunci kamarku kembali untuk memberikannya pada seorang pria yang akhir-akhir ini menghiasi jendela kamarku dan telah merawat bunga-bunga di depan jendela kamarku.

Kau…….akhirnya menyerahkan kunci itu dengan ikhlas dan diakhiri dengan sebuah kecupan yang kini aku merasa hambar dari kecupan itu. Aku hanya bisa mengucap terimakasih. Juga kembali lagi dalam kamarku. Aku tak sabar untuk segera membukakan pintu untuk pangeranku yang baru. Namun begitu terkejutnya aku ketika melihat kau dengan wajah tersenyum mengeluarkan sebuah kunci lagi. Dan ternyata, itu kunci duplikat pintu kamarku.
Akankah kau akan kembali lagi dengan kunci duplikat itu………

***** Tamat *****

GEGURITAN

Kasaput Pedhut
Dening : S. Arni

Ing wayah rina
Surya kang lagya sumunar
Dumadakan ana prahara
Agawe kekesing nala
Datan kuwawa nampa coba

Coba peparinging Hyang Manon
Pepesthen kang kudu kasandhang
Marang sak sapa wae
Kang datan bisa suwala

Apa maneh ngangga wektu
Arep tobat wis tinutup
Apa maneh arep ngeripih

Kabeh mau wis kinudrating pesthen
Yaiku pepesthening urip
1 Nov'07


PUISI

MENIKMATI KEHILANGAN
Oleh : Imam Pamungkazz

begitu bodoh
mungkin untukku
tak ada kata
apalagi suara
tingkah yg membangunkan
dari mimpi indah

hadir kala nikmat
menjadi laknat
sesuatu yang tak ada menjadi ada
tak mungkin jadi mungkin
yang tertakutkan datang
putih
terlihat putih
menjadi hitam

termangu menikmati kehilangan
meniti penyesalan
merajut kembali harapan
untuk lebih baik?..entah..

terdiam dalam kekalutan
memandang kepingan berserakan
terbujur dalam denting
mendesah kehilangan udara
tercecer tersebut sesal
aku ingin tegar!!

kutanamkan hikmah
agar menuai tabah
untuk sebuah kelana
bukankah hidup ini tak harus mempertaruhkan??!!



Kau; yang maha puisi
Oleh : AriZur

---
jejakMu tertinggal
disana diantara
tumpukan katakata
-Ngestiharjo 23 Mei 2008


Plong
Oleh : Syamsul

Plong Kucabut bulu hidung
Lhes, bulubulu jenggot
Ler , bulubulu ketiak
Brut, bulubulu khaki
Plong,Lhes,Ler, Brut bulubulu
Sampai kapan rasa nikmat ini bertahan
Bisa jadi sampai rasa tidak mati
Karna stroke
Gula
Bebal hati
Buthek otak
Sampai nyawa krasan di badan
Dan rasa rindu masih bebuncah di tubuh
Iman masih bertengger di jiwa
Lalu bersatu denganNya

Trayu, 20 Januari 2006



BUKAN YANG DULU
Oleh : Kasiyanita

Dalam kata tak terucap
Tak tersampaikanpun dengan nurani
Jiwa hijau terlihat gersang
Oleh kata-kata mati
Arus menyusut damai
Kutulis "cinta" diatas air
Tersapa arus
Hilang tanpa rasa
Pengorbanan yang sia-sia
Meski jiwa telah membelah bumi
Karena keputusan ini ...
Membuatku beku dalam dunia
Akankah ada gurau setelah ini
Setelah jiwamu melayang dilangit kelabu
Meski kau dekat tapi bagiku jauh
Kau bukanlah dulu yang cintaiku apa adanya
Wates, 28 Maret 2008



Panen Tiba
Oleh : Rio

Musim demi musim berganti
Ku gembira usai bekerja
Menguning sawah di lahan luas
Membentang
Dendang anak gembala akan pesta desa

Waktu bergulir tiada henti
Kumasih setia menjadi kasihmu
Berharap kisah kita abadi selamanya
Rindu anak manusia pada nikmat cinta

Panen telah tiba
Kita bersyukur padanya
Atas semua rahmat dan karunia

Panen telah tiba
Kita berdua berikrar
Bangun keluarga nan bahagia

Panen telah tiba
Kita berjanji bersama
Jalani hidup di rumah sederhana
Jogja, 23:45, 18-05-2006



Sajak baru
Oleh : Hendri

Ku tulis sajak baru,
di kertas putih seputih salju,
inilah sajak baru,
tempatku mengadu ,
menyuarakan suka dukaku


Sesal bukan Cerita
Oleh : CB Omega

Kubur menganga arwah mengerang
Tulang kretak sendi ingin bernyanyi
Kelam membuai derita menyerang
Denyut memangsa hidup yg mati

Berhenti meratap jiwa yg tertawa
Melody siksa hapuskan ragu
Hati berharga asa tersia
Keindahan hadir teriring layu

Ketika rasa berganti rupa
Tetap cinta berkuasa
Sebening mata menatap yang ada
Sehangat pelukan adam yang perkasa


5 = lima
Oleh : Sukardi Cimeng

Kini Engkau datang
Setelah sekian lama aku gerah dalam penantian
Mengembara bersama catatan-catatan sejarah yang tercecer
Tertinggal di atas batu karang yang pongah

Senja telah mengantarku tidur
Dijemput oleh mimpi-mimpi ½ hati
Berkelana bersama tinta-tinta sang pujangga
Menggoreskan dalam sastra-sastra kehidupan

Bawalah aku mengembara dalam suasana
Dililit kain putih dosa
Hening tanpa suara mereka yang mengumpat

Di sini...
Biarkan ajal datang menghadang
Kan kusambut dengan lantunan sajak cinta
Kuhanyutkan dalam air mata pertaubatan

Tengah malam, 21 Januari 2007


SMS (SEPUTAR MENULIS SASTRA)

Berkarya dalam Ruang Religius

T.S. Eliot, seorang santrawan Inggris berpendapat bahwa kebudayaan tidak akan bisa mengalami masa cerah tanpa dilandasi nilai-nilai religiusitas keagamaan. Oleh karena itu, sastra religius/profetik menjadi gagasannya dalam menggerakkan sastra modern di berbagai negeri, semata-mata untuk memberikan pencerahan dan ikut menyeimbangkan dunia yang berat sebelah antara kehidupan materialistik dengan nilai religiusitas. Menurutnya, gaya sastra yang kelewat humanistik, psikologik, dan sekular, membawa penikmatnya hanya tertuju pada cakrawala/batas pandangan yang sempit, dunia yang “ini” semata, yaitu dunia yang mengajar manusia untuk takluk pada materi dan kekuasaan dunia.

Sastra religius mempunyai ciri dimensi sosial-transendental dan mempunyai pesan moral filosofis; hal yang lahir semata-mata dari kedalaman rasa dan batin melalui renungan dan penghayatan filosofis sehingga karya sastra religius cenderung mempunyai makna yang “dalam”. Kedalaman inilah yang membuat sastra menjadi “lebih”. (Saya jadi ingat ucapan Iman Budi Santosa: “Jangan sekedar menulis puisi, tetapi gunakan puisi untuk menjadi lebih”).

Terlepas dari opini masing-masing mengenai hal ini, yang jelas sastra tidak bisa menutup mata terhadap realitas batin, pada pengalaman-pengalaman spiritual dan religus tempat ia menemukan dirinya. Sastra yang demikian, ujar Iqbal, lahir dengan dilandasi oleh ilmu dan cinta, pikiran dan hati/visi yang terang, pribadi yang teguh, beriman tanpa pamrih, serta dilandasi rasa kebebasan dan keberanian. Karena itu ia lahir dari kedalaman intuisi yang berjuang terus mengatasi penderitaan, menundukkan kejahatan, dan membangun kepribadian.

S. Prasetyo Utomo mengatakan: “Kedekatan dengan Sang Pencipta membuat seseorang mampu “melihat” segala sesuatu sehingga dengan kondisi ke-wening-annya dengan sendirinya mengalir bermacam ide dan gagasan yang melahirkan karya secara terus menerus”. So, apalah ruginya berdekat-dekat dengan Sang Kreator Sejati, toh Dia menjadikan kita untuk terus berkarya bagi kehidupan sekarang maupun yang akan datang.
(Siti Masitoh, Pemimpin Umum LONTAR)

BIODATA PENULIS LONTAR EDISI 18/TH.II/2008

AriZur, biasa dipanggil Mbak Zur atau Mbak Aris. Tidak pernah mau menuliskan biodatanya secara penyair (gitu loh?). Tapi mudah saja bagi yang ingin tahu lebih banyak tentangnya, sering-seringlah datang di LA punya acara. Dia selalu ada. Tinggal di Blok 2 Ngestiharjo Wates.
A. Samsul Ma’arif, mantan kru redaksi LONTAR. Penyair satu ini dengan sangat terpaksa tidak bergabung di kru LONTAR lagi karena ”jam terbang yang tinggi” di aktivitas keilmuan yang tengah digelutinya saat ini di Bantul. Masih tinggal di Trayu Galur.
CB. Omega alias Christian Baptista Rizky Omega Putra, lahir di Wonosobo, 15 agustus 1992. Pernah memenangkan lomba/ ajang penulisan puisi yg diadakan oleh Bapak Peni S. selaku walikota Malang sebagai juara 3. Saat ini tinggal di Malang Jawa Timur.
Imam Pamungkazz, penyair yang aktif menuliskan puisi-puisinya di blog pribadinya, http://www.aksara-rasa.blogspot.com/. Seniman musik komunitas Padhang mBulan ini tinggal di Kedunggong Wates.
Kasiyanita, pelajar SMP 4 Wates yang memiliki motivasi ingin menekuni bidang sastra, terutama puisi. Ungkapnya; ”Karena bagiku, di mana ku melangkah di situ puisi tertoreh. Puisi bisa melantunkan tembang hati yang menggumpal.” Ck..ck..ck. Gadis belia ini tinggal di Mutihan Wates.
Muh Rio Nisafa, web admin blog LONTAR ini beberapa waktu lalu resmi melepas masa lajangnya bersama perempuan pujaan puisi-puisinya. He he. Semoga tambah semangat berkarya.
Retno Prihandaru, penulis satu ini tidak diketahui keberadaannya sekarang. Mungkin sedang menyepi mencari ilham. Tetapi katanya, perempuan kelahiran Semarang ini kini sedang mencoba berjuang meraih cita-cita. Sangat menyukai puisi dan mengaku seorang simpatisan LONTAR.
S. Arni, ibu rumah tangga kelahiran 4 September 1961. Semasa gadis pernah bermain teater, drama, tari, dan menyanyi. Produktif menulis geguritan tetapi jarang mempublikasikannya. Tinggal di Gebang I Plumbon Temon.
Sukardi Cimeng, lelaki kelahiran Kulonprogo, 23 Oktober 1983. Sampai sekarang mengaku masih setia hidup dalam kesendirian dan tetap bahagia menyandang gelar mahasiswa (skripsi yang tak kunjung usai). Bersyair merupakan buah dari hobinya membaca dan ngobrol ngalor-ngidul serta dengerin musik-musik cadas (metal). Tinggal di sukardimengerti@yahoo.co.id dan Clawer Pengasih.


