Monday, May 25, 2009

Lontar 20

BILIK REDAKSI


Salam Sastra!

Pecinta LONTAR yang baik hati, dengan segala sesal yang sejatinya tak ingin kami bagi, kami harus berucap mohon maaf yang terdalam. Atas vakumnya buletin sastra tercinta ini selama….lamaaaaaa sekali. Jeratan tali di kaki-kaki kami yang sungguh sukar untuk kami urai dan kami enyahkan, membuat kami kesulitan berjalan dan berlari jauh mengejar kalian: pembaca dan pecinta LONTAR yang budiman, yang selalu setia mengirim rindu kepada kami. Sesungguhnya, kami tak malu dan tak ragu untuk mengatakan bahwa kami pun rindu. Mudah-mudahan ini tidak terdengar seperti apologi. He he.

Edisi terbaru kali ini dan seterusnya kolom BYAR sudah tak ada lagi digantikan dengan kolom “sejenis tapi tak sama”, seiring kebijakan pergeseran kerja-kerja redaksi dan sedikit alasan regenerasi. Semoga pembaca maklum.

Maka, mulai saat ini ijinkan kami bertandang lagi, menyapa kalian semua. Mendenyutkan kembali nafas bersastra di tlatah Kulonprogo yang selama ini terasa ‘mati suri’.

Rentangkanlah tangan kalian. Biar kita selalu hangat dan mesra.

Hmm, salam hangat!

Selamat Membaca...



TETES


Siklus: Mata Rantai yang tak Bisa Putus?

TULISAN ini tak hendak menempatkan diri sebagai katalis dari rona demokrasi yang tengah “dipestakan” di negeri ini. Sekedar guneman yang terbata-bata menyimak peta saja.

Ungkapan Lord Acton mungkin masih cukup populer hingga kini; “kekuasaan cenderung korup”, dan demokrasi di negeri ini, meminjam istilahnya Rocky Gerung, rupanya diturunkan maknanya menjadi dangkal dan banal: sekedar transaksi kekuasaan (garis bawah dari saya). Riskan untuk disusupi tindak korup. Korup dalam makna luas yang tak melulu berarti menilap duit. Tak sepenuhnya sinis memang, tetapi beberapa bulan terakhir ini semua tampak nyata di depan penciuman kita. Akrobat yang dianggap sebagai ”pesta demokrasi” yang indah dan dinanti-nanti, tak lebih dari rutinitas yang dangkal. Terasa sekali bancakan duit rakyat berhamburan di seluruh lokasi berikut persoalan yang bejibun meningkahi kekurangan demi kekurangan penyelenggaraan hajatan itu sendiri. Sikap pesimis dan apatis di elemen besar warga negeri ini, membuktikan helat yang diselenggarakan terasa kurang nresep. Hanya menambahi jenuh yang masih belum pergi. Entahlah.

Sahdan, negeri ini dinyalakan sumbu kemerdekaannya untuk menuai hak warganya meraih kesejahteraan hidup. Klise sih. Kemudian demokrasi disepakati sebagai ”yang dibayangkan” sebagai jalan pengelolaan sebuah negeri. Infrastrukturnya melalui di antaranya pemilihan umum. Namanya saja pemilihan; setiap individu berhak memilih ikut dan berhak memilih tidak. Dua hal yang sama-sama tak ringan sebenarnya. Dan pada taraf inilah sesungguhnya kita masuk di sebuah siklus.

Siklus adalah hal yang bersifat berulang, bahkan kadang hanya pengulangan saja, tanpa sesuatu perubahan berarti. Kita pasti tak ingin stagnasi keadaan berlangsung terus di sini. Apakah lantas siklus atau mata rantai itu bisa diputus demi hal besar yang lebih berarti? Jawabannya akan sangat bergantung pada kualitas pemimpin dan agenda kerja yang dihasilkan kelak. Ya. Sosok pemimpin, bukan sosok pejabat.

Wallahua’lam bi ash-showab

(NDARI saja, www.sketsajagad.blogspot.com)



ADA APA DENGAN LA

Tadarus Puisi dan Bedah Buku “Tasawuf Cinta”

Sebagai perwujudan khidmah terhadap dunia sastra di Kulon Progo, pada tanggal 16 Agustus 2008. Komunitas Sastra Lumbung Aksara mengadakan hajatan bulanannya yaitu Tadarus Puisi yang bertempat di Pondok AB, selatan Taman Makam Pahlawan Giripeni Wates. Hadir pada kesempatan itu para punggawa serta simpatisan LA., diantaranya Lurah Marwanto, Siti Masitoh, AriZur, Ndari, Didik Komaidi, Rio “Rock the World”, Burhan, Sukardi Cimeng, dll.

Acara yang dipandu oleh Borhanul Fahruda tersebut berlangsung meriah. Diawali dengan pembacaan tahlil oleh Didik Komaidi, dilanjutkan dengan bedah buku “Tasawuf Cinta” karya Gus Edo dari Jombang Jawa Timur. Sebagai pembedah kala itu adalah Sukardi Cimeng.

Sehabis bedah buku diadakan diskusi sastra diantara masing-masing peserta TP. Dalam diskusi tersebut banyak disinggung tentang merebaknya novel-novel bernuansa Islam dengan label “Cinta”. Fenomena tersebut disinyalir hanya sebuah “latah” belaka, dimana hal tersebut merupakan pragmatisme dari penulis dalam mengejar pasar yang hanya menguntungkan bagi pemodal (kapitalis), dimana dalam hal ini adalah penerbit. Menanggapi hal tersebut, proses kreatif yang terus-menerus sangat diperlukan sehingga akan terbentuk sebuah karakter dari karya sastra.

Acara tersebut diakhiri dengan pembacaan puisi oleh masing-masing peserta. (Cimeng).