SMS PEMBACA
“Hay rekan rdaksi lntar, bisa kah kalo mw ikutan krim puisi di redaksi, sypa tau puisiku bsa dimuat ”
(Rohman, dkt ponpes Zeje, dah alumni 085643533XXX)

“Lontar edisi 15 trbit bln apa ya? Dmn sy bs mdptkanny? Kok di perpust, aq g nemu. Tahu2 sdh edisi 16. Thanks”
(08176867XXX)

KATA-KATA MUTIARA

“ 'Kebenaran' laksana cermin yang diberikan Tuhan dan kini telah pecah. Manusia memungut pecahannya dan tiap orang melihat pantulan di dalamnya, dan menyangka telah melihat kebenaran.
Maka sungguh repot, bila ada yang lantas menggunakan pecahan kaca itu untuk atas nama kebenaran menusuk orang lain yang memegangi pecahan yang lain”
(Mohsen Makhmalbaf)

RALAT

Redaksi mohon maaf atas kekhilafan dalam pemuatan puisi saudara Fajar R. Ayuningtyas selaku penulis/pemilik asli puisi "Cinta Sudah Mati" pada LONTAR edisi 17. Puisi tersebut setelah dikonfirmasi redaksi ternyata milik saudara Fajar, bukan milik saudara Wahyu Gendon selaku pengirim puisi tersebut.
0856-4323-1104

Wednesday, June 18, 2008

LONTAR 17

BILIK REDAKSI­


Salam!
Kami putera puteri Indonesia; ”Bertanah air satu satu tanah air tanpa penindasan, Berbangsa satu bangsa yang gandrung keadilan, Berbahasa satu bahasa kebenaran.”
Pembaca LONTAR yang budiman, pada bulan Mei ini genap satu abad Kebangkitan Nasional. Sengaja kami membuka tulisan ini dengan sedikit ”berapi-api”. Syukur-syukur bisa menggelorakan semangat siapa saja yang masih mencintai bangsa ini. Tentu saja semangat untuk menerusi perjuangan menuju cita-cita bangsa.
Di saat himpitan beban rakyat kian sesak, ditambahi oleh kenaikan BBM yang tidak berhenti di tingkat isu tapi secara nyata telah merasuk di kehidupan seluruh rakyat Indonesia. Di saat cita-cita kesejahteraan seluruh rakyat masih ada di sudut kepala. Dan di saat-saat lain bangsa negeri yang besar geografis dan kekayaan alam ini ternyata mengalami ironi yang tak kunjung sudah, masihkah ingatan kita bisa disundut oleh semangat Kebangkitan Nasional yang dikobarkan sejak 1908 silam? Rasa-rasanya jawabannya harus terpulang kepada para pengambil kebijakan di negeri ini. Bisakah tanggung jawab mereka kepada rakyat menjadi layak untuk ”diangkat topi”?
Selamat Membaca...


BYAR
Bangun

Adakah Kristal//(yang sungguh kristal)//mengganti tatal-tatal
Sebagai indahnya gurun//dilukis waktu bangun (1999)
Puisi tersebut mendadak muncul di ingatan ketika saya bangun pada sebuah pagi tanggal 21 Mei 2008 di salah satu sudut kampung Kemayoran (Jakarta Pusat). Memang, tak ada gurun di Jakarta. Lanskap ibukota masih seperti biasa: lalu lintas semrawut, pemukiman kumuh menyobek keindahan gedung bertingkat, dan air sungai mengecer bau tak sedap. Aktivitas warga pun tak ada yang istimewa. Namun, di kampung tempat saya singgah sejenak tersebut, ada juga warga yang bicara satu abad kebangkitan nasional. We-eh, benarkah gema peringatan seabad kebangkitan nasional menyusup hingga ke pelosok orang-orang kecil?
Saya takjub pada obrolan mereka orang biasa yang hidup terjepit di antara keangkuhan dan hiprokrisi pengusa. “Mana bisa bangkit? Apa yang masih kita miliki? Semua sudah dijual ke orang asing…!” Dan kemudian, masya Allah, mereka begitu hafal mengabsen aset milik bangsa kita yang telah pindah tangan ke pihak asing. “Yang realistis, kita menjadi gelandangan di kampung sendiri”, lanjut mereka (seakan menirukan sebuah judul buku karya budayawan Emha Ainun Nadjib). Saya hanya bengong mendengar obrolan mereka. Lalu beranjak keluar rumah, keluar gang, mencari metro mini untuk keliling ibukota. Dari jendela bus, gambaran bangsa ini melintas di angan:
Pasca reformasi sepuluh tahun silam, bangsa ini mirip tatal. Pecahan atau kepingan dari keseluruhan. Tatal yang dalam dunia pertukangan hanya layak dibuang. Tak jauh beda dengan sampah. Tapi, sebentar, menurut ilmunya para wali, justru dari kepingan atau tatal itulah kita bisa meraih “kristal”. Mau amsal? Tiang utama Masjid Agung Demak. Barangkali ini yang jarang kita sadari: bangsa kita justru kuat karena berangkat dari tatal-tatal.
Selain mirip tatal, kondisi bangsa kita juga seperti gurun yang gersang: seakan siapa saja yang memerintah tak bakalan merubah keadaan. Tapi bukankah dalam gurun itu ada oase. Dan, seperti bunyi sebuah sajak, bukankah gurun dan oase masih saling setia? Tafsir dari larik kalimat ini memang tidak tunggal. Dalam konteks ini, bisa saja ditafsirkan: dalam kesulitan ada kemudahan. Maksudnya, sesulit apapun kendala yang dihadapi bangsa ini, sebuah kebangkitan dari keterpurukan itu tetap ada. Agaknya, yang luput kita telisik adalah “belum ada kesinambungan antara bangkit dan bangun”. Kita maunya bangkit, tapi sejatinya belum bangun. Padahal kalau kita sudah “bangun”, apapun yang kita lihat terasa indah. Gurun gersang sekalipun.
M A R W A N T O (www.markbyar.blogspot.com)


ADA APA DENGAN LA
Chairil Anwar Ketemu RA Kartini
Pada hari Sabtu, 4 April 2008, Sangsisaku (Sanggar Seni Sastra Kulon Progo) mengadakan pentas terbuka di Taman Binangun Alun-Alun Kulon Progo. Pentas terbuka itu mengambil tema Chairil Anwar Ketemu RA Kartini. Tema itu diambil karena bulan April merupakan bulan wafatnya Chairil Anwar yang sekaligus dijadikan Hari Puisi Nasional. Selain itu bulan April juga diperingati sebagai hari Kartini, sehingga dalam pentas di situ banyak diceritakan tentang kehidupan perempuan era Kartini kaitannya dengan era sekarang. Pentas tersebut dimulai pukul 20:30 22:30 dengan para pemain: Ki Soegiyono MS, Joko Budhiarto, Danu PP, Papi Sadewa, A Legiyo, Nur Widodo, Kelik Bule, St Suryani, Bardal, Sunarto, Guntoro, Sukadi, Ayuk, Suci Astuti, dan lain-lain. Walaupun pada saat itu suasana pentas dibarengi dengan hujan sehingga membuat alun-alun menjadi becek dan suasana menjadi dingin, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat para seniman tersebut untuk berkarya dan berapresiasi. Para penontonpun dibuat berdecak kagum oleh penampilan mereka. Sukses buat Sangsisaku....
(Sukardi Cimeng)

LA Mementaskan ”BENDERA”
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kulonprogo (DisBudPar) kembali menggelar pentas rutin setiap bulan di Panggung Terbuka Alun-Alun Wates. Setelah bulan lalu dibuka oleh komunitas Sangsisaku, kini giliran komunitas sastra Lumbung Aksara (sekadar mengingatkan, Lumbung Aksara adalah sebuah komunitas sastra, BUKAN komunitas teater, seperti yang diucapkan oleh MC dari DisBudPar dan yang tertulis di spanduk-spanduk pinggir jalan raya). LA diundang oleh DisBudPar untuk mengisi pada Sabtu, 3 Mei 2008 pukul 19:30 WIB. LA yang bukan komunitas teater mencoba berteater dengan melakonkan ”BENDERA” hasil besutan naskah dan sutradara Zaki Zarung dari Teater Sangkal Kotagede. Meski di satu Alun-Alun ada dua panggung (satunya adalah pentas wayang BARAKULER), ketika LA pentas semua penonton bisa fokus ke Panggung Terbuka Lumbung Aksara. Meski berdurasi cukup pendek, LA mampu menyedot perhatian penonton dan juga wartawan media yang banyak hadir. Dari aktivitas LA yang ”aksara” ke ”raga-swara”, LA merasa harus ”melompat lebih tinggi”.
(Ndari AS)

LA Potong Tumpeng yang ke-2
Di tengah kesibukan mempersiapkan pentas teater, Kamis 1 Mei 2008 bertempat di Gedung NU Kulonprogo, Komunitas LA mengadakan syukuran dan doa bersama atas usianya yang menginjak ke-2. Dalam acara yang bergelar ”Refleksi 2 tahun sudah kita menjalaninya” tampak hadir kerabat besar LA dan para apresiator LA selama ini, yakni: Komunitas Sangsisaku, Komunitas Padhang mBulan, Komunitas AB Giripeni dan Teater Sangkal PP. Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta.
Meski cukup lelah setelah seharian Gladi Resik di Panggung Terbuka Alun-alun Wates, tidak mengurangi ucapan selamat dan kado-kado penuh cinta yang terus mengalir di sepanjang acara. Mulai dari Pembacaan puisi, musikalisasi puisi juga lounching Antologi Puisi Tunggal Marwanto ”Menaksir Waktu” yang diterbitkan oleh Komunitas LA dan www.markbyar.blogspot.com.
Apapun, SELAMAT !!! Semoga saja bukan sekedar romantisme perayaan belaka.
(Izur)


CERPEN

DI PENGHUJUNG ASPAL KOTA
Cerpen Tamam Ayatullah

Semburat merah senja menuai hampir temaram. Di kota yang separuh metropolis, separuh desa ini segala sesuatu terpampang sempurna di mata. Sedikit ke tengah, tentu sudah memasuki jantung kota. Sedikit membalikkan beberapa langkah kau tentu memasuki pinggiran kota. Kalau kau tidak percaya, letakkan motor bututmu tepat di tengah Jalan Kaliurang ke selatan, setelah lima menit kau akan memasuki bibir lentiknya kota dengan segala kekotaannya; tebalnya polusi; pekaknya telinga dengan suara kendaraan; atau mungkin tebalnya mukamu menyaksikan situasi hingga lupa duduk di bangku beton di perempatan pos besar Malioboro sana. Nah, tidak sampai sepuluh menit, gerakkanlah motormu ke utara. Dingin dan sejuknya hawa pedesaan pesisir Merapi segera menyergap ketakjubanmu tentang betapa indah dan naturalnya alam yang masih sangat murni kemurniannya.
“Mas, lebih baik di lembah UGM saja,” aku garuk-garuk kepala mendengarnya. Belahan hati yang duduk di belakangku ini emang aneh-aneh saja. Barusan ketika di jalan Malioboro dia meminta ke jakal, katanya biar mesranya lebih sejuk. Lha, belum turun saja dari motor dia malah minta balik. Kurasa dia terlalu romantis sih. Aku menghentikan laju motor, kemudian balik lagi ke selatan dengan hati tak berhenti memaki.
Beberapa menit meliuk-liuk, tiba juga di lembah itu. Kami turun dari motor dan segera menyeleksi tempat-tempat terbaik ngobrol. Kami memilih suatu tempat yang sepi di sebelah sana itu. Kemudian duduk tidak saling berhadapan. Sama-sama menghadap ke timur. Kami sudah setahun ini berhubungan sebagai dua lawan jenis yang bersepakat satu pikiran. Satu hati. Semingguan ini, sesuatu terjadi. Mendadak dia meminta menikah. Kau tahu sendirilah, aku ini masih mahasiswa semester enam. Wajar saja kan jika kagetnya luar biasa? Lha, ketahuilah untuk beberapa semester kuliah ini saja bapak sudah sering menggadaikan isi rumah buat bayar uang semester. Kalau aku menikah, barangkali dirikulah yang lumayan tinggi digadai demi kebutuhan. Memangnya dari mana dapat biaya hidup? Sekarang ini biaya kebersamaan untuk berdua sangatlah mahal.
“Terus-terang jangan sekarang Mel.” Kataku setelah beberapa detik kami saling diam. “Jujur saja, kita harus realistis mengalami hidup.”
“Aku setuju. Memang harus demikian.” Sahutnya santai seakan sama sekali tidak terbebani kayak dulu. Jujur saja, aku lega dia tidak lagi sekuat dulu menggugat karena ketidaksiapanku menghadapi kebersamaan yang sempurna itu. Aku bahagia, kini Amelia menjadi lebih bijak dari yang biasanya.
“Aku sangat paham situasi mas sangat tidak memungkinkan untuk itu.”
“Terima kasih kau mau mengerti.” Amelia manggut-manggut mengiyakan. Aku bakalan repot jika masih seperti minggu lalu. Selama dua jam dia menangis, agar segera meresmikan hubungan kami. Aku menolak. Untuk membayar uang semester aja, aku terpaksa menjual HP. Gimana mau menikah?
“Berarti semua urusan sudah selesai kan?” tambah Amelia. Aku mengangguk senang, meski sekilas wajah Amelia seperti muram. Sayang malam makin turun, sehingga tidak menampakkan kelengkapan raut di wajahnya.
“Baiklah, sebaiknya kita langsung pulang.”
“Loh, kan baru beberapa menit duduknya? Lelahnya saja kan masih ada Mel.”
“Hehe, kan semuanya sudah terselesaikan? Bukankah kita ke sini hanya demi menyelesaikan suatu urusan? Dan urusan itu sekarang sudah beres? Lalu apalagi?”
Aku menarik napas tidak mengerti arah pembicaraan.
“Memang sih. Tapi masak cepat-cepat pulang begitu? Masih letih nih.”
“He, kamu ini gimana sih? Pulang ya pulang!” aku tersentak kaget. Sikap Amelia tiba-tiba berubah sangat ketus. Tanpa menunggu sahutan, dia berdiri dan kemudian melangkah sendirian. Aku mengejar, setelah itu menggamit tangannya. Amelia berbalik dan melotot.
“Kamu ini kok aneh banget toh?” kataku agak keras. Amelia justru berkacak pinggang.
“Siapa yang aneh? Bukankah sudah kubilang ribuan kali kapan kau akan melamarku? Dan sekarang…”
Nggak tahu apa alasannya, Amel tahu-tahu menangis sesenggukan seperti itu.
“Ketika pulang kemarin.. orangtuaku menerima lamaran seseorang.” Aku terdongak tidak percaya. Amelia memelukku. “Maaf mas, aku hanyalah perempuan biasa. Aku tidak bisa menolak.”
Aku diam. Sulit mengatakan apa yang harus kukatakan. Kerongkonganku serasa dijejali ribuan kerikil-kerikil kecil dan tak bisa dikeluarkan. Amelia tambah kuat saja mendekap dan terisak.
“Aku mau menyalahkanmu. Tapi aku tidak bisa. Ini bukan salahmu.” Aku tetap terdiam. Gelap yang mulai turun menggantikan senja seperti tambah gelap saja. Dan aku hanya bisa membisu. Pantas saja sejak tadi suara Amelia terasa mengganjal. Akhirnya, kubiarkan saja Amelia puas terisak. “Mungkin mas benar. Kita memang harus realistis dan proporsional pada situasi yang tidak memihak.”
Kata-kata Amelia semakin saja membuat hatiku ngilu dan tersobek di tengah-tengahnya.
“Ya, sudahlah.” Akhirnya aku berbicara meski dua patah. Kusentuh bahunya dan mengajaknya naik ke atas motor.
Sepanjang perjalanan, kemerlip lampu-lampu kota makin memudar. Hiruk-pikuk kendaraan kian tak terdengar. Hitamnya aspalan tambah menyatu dengan kegelapan. Kau benar manisku dengan menyangga dirimu dengan kata-kataku sendiri itu. Kita memang harus realistis dan proporsional dengan kehidupan. Kita hanyalah rakyat kecil yang tidak berguna berjalan di jalan yang hanya setapak ini. Kita harus banyak-banyak menahan napas demi diri kita sendiri. Bagaimana pun para wakil kita di atas sana sedang kelaparan. Mereka tentu lebih berhak hidup sejahtera ketimbang diri kita. Kita sudah terlalu banyak merepotkan mereka dengan banyaknya urusan kita, rakyat kecil ini. Mereka tentu perlu kenyang yang lebih biar lebih bersemangat lagi bekerja demi kemakmuran negeri ini. Tidak apa-apa, meski bahkan lauk-pauk tahu-tempe tidak bisa lagi kita beli, masih ada tiwul, singkong dan sisa-sisa kerak nasi kemarin yang masih tersisa banyak. Kita berdoa saja kepada Tuhan, mereka sejahtera, sentosa hidupnya. Kita sudah terlalu banyak merepotkan mereka.

Blakk!! Buk!!
Brak!!
Aku terhenyak, tiba-tiba terdengar sesuatu begitu keras dan menggelegar di telinga. Entah apa yang sedang terjadi. Yang pasti jalanan kota yang temaram dan elok dengan kemerlipnya lampu-lampu kini tidak terlihat lagi. Segala sesuatu tiba-tiba menjadi sangat gelap. Yang pasti, tiba-tiba ada keinginan memelukmu lebih rapat setelah itu. Bahkan mungkin lebih dari sekedar rapat.

Jogja, 31 Januari 2008.


GEGURITAN

Tanpa Tinemu
Dening: Siti Hinggil

Dak sangga langite wengi
Nalika wewayanganmu gemlubet ing ati
Apa ya pancen panjering rina iku bakal
Gemuleng ing sawayah-wayah wektu
Dadi candaraning rasa kang dak temu
Ing atimu lan sukmaku

Wus dak coba kanggo lumaku ing wayah esuk
Nalika riyaya surya nglebur anaku
Lan anamu. Dadi pedhut
Kang kesapu angin sedina-dina
Banjur cidra antarane jantung uluku
Kang gumrebes
Gegodres
Ing wiwitane tatu uripku

Lakumu anjangkah lumaku maju
Tanpa karep mengo bali memburi
Pungkasane sliramu tanpa tinemu
Ing dedalan kang dak tuju

Langgar, 15/02/08


PUISI

Air untuk Zahratul Jannah
Oleh : Marwie Hendrianto

mengingat tanggal tigapuluh lima Januari merona
terkesima dengan apa yang senja berikan
mungkin saja esok bulan
tak memberi senyuman padaku
maka beri aku sebuah nada optimis
bukan pesimistis yang kini melekat dalam tulang belikat ini
bunga sunyi untuk zahrathul jannah.....
bukan Siti Rachimah
Sxxx?bukan!
aku hanya ingin dia menyapu warna merah di mataku
inginku hanya menatap derap ombak bersamanya
kala aku tak mampu tuk mendengar apa yang dimaksud naar
atau
aku memang tak mampu lagi?
ada dia
pangeran ufuk timur yang panjang umur
ini butiran pasir kala pagi begitu berkesan
yang aku simpan untuk zahrathul jannahku
yang kini mulai enggan menatapku
36,kala subuh menjelang pagi


Ajari Aku
Oleh : Wening Wahyuningsih

Ajari aku melakukan apa yang tak aku bisa
Ajari aku menaklukkan lautan
membuat gelombang mengalir tenang
Menafsirkan gemuruh bahasa ombak
di atas pasir yang berdzikir
Ajari aku melembutkan badai
biar dedaunan kembali menari gemulai
Lalu angin mengalunkan musik
dari dawai desahannya
Bukankah seperti laut dan angin itu hidup kita?
Berjalan mengikuti pusaran waktu
dengan arah yang tak tentu
Namun tetap bertahan ada pada dunia.

24032007


Cinta Sudah Mati
Oleh : Wahyu Gendon

Mata hati, Semalam aku melihat bayang-bayang
Kerumunan mata hati di langit-langit mimpiku
berbincang tentang kelicikan
Cinta yang terjebak dalam muslihat
Jurang nafsu membentang jauh memalung dalam
Mencecerkan kesejatian di lumpur
Patah dua
Semalam aku hendak bergabung
Dalam kerumunan mata hati yang duduk melingkar
Menyaksikan cinta hancurlebur
Kehilangan keindahannya yang agung
Sebab angka-angka telah menguasai hati
Dalam pertimbangan untung dan rugi
Aku melihat segalanya jelas pagi ini
Cinta yang mempertahankan makna-makna
Yang menyentuh sisi jiwa dengan kelembutannya
Yang tak berambisi
Habis terlanggar keinginan tak bermata hati
Cinta telah menjelma kemasan atas racun-racun
Menyusup halus ke dalam nadi

Aku melihat segalanya utuh pagi ini
Duhai mata hati yang berkumpul dalam mimpiku
Mari selesaikan menulis cinta yang
koyak-moyak tersuruk di lumpur
Aku bersamamu mengikis cinta yang tak murni
Habis, lepas dan jangan kembali sebelum sejati
Jangan, sebelum cinta mampu membuat
dirinya kembali
kupercaya


Kala Aku Berenang
Oleh : Siti Suwarsih

Kulihat hamparan laut didepanku....
Kulepas pakaian yang kukenakan, kutinggal masa laluku.
Dan kumulai berenang dan menyelam...menyelam dan teus menyelam. Sampai sesuatu terlihat oleh hatiku...
"Aku menemukannya", jerit suara dalam dadaku
Tempat itu...
Istana dewa dewi
Sebuah Kastil...
Dengan atap sang pencipta
Dinding dindingnya berlapis Islam
Tiang-tiangnya tersusun oleh permata do'a
Lantai lantai dari marmer ketabahan, yang dilapisi permadani kesucian
Singgasana itu...
dibuat dengan kayu kesabaran,
kemudian diplitur dengan kasih dan sayang
Dan terasa halus dan lembut, ketika jemariku merabanya
karena ternyata ada busa persatuan yang menghiasinya
Aku mulai menyelam kembali
Aku terus menyelam...
aku telusuri lorong lorong kastil itu
Aku semakin terpesona...
Hampir seluruh perabotan di tempat itu
Menjadikan mataku tak berkedip
Dan sepertinya lorong itu tak berujung
Setiapkali aku temukan ruang
Seketika itu pula seribu lorong menantang kedatanganku
Aku ingin tahu bagaimana isi setiap lorong
Wates, 28 Agustus 2007


Lupa Kau
Oleh : Lathif

Di balik laut selatan
Ada tanah dan rumah-rumah
Di balik menoreh dan merapi
Ada taman dan kebun bunga
Kenapa kita merantai diri
Dengan kepongahan tak sudah-sudah
Maafkan aku ...
Namamu tak tereja lagi
(Kauman, awal Oktober 2007)


SATU HATI
Sebuah puisi untuk 090407
Oleh : Mariyann Ka

Saat itu...
saat aku temukan anugrah terindah
ketika aku merasa tak sempurna
mencintai sosok pribadi yang aku anggap
paling sempurna
Dan itu...
adalah kamu
Satu hati yang selalu
aku beri sanjungan
aku beri rasa untuk saling menjaga,
menghormati, dan saling menyatukan
Tapi entah mengapa?..
sikap dan tingkah laku kita
selalu saja belum cukup untuk
mengungkapkan cinta..


Ketika Sang Kinanah melambai-lambai
oleh : Iul Muna

ketika Sang Kinanah melambai-lambai
hanya itu yang dapat aku rasakan
seramai itukah
sehening itukah

hangat pasir coklat
menjadi lebat-lebat dalam mimpiku
khayalanku
Sang Manusia Singa yang slalu meraung-raung
memanggil-manggil
untuk menjenguknya



SMS DARI PEMBACA

"Af1 mb. Br blz.mksh undanganny, ya...keren bgt..tp g bisa brgkt, lg fokus UAN, Mg..next, go fight 4 sastra KP ^_^ 'kita sperti diam...tp kita sedang bergerak dgn bhs cahaya..' "
(Nurul Lathiffah - 0818267XXX)

"Met mlm, mbk/maz mo ny klu krm crt lucu n' sru blh kg? Blz gpl"
(Dody - 081804044XXX)


BACA BUKU

Para Pembunuh Waktu

Penulis : Dorothea Rosa Herliany
Penerbit : Bentang Budaya
Cetakan : Pertama, Juli 2002
Tebal : 152 halaman

Buku ini merupakan kumpulan sajak-sajak Dorothea R.H. tahun 1985-2000 dan juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Puisi tak mengenal kata basi, sebagaimana puisi-puisi Dorothea ini, yang memotret sisi-sisi kehidupan manusia yang tak henti bergulir, dari waktu ke waktu, menggelitik setiap jiwa, menyentil kehidupan semesta yang penuh misteri.

Ungkapan-ungkapan estetiknya terkadang lembut namun juga menolak, menggugat kenyataan. Seumpama air kadang terasa sejuknya, tak jarang keruh dan meluap-luap. Seumpama batu kadang terasa berat sehingga membuat dahi berkerut, kadang membuat tersenyum dengan ungkapan-ungkapan nakalnya.

Kesunyian, kesedihan, percintaan, kerinduan pada kebenaran, kehilangan, gelap terang, terungkap dengan apik, meski metafor yang sama banyak terulang-ulang dalam puisinya. Ingin membaca buku ini? Bisa meminjam di TBM Lumbung Aksara. Hehe... Promosi?
(Dewi Fatimah, pecinta pohon. Gak suka masak kecuali kalau terpaksa, tinggal di Wates)



BIODATA PENULIS LONTAR
EDISI 17/Th. II/2008

Iul Muna atau Ahmad Muflikhul Muna, pelajar SMP N 1 Wates yang mencoba bersyair dan aktif mengirimkannya ke meja redaksi. Bagi yang ingin kontak bisa di friendster: last_time@proletar.nyu atau bisa juga di e-mailnya: iul_moena@yahoo.co.id
Lathif, lay-outer LONTAR. Pendidik di MTs Ma'arif Bendungan. Tinggal di Bendungan Wates.
Mariyann Ka, lahir di Kulonprogo tahun 1991. Masih berstatus sebagai pelajar di SMA N 2 Wates kelas XI IPA. Mengaku hobi membaca novel. Tinggal bersama orang tuanya di Giripeni Wates.
Marwie Hendrianto, pelajar SMAPTA atau SMA N 1 Pengasih kelahiran Jakarta, 11 April 1991. Juga tengah menanti hasil UAN. Emailnya: sheri3l_marwie@yahoo.co.id
Siti Hinggil, tengah belajar menulis geguritan. Itu saja biodata yang dia tuliskan. Redaksi jadi penasaran; yang mana to orangnya?
Siti Suwarsih, santri PP Zahrotul Jannah Giripeni Wates. Tengah menanti hasil UAN yang baru saja diikutinya. Sebentar lagi meninggalkan SMA N 2 Wates karena akan menjadi alumni. Semoga!
Tamam Ayatullah, alumni Ponpes Tambakberas Jombang dan jurusan Akidah Filsafat Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Semasa kuliah aktif di pers mahasiswa kampus ARENA. Novel perdananya Dicari: Sandal Kiai! tidak lama lagi akan terbit. Lelaki asli Madura ini kini bekerja di Surabaya.
Wahyu Gendon, adalah alumni SMK Muhammadiyah 2 Wates. Lelaki kelahiran Kulonprogo, 13 Juli 1989 ini sekarang bergiat di Pramuka Saka Bhayangkara Kulonprogo. Memiliki hobi sport, adventure, camping, scouting, dll. Tinggal di Parasan 23/10 Gunung Gempal Giripeni Wates.
Wening Wahyuningsih, gadis mungil ini sebentar lagi juga akan berstatus alumni; alumni SMK N 1 Pengasih karena telah mengikuti UAN. Tinggal di Brosot Galur.



KATA-KATA MUTIARA

“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja. Tapi tanpa mencintai sastra, kalian hanya tinggal hewan yang pandai”
(Pramoedya Ananta Toer Dalam Bumi Manusia)

Wednesday, April 23, 2008

LONTAR 16

Bilik Redaksi

Salam Sastra !

Setiap memasuki bulan April kita kerap diingatkan dengan moment ”Kartinian”. Ingatan kita seakan disundut oleh kepahlawanan seorang perempuan (yang hidup dalam dengusan patriarki teramat tajam), istri (yang dimadu), dan ibu (yang meninggal saat melahirkan anak), bernama Kartini. Bahkan sejak Sekolah Dasar pun kita ”dipaksa” hapal lagu putri sejati, putri Indonesia, harum namanya. Klise memang, ketika filosofi dari semangat itu tak jua tercapai hingga sekarang. Alangkah tak terhitung entitas perempuan di sekitar kita yang masih bodoh dan miskin, yang masih dibodohi (termasuk tren HANYA merayakan Hari Kartini dengan berbaju ala Kartini dan aneka kegiatan yang bernuansa hiburan) dan dimiskinkan, yang dilemahkan dan ditakberdayakan. Akan terlalu panjang daftar yang menyertainya.

Pembaca LONTAR yang budiman, lepas dari kisah-kisah sejarah, sesungguhnya ada satu lagi perempuan pejuang sebelum Kartini tapi rasanya ”tak laku” di sejarah karena entah. Dialah Rohanna Kudus, jurnalis perempuan pertama yang ”secara modern” mendirikan organisasi gerakan perempuan yang bisa dibilang progresif ”Kerajinan Amai Setia”. Dia berasal dari Koto Gadang Sumatera Barat. Seharusnya semangat seperti itulah yang diperlu bangsa ini agar tidak awet dengan slogan “Habis Gelap Tak Kunjung Terang”.

Selamat Membaca...

Ada Apa Dengan LA

Pelatihan Jurnalistik di PP Al-Hidayah Temon

Minggu, 23 Maret 2008 lalu, LA diunduh acara Tadarus Puisi dan sekaligus mengisi pelatihan jurnalistik (tepatnya memperkenalkan dunia membaca dan menulis) di Pondok Pesantren yatim piatu Daarul Aitam atau sering juga disebut PP Al-Hidayah Pripih Temon. LA mengundang bintang tamu Zaki Zarung (penulis, pendongeng, sutradara) yang membuat peserta sekitar 50-an santri menjadi antusias mengikuti acara. Materinya meliputi pengenalan media, jenis-jenis tulisan, rubrik dan lay out, serta disambung dengan sharing berbagi kisah proses kreatif kepenulisan. Peserta dibagi beberapa kelompok untuk praktik menulis dan membuat buletin. Di sela-sela acara peserta diminta maju untuk membaca puisi dan mengapresiasinya. ”Jangan menulis, kalau tidak ingin menyesal!” begitu pesan Zaki Zarung. (Deffnau)

Silaturahmi Adin Hysteria ke LA

Tekad silaturahmi demi memperkokoh jalinan komunitas sastra mengantar Adin (penggiat komunitas Hysteria Semarang) mengunjungi teman-teman komunitas Lumbung Aksara (LA). Minggu (17/2/08) malam yang berirama hujan itu, ia tiba di salah satu pasar di kawasan Bumirejo Lendah. Di pojok pasar (sambil menikmati bakmi hangat), Adin dijamu Syamsul Ma'arif, sebelum kemudian berkunjung ke TBM Lumbung Aksara di Jalan Makam Kiai Batok Bolu Wahyuharjo.

Kunjungan tersebut memang tidak mendadak, sebab beberapa hari sebelumnya (lewat email dan SMS) ia telah berkabar. Namun karena dilakukan pada malam hari, jadinya tak semua awak LA bisa menemani. Banyak hal diobrolkan di rumah Lurah LA tersebut. Diantaranya ihwal “gerahnya” penyair senior Semarang melihat geliat aktivitas sastra para generasi muda. Juga tentang serunya “politik sastra” di tanah air. Jelang tengah malam, ia bertolak ke rumah Syamsul dan keesokan harinya sudah menghilang menuju Yogya. (Wan)

Kemah Sastra, Membangun Jaringan Sastra

Tanggal 20-23 Maret 2008, LA memenuhi undangan komunitas sastra PAWON Solo untuk mengikuti kemah sastra yang berlokasi di Padepokan Lemah Putih, Plesungan, Karanganyar. Kemah sastra ini sebagai ajang pembelajaran menulis kreatif sekaligus pertemuan komunitas-komunitas sastra. Dihadiri oleh wakil dari beberapa komunitas sastra seperti Matapena (Yogya), Asas (Bandung), Samudra (Jepara), MejaBolong (Solo), LA (Kulon Progo) dll serta wakil dari beberapa LPM dan komunitas teater kampus antara lain UNS, UMS, UMK, UPI, UNSOED, UNDIP, UNSIQ, ISI, juga dihadiri oleh perorangan yang datang dari berbagai penjuru pulau Jawa. Pembelajaran menulis yang diselingi diskusi, tanya jawab, dan sharing berlangsung fun dengan diampu Saut Situmorang, Faisal Kamandobat, Han Gagas, Sanie B Kuncoro, Tia Setiadi, dan Kusprihyanto Namma. Hadir pula peneliti sastra asal Jepang, Shiho Sawai, sementara sastrawan besar Raudal Tanjung Banua berhalangan hadir. LA yang diwakili Fafa, Hendri, dan Asti disambut hangat oleh panitia. Buletin Lontar dan Prasasti dibagikan pada peserta oleh Joxum (koordinator PAWON). Ada yang bisa menjadi benang merah dari helat ini bahwa sudah semestinya jaringan sastra yang solid dibentuk untuk mewadahi kreativitas dan sebagai media bertukar info tentang dunia sastra. Ke depan, PAWON menunggu undangan kegiatan sastra dari LA. Wah..! (selepas lautan)

Byar

Cerutu & Celana (1)

Foto itu masih saya ingat hingga kini: seorang penguasa yang sedang menghadapi gemuruh demonstrasi rakyatnya tampak menggigit ujung cerutu ketika menerima laporan dari salah satu pembantunya. Wajahnya garang. Tentu amarah sedang membuncah, dan belum tahu akan mengetukkan palu dengan cara apa: menyerah atau perang ! Foto itu beredar di sejumlah media pada 19 Mei 1998.

Dua hari kemudian Soeharto memang lengser. Tapi, agaknya, itulah potret ketika “Sang Raja” sedang berada dalam masa puncak menghadapi tantangan. Meski, kenyataannya, jarak ketika seorang dalam posisi “on” dan “off” teramat pendek. Benar pula kata orang arif: bahwa sebelum mengakhiri nyala terakhir sebuah lentera akan berkobar-kobar sebentar. Amsal lain: seorang yang sedang orgasme tentu akan menggebu-gebu, sebelum akhirnya lemas-lunglai. Agaknya, waktu itu Soeharto tak sedang “orgasme”. Ia lebih mendekati amsal yang pertama. Dan itulah tafsir dari foto tersebut: ekspresi dari nyala yang berkobar-kobar sebelum akhirnya padam.

Disamping itu, barangkali bisa diajukan tesis yang lain: bahwa cerutu telah menjadi alat pelampias dari (beberapa kemungkinan rasa berikut): kalap, gundah, marah, … Konon, kita sering juga disuguhi adegan ini: orang yang mendapat tekanan berat (stres), berulang kali mematikan cerutunya dan menyulut yang baru untuk secepat mungkin ia matikan lagi. Begitu seterusnya, berulang-ulang. Di sini, cerutu bukan karib yang baik untuk dinikmati kelezatannya atau bersama-sama si penghisap “menikmati ngehnya suasana”. Cerutu tinggal obyek penderita.

Jika seluruh manusia penghuni planet bumi ini mengalami hal serupa tentu yang paling untung adalah pabrik rokok. Sebab ia akan mengalami peningkatan penjualan secara drastis. Bayangkan, jika dalam kondisi biasa seorang perlu sehari untuk menghabiskan satu sampai dua bungkus rokok, dalam kondisi stres (kalap), ia cuma perlu satu atau dua jam. Dan, selain tak baik bagi kesehatan (fisik manusia), juga bisa memunculkan persaingan usaha yang tidak adil.

Barangkali, ya barangkali, karena tak bersetuju dengan dampak yang ditimbulkan dari kasus “cerutu sebagai alat pelampias”, maka beberapa tahun kemudian seorang nomor satu di sebuah republik memilih celana sebagai “alat pelampias”. Benarkah? Apa maksudnya? (Bersambung)

MARWANTO (www.markbyar.blogspot.com)

Cerpen

SILENT LOVE

Cerpen Nur Islamiyatun

Bertanya pada laut bagaimana menyatakan rindu yang terlarut dalam ombak yang bergolak di nyiur pantai yang berdesir. Bertanya pula bagaimana menjadi tumbu karang yang menyatukan arus dan gelombang pasang. Namun, diam yang terjawab dan hanya diam yang masih didapat.

Pada gelitik sang bahari malam, mega menyaksikan turunnya basah air hujan yang mengundang malam berkabut ketika itu, menambah pedih dan kelam seorang Izzah yang melabuhkan rasa dalam keheningan.

Sosok Faizzah yang meradang dalam bias lamunan, menghitung detik-detik yang terus menghimpitnya dalam pusara yang tak terbendung, akhirnya tertetes juga setitik kaca bening melepuh indah di bola matanya.

“Roni ... Roni ...”

Terlabuh sudah hatiku untukmu. Namun hanya ada diam yang memagari keinginan tuk selalu berdekatan denganmu. Aku muak dengan bentangan ini. Faizzah membatin.

”Aku mencintai, tapi apa aku dicintai? aku menyayangi, akankah aku disayangi? Bodohnya aku yang memikirkanmu“, gumam Izzah ketika kabut masih terus menyelimuti kidung hatinya yang masih terjerembab dalam sepi.

Cintanya menghantar pada kebisuan yang menjulang dalam keheningan, seutas Izzah yang menawan dengan seutuh rupa dengan sebaris lesung pipit tergurat manis ketika senyum terhias dari Izzah, dan ia terlahir dalam keanggunan dan sepoi keramahan.

Ah, itulah sepintas Izzah yang harus membawanya dalam sebuah pengabdian terhadap orang tuanya yang menelaah setiap kata-kata yang tersirat dalam bumbu-bumbu kehidupan. Memikat orang tuanya tuk menjadikan seorang Izzah menjadi lebih baik dalam jalinan dengan orang yang baik pula menurut orang tuanya.

Begitu menyayat dalam segurat hati Izzah, tapi senyum indah nan ramah tetap terlukis di atas serpih-serpih pupusnya harapan yang ia sanjung dari Roni. Rasa Izzah yang mengambang dalam kegamangan waktu yang membuat Izzah menunggu sebuah baris dalam lisan Roni. Akh! perih itu serasa mengerat.

Dan di sana, seorang Roni memagari kepalsuan yang bersemayam di hatinya, kalut merenggut jiwanya. Hilir mudik mencoba menggenggam ketenangan. Namun, sepoi angin memberi bisik kegalauan yang menjadikan gundah merebak bersama gelisah.

Angin, aku dimana saat ini?

Apakah aku masih hidup, atau aku telah mati?

Mungkinkah aku senang, ataukah aku mesti sedih?

Aku hanya sebatang ranting yang mencoba menahan daun agar tak jatuh, tapi, kenapa aku yang patah oleh angin? Sehingga tak mampu bersama daun rindang itu?

Aku ingin menjadi ranting bagi Izzah. Tapi, kelu mulutku yang menjadikan ia tiada. Aku tolol. Aku dungu dalam kesunyian, itulah lantang nyanyian jiwa Roni yang menggema bersama desah malam.

Rasa, menjadikan semua tiada tersisa. Harapan roni menjadi kikis karena telah mendengar izzah akan menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya yang menjadikan ia semakin terhina karena tak mampu membawa rasa itu sampai pada Izzah. Menggantung dalam terpaan sunyi yang meratakan kedukaan yang melelangkan sesal yang tertinggal.

Rasa, meleburkan belenggu yang ada, memupuskan mimpi Izzah yang menanti kalimat-kalimat indah dari Roni, tapi kepenatan itu menjadikan Izzah dalam sebuah ketololan yang terus menanti sentuhan kata melewati hati, melesat dalam lisan dan angan yang terbuang.

Izzah begitu bingung karena cinta telah tergadai buat Roni. Izzah pun tak mengerti, mengapa ia begitu membenci mas Ardan calon suaminya, padahal ia sungguh baik dan mencintai Izzah apa adanya. Izzah benar-benar bingung dan benci, tapi entah pada siapa.

Hanya isak yang terus menjawab dalam kediaman hati Izzah. Bagi Izzah, Roni-lah yang terhebat meski orang lain tak sependapat. Roni-lah yang ia rindui biarpun tak mampu digapai. Roni-lah yang termanis meski semua tak menggubris. Ahh, cinta memberi tanpa harus menerima.

Hanya galau yang hadir di antara cemas yang mengerubung hadirnya esok. Kecewa tereguk bersama asa yang melolong di atas harapan-harapan pada kehendak hati mereka. Rentet waktu begitu mencekam dalam nyanyian jiwa Roni dan Izzah. Isak terus meleleh dalam peluk malam merajuk pada sepi agar terobati.

Mencoba menepis segala kepingan sayat yang mereka peroleh dan berangan-angan dapat terganti sapuan lembut Nirwana.

Jarum jam masih berputar menembus dalam kegalauan sukma, mereka berharap ada sinar yang menjadikan sapuan putih menjelma asa yang menjulang kebersamaan.

Di setiap satu nafas mereka terhitung debar cemas, di setiap kedipan mata menjadi isyarat gundah.

Debar itu menjadi detak yang tiada terlantun lagi, menjadikan setiap putaran malam bagai pekat yang menimbulkan kepenatan. Hanya ada dua hati yang sedang terkapar dalam gejolak matahari yang membakar. Menjadikan setiap putaran malam bagai terbunuhnya hari-hari lalu dalam kebisingan tawa dan canda. Yang mengabarkan berita lelap akan segera terungkap dalam gejolak yang tiada kalap mengombang-ambingkan deru perasaan Roni dan Izzah, yang hanya mampu berdiam dalam gelisah malam menanti turunnya siraman basah air hujan yang kembali mengguyurnya.

Pada keluasan hati, mereka mencoba berlayar menelusuri malam, meski serumpun nyiur tetap dalam catatan sunyi. Matahari pun telah begitu letih melampaui penantian dalam gelombang yang terkirim bersama kenyataan. Tertarik makna yang tersemburat menghayati camar-camar dalam kediaman.

“Berdosakah aku mencintai Roni? Bisik dalam hati kecil Izzah. Malam itu hanya ada Izzah dalam tangisan jiwa yang gerimis di kesunyian redup yang mencekam. Dari mencoba mengerti dan pahami apa yang telah tersirat. Tiba-tiba ia tersadar dari lamunan. “Ahh, love is a sweet torment”, cinta itu siksaan yang menyenangkan, bukankah begitu malam? desis Izzah.

Gundah, 01 Juli 2007

Geguritan

Seserepan

Dening : S. Arni

Ing wayah sore

Ing pinggiran bengawan

Tirta kang mili

Kaya andudut ati

Ati kang lagi kesengsem

Melu kintir manut ilining tirta

Swara kemericik angresepake

Kumelaping mina wader

Kang lagi pada andon tresna

Ombak cilik-cilik lunga teka ambal-ambalan

Kadya cakramanggilingan

Nelakake manungsa padha hangarsa yekti

Sira bakal kaya ilining tirta

Lahir lan mati kaya

Tekaning tirta kang gilir gumanti

31 Oktober 2007

Puisi

Aku Malu

Oleh : Zaki Zarung

aku malu pada maluku

yang memaksa aku

tak lagi tahu malu

Kotagede, 19 Januari 2007

Tengadah

Oleh : Landung

malam merayap, kian senyap

kaburkan hati sekat demi sekat

aku meratap

di tepi tirakat tanpa sebab...

goyah !!

aroma madu di deru napasmu

buramkan racun di nadimu

goda hasrat menyusuri mimpi

larut dalam imajinasi

aku pun terkulai

tak sempat lagi berpikir

tulang ini akan lepas sendi demi sendi…

takut

jangan muntahkan ludahmu padaku,

aku tetap saja membatu.

Kilatkan saja pedang di matamu,

Aku kan terkulai padamu !!

PERNIKAHAN SETAN

Oleh : M. Zaairul Haq

Hari ini desember kelabu datang menjumpaiku

Sepucuk undangan kulihat tergeletak di atas meja

Siapa yang membawanya?

Aku berfikir sejenak dan tak mempermasalahkannya

Aku buka dan aku baca

Oh undangan perkawinan….

Aku kira undangan apa….

Rupanya iblis dan iblisah mau nikah

Hari minggu besok rupanya akad nikahnya

Bertempat di dasar jahanam

Ada pestanya juga

Tapi…

Seketika aku sadar dan berteriak

Astaghfirullah !!!

Aku kaget dan takut

Undangan pernikahan dari iblis???

Kenapa ia mengundangku?

Mungkinkah aku ini sahabatnya?temannya?atau malah familinya?

Sehingga aku diundang?

Sedang aku sendiri menganggap mereka musuhku

Bahkan setiap hari aku membaca ta`awudz meminta lindungan Tuhan

Mengapa mereka mengundangiku?

Aku kaget dan takut

Dan hidupku diliputi kecemasan

Pertapan wengi,24 Desember 2007

Menoreh

Oleh : Didik Komaidi

Bukit-bukit biru memanjang

Dari timur ke barat

Bukit-bukit kecil

Bukit-bukit besar

Yang dekat tampak kerontang

Pepohonan kering berguguran

Sementara yang jauh tampak hijau membiru

Sementara gerombolan awan menutup puncaknya

Tampak antena-antena

Begitu angkuh di puncak bukit

Menantang langit

Adakah makna dibalik peristiwa

Tentang alam yang menggeliat

Gempa bumi

Meruntuhkan rumah-rumah

Hanya hati putih yang mampu

Menangkap makna di balik peristiwa

Kulonprogo, Oktober 2006

SAJAK BISU

Oleh : Muryani

Percakapan yang tak cukup fasih

Antara kau, aku. Meluncur sekenanya

malam itu. Mendung menjelma menjadi gerimis

Sambil menunggu kata-kata untuk menjadi hujan

Bagai anak ayam bertemu induknya

Ingin kutumpahkan darah kerinduan di hadapanmu

biar kau tahu, aku mulai letih mendaki menara kesetiaan

Entah mengapa angin serta merta beku

Mengulum rindu di sarangnya

Seperti sengaja direkayasa

Diam-diam huruf yang empat tahun lamanya

Bergelantungan di mulutku

Tak berhasil kueja menjadi sebuah kata

Peta Hamba

Oleh : Nurul Lathifah

kau tak perlukan, sedu yang menjadi nyawa

dalam keheningan tebing-tebing

dan juga igir-igir setajam Himalaya yang gagah

dan setegar karang

karena kau, bukan pecundang

kau, ksatria yang menghitung langkah-langkah

tanpa dibuyarkan siulan kekasih

dan deret-deret waktu itu selalu kau ikat, lalu

kau catat di prasasti dan sejarah pelangi

karena kau telah dapatkan peta pasti dari Ilahi

15 Januari 2007

LELAKI FEBRUARI

Oleh : Imam Wahyudi

Hujan telah menitipkan rindunya

Pada lelaki februari yang sedang berbunga

Menjadi mataair yang terus mengalir

Di musim yang menggoreskan cinta

Tambak, 03 Februari 2008

Seputar Menulis Sastra

"Nggak mau.., Cakap-cakap aja ya!"

Awalnya apa yang dikatakan Fifik, salah satu teman kecil saya, kuanggap biasa saja. Mungkin hanya ekspresi penolakan seorang anak kelas satu SD yang lagi malas jika disuruh membaca. Padahal untuk bisa lancar membaca, mau tidak mau saya harus membujuknya untuk terus membaca. Namun setiap kali saya minta dia membaca, setiap kali itu pula dia minta cakap-cakap. Cakap-cakap dalam pemahamannya ialah membaca percakapan/dialog yang ada dalam LKS Bahasa Indonesia. Dibanding membaca teks, Fifik lebih tertarik membaca percakapan. Mengapa? Selain dia tak merasa sendirian membaca karena dalam percakapan ini saya pun harus ikut membaca, percakapan biasanya berbentuk cerita atau dongeng. Anak kecil mana yang tidak suka dengan cerita/dongeng?

Seringkali kita mendengar para orang tua mengeluh karena anaknya malas membaca buku pelajaran. Bagi Fifik dan teman-temannya, membaca buku pelajaran memang sangatlah membosankan. Berbeda halnya jika membaca cerita/dongeng. Tanpa diminta pun mereka akan membacanya. Terlebih jika dalam cerita tadi disajikan pula gambar. Hal ini bisa dibenarkan karena dunia anak-anak adalah dunia bermain, dunia imajinasi, dunia meniru, dunia coba-coba dan ingin tahu. Dalam cerita/dongeng, anak-anak lebih menemukan dunianya dibandingkan ketika membaca buku pelajaran. Kebanyakan bacaan yang saat ini ada dalam buku pelajaran susah dicerna oleh anak-anak. Kosa katanya tidak sedikit yang asing di telinga mereka. Tidak heran jika anak dengan daya pikir dan daya nalarnya yang masih serba terbatas akan dengan serta merta menolak jika diminta membaca.

Terlepas dari banyaknya tuntutan akan buku pelajaran yang sesuai dengan dunia anak, alangkah lebih bijaksananya jika orang tua memperhatikan keinginan anak. Apabila mereka lebih menyukai membaca cerita/dongeng, mengapa tidak kita coba menulis cerita anak yang intinya kita ambil dari materi pelajaran? Memang tidak semudah yang dibayangkan. Boro-boro menulis, membaca dan menemani anak belajar saja masih jarang kita lakukan. Namun, tentunya tidak ada kata terlambat untuk perubahan menjadi lebih baik. Sudah waktunya membiasakan diri kita dan lingkungan terdekat kita untuk membaca dan menulis. Sehingga pepatah klasik "senang buku sejak balita, gemar membaca sepanjang masa" tidak lagi terasa usang.

(Maftukhatul Khoiriyah, Redaksi LONTAR, sedang bermukim di Jepara)

SMS Pembaca

”Ass. Kok distribusinya telat bgt? Masa edisi October 2007 SMA 1 Temon dpt buletin LONTAR bru kmrn? Saya mohon jgn sampe distribusi lambat...thanx”

(Nicken, SMA 1 Temon - 081931710xxx)

”Mau konfirmasi prtemuan kmunitas Lumbung Aksara kapan?”

(Sigit - 08176867xxx)

BIODATA PENULIS LONTAR

EDISI 16/Th. II/2008

Didik Komaidi, direktur penerbit Sabda Media Ngestiharjo Wates. Banyak menulis buku, cerpen, esai, dan opini. Buku-bukunya selain di dipasarkan di Jogja, di beberapa toko buku di Wates juga telah beredar. Sekarang mengajar di MAN 2 Wates.

Imam 'Mbah Im' Wahyudi, masih terus sabar mencari inspirasi walau karya-karyanya tak pernah membumbung tinggi. Puisi-puisinya bersemayam dengan damai di pondok mayanya; www.ilalang-berbisik.blogspot.com

Landung, seniman musik yang gaul. Tergabung dalam komunitas seni Padhang mBulan Kulonprogo. Pengen kenal? Klik saja di www.jangkrikngerik.blogspot.com.

M. Zaairul Haq, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Asli Siluwok Kidul Tawangsari Pengasih. Ingin lihat fotonya? Laki-laki ini menuliskan alamat mayanya begini: www.zaza_bigbos@yahoo.co.id (?)

Muryani, adalah pelajar SMAN 1 Lendah. Tinggal di Nepi Galur Brosot.

Nur Islamiyatun, cerpenis ini alumni MAN Wonokromo Bantul. Karya-karyanya sering dikirim dan dimuat di majalah BAKTI. Tinggal di Brosot.

Nurul Lathifah, pelajar XII I A 2 SMA N 1 Lendah. Punya hobi membaca dan menulis. Gadis kelahiran Kulonprogo 21 September 1989 ini karyanya pernah dipublikasikan di Kedaulatan Rakyat, BIAS, dan CORET.

S. Arni, ibu rumah tangga kelahiran 4 September 1961. Semasa gadis pernah bermain teater, drama, tari, dan menyanyi. Produktif menulis geguritan tetapi jarang mempublikasikannya. Tinggal di Gebang I Plumbon Temon.

Zaki Zarung, lelaki asli mBantul yang masih teguh mengabdi di PP Nurul Ummah Kotagede. Sederet aktivitas dilakoninya; pendongeng, pemain teater, sutradara, penulis naskah, penyair, juga novelis. Novelnya yang diterbitkan Matapena, Santri Baru Gede, konon akan dijadikan film oleh sebuah rumah produksi dan akan disutradarai Hanung Bramantyo (sutradara film Ayat-Ayat Cinta). Saat ini tengah bergulat menyelesaikan skripsinya di UIN Sunan Kalijaga.

Kata-kata Mutiara

“Memaafkan itu Tak Seberat Memindah Samudera,

Tak Ada yang paling Sempurna”

(Aku Bisa Menjadi Kekasih by PADI)

Tuesday, February 19, 2008

LONTAR 15

BILIK REDAKSI

Salam Sastra !

Kami mencoba menangkap cuaca. Sesungguhnya cerita apa yang hendak dikisahkan oleh cuaca yang akhir-akhir ini banyak kalangan menyebutnya "tak ramah"? Benarkah cuaca memiliki keramahan dan ketidakramahan? Lantas bagaimana bentuk cuaca yang ramah dan cuaca yang tidak ramah itu?

Pembaca LONTAR yang budiman, beberapa saat lalu kami menyempatkan berkunjung ke pantai Glagah. Angin kencang meniupkan dingin dan gigil ke tubuh kami. Tapi tidak sampai mengantar ombak menjilati kaki-kaki kami atau menghempaskan tubuh kami meski kami begitu dekat dengan garisnya. Kami tak menangkap ramalan cuaca apa-apa. Atau kami saja yang tidak memiliki kemampuan ke sana? Selanjutnya, cuaca yang alamnya coba kami dekati dengan lanskap pantai dan laut itu bagi kami menjadi suasana tersendiri yang kami tak ingin menyebutnya "ramah atau tak ramah". Bagi kami, alam beserta cuacanya adalah sahabat. Yang tak jemu mengingatkan bagaimana kami musti berbagi, menghargai, dan menyayangi semesta. Rasa-rasanya setelah bertemu laut, kami jadi lupa akan menceritakan apa...

Selamat Membaca...




BYAR

Gemuyu

Maafkan. Ini adalah catatan yang terlambat Tapi bagaimanapun harus saya tuliskan. Sebab, semasa hidupnya ia selalu membuat wong cilik gemuyu –meski ia bukanlah pelawak. Ya, Ki Hadi Sugito, dalang kebanggaan warga Kulonprogo yang wafat Januari lalu itu, kiranya tiada duanya dalam hal membuat penonton “gemuyu” –kata ini kurang tepat benar jika disepadankan dengan tertawa. Tertawa hanyalah salah satu aspek saja dari gemuyu. Dan Pak Gito mampu membuat orang tertawa justru karena ia tidak berniat menjadi pelawak. Lalu, apa rahasianya?

Tampaknya lagi-lagi ini soal jarak. Ketika mendalang, Pak Gito tak membuat jarak: baik dengan penonton maupun kru (wiyogo-nya). Penonton dan kru, yang notabene “orang luar cerita”, ia anggap sebagai “satu kesatuan” dari cerita yang ia bangun. Alhasil, lakon yang disuguhkan pun menjadi mengalir lancar dan enak diterima audiens. Dialog antar tokoh wayang pun bisa berloncatan. Kesana-kemari (seakan) tanpa merusak pakem. Seorang Abimanyu bisa pekoleh bersinggungan dengan kentut. Apalagi Punakawan, bebas bicara dari A sampai Z. Padahal, dibanding dalang segenerasinya, Pak Gito lebih “carangan”. Meski jika dibanding dalang masa kini semacam Ki Enthus Susmono dan Warseno Slank, Pak Gito lebih konservatif. Carangan, bagi Pak Gito, kiranya lebih pada “penceritaan”, dan bukan tampilan fisik.

Tentu Pak Gito bukan satu-satunya pemilik teknik ini. Di bidang lain, misalnya, kita pernah mengenal obrolan Pak Besut di RRI. Di dunia tulis menulis, kita ingat kolom Umar Kayam dengan ikonnya yang sempat populer: Pak Ageng, Mister Rigen, dll. Di dunia entertainmen kontemporer, banyak yang punya teknik tak hendak berjarak dengan penonton. Talkshow “empat mata” dari Thukul, juga demikian. Semua itu intinya ingin megajak “orang luar” untuk masuk menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita yang disuguhkan.

Tapi, hemat saya, Pak Gito lebih berhasil membawa masuk orang luar itu daripada contoh pencerita (penghibur) lainnya. Apa karena ia sukses memangkas jarak tak hanya tatkala tampil di panggung, namun juga dalam kehidupan sehari-hari? Atau karena wayang memang media yang paling pas digunakan untuk membuat orang gemuyu? Entahlah. Yang jelas dengan meninggalnya Pak Gito kita kian kehilangan stok orang yang bisa mengajak wong cilik gemuyu, tertawa, senang dan bahagia. Yang kita saksikan kini justru banyak orang yang senang mengajak untuk menertawakan kesusahan orang. Seperti kata Thukul: SMS, senang melihat orang lain susah.***

MARWANTO (www.markbyar.blogspot.com)



ADA APA DENGAN LA

Ketika Sastra mampu Mencegah Timbulnya Sektarian

Sabtu, 9 Februari 2008, bertempat di area gedung Kesenian Wates, Komunitas LA mengadakan Tadarus Puisi (TP) ke-14 yang sempat absen beberapa saat. Hadir dalam kesempatan itu 15 orang dengan pembacaan puisi masing-masing. Sebuah diskusi kecil terungkap ketika itu. Bahwa seusai penyelenggaraan Temu Sastra 3 Kota beberapa saat lalu yang diselenggarakan oleh LA dan Sangsisaku, ternyata sastra mampu merangkum semua lini dan hapus sekat. Tidak ada sektarian di antara para sastrawan karena sastra memang bersifat universal dan tidak berbau sara.

Dalam kesempatan TP ini pula, louncuhing LONTAR edisi 14 dan buletin Prasasti yang pada edisi ini tampil dengan format baru. Ke depan, Prasasti akan tetap konsisten tampil dengan sorot-sorot tajam terhadap fenomena sosial remaja seperti diungkap PU Prasasti. (Sukardi Cimeng)

Agenda Pentas Budaya Sastra Kulonprogo 2008

Kamis, 14 Februari 2008 DisBudPar mengundang LA dan komunitas sastra dan teater lain se-Kulonprogo untuk hadir dalam rapat mengagendakan Pentas Budaya Sastra-Teater 2008. Setelah sukses dengan pementasan akhir tahun di 2007 lalu, DisBudPar akan menyelenggarakan lagi pementasan budaya sastra dan teater yang akan dimulai pada bulan April. Mengambil tempat di panggung terbuka di Alun-alun Wates, pentas ini akan diselenggarakan selama 6 kali pertunjukan dalam setahun. Diikuti oleh komunitas-komunitas sastra dan teater di Kulonprogo. (Zur EA)



CERPEN

TITIK BALIK

Cerpen Z. Latif

Kedua orang itu berjalan berdampingan. Tinggi keduanya tidak jauh berbeda. Mungkin selisih setengah senti saja.Yang satu rambutnya cepak memakai baju kaos warna krem. Dengan baju itu terlihat otot-ototnya yang kencang. Langkahnya tegak dan mantap. Satunya lagi berambut sedikit gondrong berkucir sebahu dengan jaket kulit yang longgar. Memakai sarung warna merah hati bergaris kotak putih. Melihat warnanya, sarung itu seperti belum lama keluar dari toko. Keduanya melangkah ke arah sebuah lincak dan duduk di sana.

”Met,” si Gondrong melanjutkan pembicaraan setelah keduanya terdiam beberapa saat. ”Aku betul-betul heran sama dia.” Dia berhenti sebentar untuk menghisap rokoknya yang masih seperempat batang. ”Aku berhubungan dengan dia sudah lama tapi kenapa dia mengajukan syarat itu sekarang?”. Sunyi. Slamet belum berkomentar, sepertinya dia ingin temannya meneruskan cerita.

”Kau tahu, Met?” Si gondrong bertanya, seperti kepada dirinya sendiri karena jawaban pertanyaan itu ada pada cerita selanjutnya. ”Waktu aku bilang akan melamarnya, dia tanya padaku, Mas Toni di rumah sholat nggak? Tentu saja aku serba salah menjawabnya. Kalau aku katakan sholat, kapan aku mengerjakannya? Lalu kalau aku katakan tidak, yaa... malu dong sama dia. Aku akhirnya hanya diam. Sepertinya dia tahu kalau aku nggak pernah sholat sama sekali.”

”Met”

”Ya. Kenapa?” Slamet menegakkan kepalanya.

”Kamu dengar nggak ceritaku?” Si gondrong bernama Toni itu bertanya menyelidik, khawatir ceritanya hanya didengar oleh angin malam dan jengkerik di kebun sebelah. ”Ya dengar dong. Masak nggak dengar. Aku ini belum tuli dan semoga sampai tua telingaku masih sepeka sekarang. Terus gimana?” Sahut Slamet menegaskan perhatiannya.

”Aku sebenarnya agak khawatir kalau ceritaku ini hanya didengar burung hantu”, lanjut Toni tanpa ekspresi.

”Apa kau kira aku ini hantu? Aku memang punya burung tetapi aku bukan hantu. Enak saja!” Sela Slamet dengan suara sedikit mengeras. Wajahnya lebih ditegakkan. Matanya memandang Toni untuk memberi perhatian lebih.

Sunyi lagi. Asap rokok dari hisapan terakhir mengepul di udara. Toni melempar puntungnya ke sela-sela kerikil halaman.

”Kemudian dia tanya begini Met, kalau baca al-Qur’an Mas Toni bisa nggak? Tentu saja pertanyaan ini juga seperti pukulan telak bagiku. Boro-boro baca, hurufnya saja aku nggak tahu namanya. Hurufnya kriting semua, Man” lanjut Toni mengutip kata-kata dalam sebuah film Dedy Mizwar. Sunyi lagi. Terdengar derit pohon bambu tertiup angin malam.

”Kenapa kau nggak bilang bisa? Dia ’kan nggak akan mengujimu, to? Kecuali kalau dia memegang al-Qur’an dan menyorongkannya padamu”, tanya Slamet. Pertanyaan yang diikuti kalimat sedikit ketus. Toni tidak menunjukkan reaksi tersinggung atau jengkel. Ekspresinya datar. Dia tahu Slamet bukannya tidak peduli. Komunikasi bagi keduanya tidak semata-mata kata-kata tapi lebih kepada sikap dan perilaku.

”Ya nggak bisa begitu. Nanti kalau dia betul jadi istriku dan aku ketahuan nggak bisa baca Al-Qur’an, terus bagaimana?” bela Toni.

”Ya nggak apa-apa ’kan? Toh dia sudah jadi istrimu,” balas Slamet.

”Ah, nggak enak rasanya menipu diri sendiri. Aku jawab saja, nggak bisa. Lalu dia bilang begini, ’Mas, suami itu adalah imam keluarga. Kalau imamnya nggak bisa baca Al-Qur’an, terus sholatnya bagaimana, sedangkan sholat harus pakai bacaan Al-Qur’an?’ Dia tanya begitu. Mendengar itu aku nggak bisa berkomentar. Kami kemudiam terdiam beberapa saat. Rasanya seperti beberapa abad. Aku nggak tahu mesti bicara apa. Bibirku lengket seperti kena lem alteco.

”Jangan berlebihan begitu. Memangnya kamu doyan lem?” Slamet menyela supaya Toni tidak terlalu larut dalam perasaannya.

”Entahlah, Met.” Lirih Toni berucap. Ucapan yang sebenarnya menyikapi suasana tetapi terdengar seperti menjawab pertanyaan, padahal dia tidak pernah makan lem sama sekali.

Toni melanjutkan, ”Entah berapa lama kami terdiam. Setelah aku merasa pembicaraan selanjutnya sudah tidak nyaman lagi, aku pun pamit pulang. Kau perlu tahu, Met. Sepanjang perjalanan pulang itu aku menangis. Untung saja waktu itu malam hari, Malam Minggu, jadi aku tidak terlalu malu pada orang-orang di jalan.”

”Laki-laki nggak boleh menangis”, Ucap Slamet menirukan orang tua yang menenangkan anak laki-lakinya yang menangis. Toni tidak berkomentar. Dia malah melanjutkan ceritanya.

”Sejak itu aku ingin sekali belajar baca Al-Qur’an. Aku menyesal, kenapa aku dulu tidak sekolah di Madrasah Tsanawiyah saja kemudian ke Madrasah Aliyah supaya sekarang aku sudah lancar baca Al-Qur’an.”

”Belajar Al-Qur’an kan bisa di rumah. Ngaji ke Kyai Munif.” Bantah Slamet.

”Persoalannya bukan itu, Met. Aku malu kalau belajar bareng anak-anak kecil. Aku takut diketawain, orang sebesar ini kok baru belajar Iqra’.” Toni membela diri.

”Ya kalau malu terus, kapan bisanya? Malu memang perlu, karena itu yang membuat dirimu jelas laki-laki atau perempuan. Tetapi kalau tidak pada tempatnya, atau bertempat di tempat lain apalagi di kepala, malu justru akan merugikan diri sendiri” komentar Slamet.

”Apa maksudmu? Malu itu nggak ada hubungannya dengan jenis kelamin”, sahut Toni.

”Ada temanku yang lebih tua dari kamu,” Slamet berubah lebih serius. Rupanya dia khawatir kalau komentar-komentar yang tidak jelas akan membuat kawannya ini marah.

”Dia sudah punya dua anak dan sekarang baru belajar Iqra’. Bayangkan, sudah punya dua anak. Tapi kalau kamu ingin belajar sekarang, janganlah karena kau ingin melamar perempuan. Karena jika itu sebabnya, maka ketika lamaranmu ditolak kau juga berhenti belajar.” Lanjut Slamet. Dalam hatinya dia tertawa ketika mengucapkan petuahnya. Dia merasa seperti guru spiritual. Keduanya terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai rasa kantuk menyerang dan keduanya sepakat untuk terlelap.

Kulonprogo, Juni 2007



GEGURITAN

GEGURITAN

Bongso Tempe
(Kagem Mas Presiden)

Oleh : A. Samsul Ma’arif

Bung Karno sesorah
Ojo mung dadi bangsa tempe
murahan
Cekereme.
Mulane
Diagitasi terus
Gempur Nekolim
Inggris dilinggis
Jepang ditendang
Amerika disetrika.
Ning saiki cingak
Jaman wis Presiden ganti bola-bali
Ananging Rakyat malah san saya rekasa
Di linggis
Di tendang
Di setrika
Wa akhiruhu
Tan ana kumecap
Mung:
Gempur
L a w an

Somenggalan, 23 Januari 2008




PUISI

Gerimis di Bulan Maret

Oleh : Andjar

Lancip jarum-jarum hujan, menandai jejalan cemara jarang

Menghantar langkahku di kelokan itu

Di situ kau berdiam;

Membuka korden pagi di musim-musim tropis

Mengemasi mimpi-mimpi di rantau

Kuyup jiwaku mengenalmu

Ada sedu katamu di gerimis itu

Kukenang lagi malam, wajahmu hadapku berpendar lelampu jalan

Sederap jarak mendekat

Sepertinya kita pernah bertemu; kau tak asing bagiku

Lama bermukim-berumah di jiwaku,

Menjadi degup hari-hari

Jum’at, 16 Maret 2007

Karang Malang, Yogyakarta



tentang-mu

oleh : fathin chamama

biarkan selalu melagu

jagakan jiwa menadakan-mu

tentang-mu adalah bertanya

dan jawab adalah engkau

karena engkau adalah cinta

meski dari-mu adalah misteri

diri-mu lah sebenar sejati

pada-mu…….

seluruh alamlah menunduk

maha benar engkau

dengan segala kehendak-mu

Kulon progo, August 31 2005



Namaku Sarjana

Oleh : Pukon

ibuku seorang guru sekolah dasar

bapakku memeras keringat guna mengairi sawah

padahal kakekku seorang kyai,

lalu namaku sarjana

orang-orang mengatakan kami sedarah

ada yang mengatakan kami tak setumpah

karena kami tidak jatuh dalam satu wadah,

lalu, namaku sarjana?

Ibuku berharap aku jadi pintar

bapakku sesekali menyuruhku kerja di sawah

hidup memang susah

kakekku punya pesan, jadilah anak soleh,

memang namaku sarjana

namaku sarjana

cita-cita selalu kubawa

menjadi pintar, pekerja keras, dan

tau mana yang baik, mana yang buruk

jadi, ibuku, bapakku, juga kakekku,

adalah bagian dari namaku

Sebuah Rongga, November 2007



LURUH

Oleh : Yani

Tak lagi tergubahkan apa yang kau ingini

Tiada lagi keinginankah hatimu untuk menyudahi

Tak terpikirkan olehmu kau telah menyakiti

Perasaan luka hatiku yang tak lagi kau temui

Yang aku rindu kini tak lagi di sisi

Yang aku puja tak lagi ingin mengerti

Salahkah jika aku memberimu suatu uji

Relakah kau andai kuterima yang tak ku mimpi

Kau relakan aku lepas tanpa suatu arti

Kau restui masa mengambilku dari sisimu

Adakah kesungguhan kasihmu menyertaiku

Adakah kesungguhan cintamu menemaniku

Kini tak lagi ujiku terlampaui

Kau terlalu ikhlas bersama mimpi

Tiada kesungguhan dirimu yang tak kuingini

Karena kini kau bermimpi beda dengan yang kumimpi

Mungkinkah dulu kau harapkan hanya suatu khayalan

Dan sehingga kau telah tepikan kini

Seperti apakah kau hendak samai

Ciptakan hatiku yang kini telah kau lukai




Cinta

Oleh : Verlienda Yunita

Ketika malam datang

Hati ini jadi tak karuan

Foto dan wajahmu selalu kupandangi

Dengan penuh rindu dan harapan

Kutahu dan selalu kupikirkan

Kalau penantian itu sangat membosankan

Namun ini sudah aku putuskan

Karena tidak mudah untuk menanti seseorang

Yang akan kembali dengan kepastian

Kucoba dan selalu kurenungkan

Ternyata cintaku ini penuh gangguan

Walaupun kutahu ini memang sebuah rintangan

Yang harus dihadapi agar tak jadi penghalang

Seandainya semua ini hanya tipuan

Maka cepatlah aku dibangunkan

Agar tidak larut dalam sebuah hayalan

Menghayalkan cinta yang tak karuan

Cintaku tak pernah ada penyesalan

Cintaku tak pernah ada perkenalan

Cintaku berawal dari sebuah pertengkaran

Cintaku adalah kedamaian

Cintaku adalah keberuntungan

Karena cintaku adalah dunia pisang??

Yang hijau dan kuning melambangkan kesuburan...



Assalamualaikum

Oleh : Hendri Sulistya

Inilah salamku

yang pertama ku ucap

sebagai tanda perkenalanku

maka perkenankanlah aku

masuk dalam kehidupanmu

tuk mengukir waktu



Zamrud

; EA

Oleh : Chyto

Kata yang kubangun dari gelisah

Saat hujan dinginkan tulang-tulangku hingga kaku

: Teringat percumbuan kita tadi siang

Aroma terapi tubuhmu gairahkan resahku

Selebihnya hanya itu..

Hujan tak habis-habis, 130108



SMS DARI PEMBACA

”Tadi aq buka website lontar. Bagus..” (Lathif MP - 0817274xxx)

”Mbak aq mo ngsh saran bwt Lontar, gmn klo 1 saat nnt semua puisi dLontar tu dibukukn trs klo laku y dijual. Lmyn. Bsa mmbri knngan bwt penulisan KP”

(Marwi - 0817467xxx)



BACA BUKU

Hidup adalah Perjuangan?

Judul : Diary Hitam Putih

Penulis : Restu R.A.

Penerbit : Matapena (Novel Pop Pesantren), Yogyakarta

Cetakan : I, Mei 2007

Tebal : vi + 152 halaman, 11 x 17 cm

Warna kehidupan manusia berbeda-beda, begitu juga kombinasi dan detil perubahannya. Kata Inayat Khan—spiritualis asal India, semua manusia mengalami evolusi terus menerus untuk menemukan jati dirinya, untuk mengetahui dan mengembalikan siapakah sebenarnya dirinya. Karena itu Tuhan menghargai seseorang yang menyadari proses tersebut. Evolusi dari ketidaksempurnaan menuju kesempurnaan.

Novel sederhana ini mengisahkan pencarian jati diri seorang remaja, Ryan. Ia memiliki komunitas pecandu minuman keras yang menjadi bagian dari masa silamnya. Tapi sang ayah berhasil mengeluarkan Ryan dari hal buruk itu dengan mengirimnya ke pesantren, yang membuka kisah novel ini.

Menjalani kehidupan yang sama sekali baru tentu tidak mudah, apalagi kebebasan-kebebasan masa silam telah ’dirampas’ dan diganti aktivitas yang sarat aturan, mulai dari bangun tidur sampai jam berangkat tidur pun harus ditepati, lengkap dengan ritual pendekatan kepada Tuhan yang tidak mengenal waktu berhenti. Semula Ryan merasa asing dan tertekan, tetapi berkat bimbingan Kyai dan para santri senior yang ulet, sedikit demi sedikit Ryan mengalami perkembangan positif. Tidak berarti tanpa tantangan, Ryan sering mengalami ujian terberat, yakni saat-saat datang godaan untuk kembali mengonsumsi minuman haram. Ironisnya, ada oknum seniornya yang juga bernasib sama dan menggodanya untuk menenggak minuman itu. Dia harus berjuang keras. Ryan kerap kewalahan mengendalikan tubuhnya yang kecanduan. Ternyata tidak mudah menetralkan pengaruh tersebut jika rangsangan untuk minum itu datang.

Kisah diakhiri ketika memasuki bulan suci Ramadhan di pesantren. Ryan sudah lumayan memiliki kesadaran untuk konsisten membunuh habis kebiasaan masa lalunya. Niatan suci Ryan untuk mengisi lembaran baru yang putih bersih dari rantai hawa nafsu dipersaksikan kepada Tuhannya dalam sebuah munajat doa.

Yang khas dari novel ini adalah menyajikan karya puisi pendek setiap awal bagian. Sedangkan bagian ke satu sebagai pembuka diformat dengan puisi panjang. Begitu juga bagian ke-16 sebagai pamungkas dihidangkan beberapa puisi doa.

Di dalam novel ini, seperti mengandung beberapa teka-teki karena tidak diceritakan secara tegas apa yang sebenarnya yang terjadi dalam kehidupan Ryan. Apakah hanya hitamnya Ryan dengan minuman kerasnya? Tak ada jawaban mengapa Ryan sampai terjerumus ke lembah hitam. Juga tidak ada deskripsi bagaimana latar belakang santri-santri di pesantren tersebut berikut visi misi pesantren yang ditempati.

Sebagai pelengkap pustaka, buku ini layak dibaca. Betapa gejolak anak muda tetap butuh pengarahan dan sentuhan kasih sayang dari sekelilingnya. Tak mudah mengganti lembar hitam menuju putih. Tuhan akan menghargai setiap perjuangan!

(Isnani Nurhalimah, alumnus UIN, mengajar di MAN 2 Wates)



BIODATA PENULIS LONTAR

Andjar, nama panggilan dari A.Ginandjar Wiludjeng. Lelaki kelahiran Banyumas, 11 Juni 1983. Mahasiswa Teknik Arsitektur Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY), dan ASDRAFI (Akademi Seni Drama Film Indonesia). Dipercaya sebagai Ketua Teater Dokumen UWMY (Pendopo Mangkubumen) 2005-2007. Puisinya terkumpul di Kumpulan sajak; "Gamang, Ragu, Resah" (cetak terbatas) dan "Atjeh, Sebuah Kesaksian Penyair". Aktif ngamen puisi dari trotoar, bus, rumah ke rumah, sambil jualan antologi sajak. Kost di nDalem Mangkubumen Yogyakarta.

A. Samsul Ma’arif staf pengajar di MTs Ma’arif Dondong Panjatan. Kini, sibuk kuliah lagi di Bantul sambil berjualan buku-buku. Tinggal di Galur.

Chyto, perempuan energik yang tetap rendah hati alumnus UIN Sunan Kalijaga. Dengan tangan dinginnya, ia masih berkesibukan memimpin LONTAR. Tinggal di Plumbon Temon.

Fathin Chamama, penyair yang sering mengeluh kalau diminta biodata siapa jati dirinya. Sulit, katanya. Yang pasti perempuan penyair satu ini adalah alumnus Statistik UGM dan bergiat aktif di dunia pendidikan dan pergerakan perempuan.

Hendri Sulistya, lahir di Kulonprogo, 15-05-’85. Nyantri di PP. An-Nadwah Bendungan. Puisinya pernah dimuat majalah HORISON sewaktu duduk di bangku SMA. Bersama kawan-kawannya, pernah menerbitkan buletin Kettappel (Kita Peduli Pelajar) yang dipelopori ISPGM (Ikatan Santri Peduli Generasi Muda) di mana ia sebagai Ketuanya. Tinggal di Kauman Bendungan.

Pukon, merupakan nama lain dari Osephe H. W. Mahasiswa Sastra Inggris Sanata Dharma Yogyakarta. Kini tinggal menanti detik-detik meraih Sarjana (seperti judul puisinya, hehe..). Tinggal di Yogyakarta.

Verlienda Yunita, alumni SMK Muh. Gadingan Wates. Sekarang dia jarang berkabar kepada kawan-kawan redaksi. Tapi puisinya masih tertinggal di meja redaksi.

Yani, perempuan kelahiran Kulonprogo, 12 Februari 1981. Alumni MAN Wates 2. Tinggal di Siluwok Temon.

Z. Lathif, cerpenis yang penyair atau penyair yang cerpenis? Dua-duanya memang melekat pada sang lay-outer LONTAR ini. Tinggal di Kauman Bendungan.



KATA-KATA MUTIARA

Hati orang tolol ada di lidah sedang lidah orang bijak ada di hati.

(mahfudzat)