Tadarus Puisi dan Diskusi Buku LA

Kamis, 26 Februari 2009 bertempat di Taman Binangun Kulon Progo. Di tengah cuaca mendung dan pekat disertai rintik hujan yang menyelimuti tidak menyurutkan sekitar 25 orang untuk membaca puisi dan berdiskusi tentang buku Kata-Kata Penggugah Motivasi untuk Mulai Menulis karya Anton WP. Sebagai pembedah buku kali ini adalah Rio Nisafa. Dalam kesempatan itu dikatakan bahwa bagaimana buku tersebut mampu memotivasi bagi setiap pembacanya untuk memulai menulis.

Setelah tanya jawab dengan peserta selesai, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi. Setiap peserta yang hadir turut membacakan puisinya, baik itu karya sendiri atau karya orang lain. Puisi dari Joko Pinurbo menjadi puisi yang kala itu banyak dibaca oleh peserta. Menurut Zahra, salah seorang peserta dari MAN 2 Wates ini mengatakan bahwa acara ini sangat bagus, setidaknya menginspirasi untuk menggerakkan sanggar sastra disekolahnya.(Sukardi Cimeng)


Berbuka dengan Puisi

Berita AAdLA kali ini dibuka dengan flashback di tahun 2008 lalu. Di berbagai tempat, buka puasa bersama menjadi kegiatan “dadakan” yang diagendakan masyarakat saat memasuki bulan Ramadhan. Pun demikian halnya bagi Komunitas LA pada Ramadhan 1429 H silam. Sebagai wadah masyarakat pecinta sastra di Kulon Progo, Ahad tanggal 28 September 2008, Komunitas LA secara ”dadakan” pula menyelenggarakan Tadarus Puisi yang dikemas dalam bentuk buka puasa bersama di kediaman koordinator Lumbung Aksara Marwanto, Maesan Lendah. Selain dihadiri oleh keluarga besar Komunitas LA, acara ini juga dihadiri oleh sahabat-sahabat dari komunitas Padhang mBulan dan Sangsisaku. Pada bulan yang sama 2 tahun sebelumnya dan di tempat ini pulalah, Tadarus Puisi pertama kali digelar dan hingga sampai saat ini masih terus rutin diselenggarakan. (Hening)



SMS (SEPUTAR MENULIS SASTRA)

Sportivitas dalam Berkarya

Beberapa tahun silam pernah terjadi polemik seru perihal menulis sastra kaitannya dengan pencapaian tujuan/imbalan materi. Ada yang mengutuk habis-habisan sikap pragmatis-pamrih penulis yang mengejar materi (atau kepentingan lain) dari tulisannya; nama dan uang. Ada yang toleran dan apologis dengan sekian alasan. Toh, semuanya kembali kepada si penulis sastra itu sendiri. Apakah menulis merupakan panggilan jiwanya yang ”tidak main-main”, luhur, agung, ataukah menulis itu baginya yang penting dimuat dan dapat honor/kontraprestasi, syukur-syukur namanya menjadi dikenal--terutama oleh redaktur agar jika mengirim karya di lain saat dapat dimuat lagi?

Bisa jadi, industri berikut infrastruktur sastra yang memberi tempat khusus pada karya sastra adalah mula bukane. Godaan pragmatis akan pundi-pundi susah ditolak. Pun halnya dengan prestisius nama yang menjadi dikenal orang. Media massa menyediakan kesempatan kepada siapa saja untuk mempublikasikan karyanya dengan teknis yang mudah dan murah dibanding jika menerbitkan sendiri--melalui buku misalnya. Di sini, kompetisi atas kualitas karya sesungguhnya diutamakan, meski juga bukan rahasia lagi kalau faktor kedekatan (relasi) dengan redaktur juga menjadi kunci bandrek bagi dimuatnya karya sastra.

Kedengarannya, faktor pragmatisme dalam menulis karya sastra adalah hal yang manusiawi--biasa. Akan tetapi, bisakah itu dibenarkan? Atau katakanlah jika itu bisa dibenarkan, bisakah dibenarkan pula jika demi mencapainya, maka seorang penulis harus ”melacurkan” integritas pribadinya dengan menanggalkan pakaian kejujuran dan sportivitas dalam berkarya? Banyak contoh bisa disebut, seperti plagiat (meniru atau mencuri karya orang lain baik separo atau keseluruhan), mengirim satu karya yang sama ke lebih dari satu media massa, mengirim karya dengan diatasnamakan orang lain (istri, anak, pacar, kawan atau bahkan atas nama lembaga atau komunitas tetapi untuk kepentingan pribadi), menulis dengan ”nggaruk sponsor” tokoh-tokoh kenamaan (yang bukan dimaksudkan untuk memperkuat wacana, tetapi untuk tujuan popularitas--politik citra--pribadi penulis), dan lain-lain. Hal terakhir sesungguhnya menurut saya justru memperlihatkan betapa tidak PD-nya si penulis itu akan ”siapa dirinya” sehingga musti mencatut nama orang lain agar ”siapa dirinya” menjadi ada atau memiliki ”nilai tambah”.

Kalau boleh sedikit berbagi kabar, menulis sastra tak ubahnya pekerjaan yang luhur dan agung. Karena ia menyampaikan bagian terdalam tak terlihat dari sosok manusia: pikiran, jiwa, dan perasaan. Seorang penulis barangkali bisa dikatakan seperti nabi-nabi, atau orang suci, yang memiliki tanggung jawab moral ”menyampaikan risalah” dan karenanya dituntut untuk selalu ”terjaga” dari hal pragmatisme semu yang akan merusak ”risalah terdalam” pribadinya itu sendiri.

Makanya saya sering berkerut kening jika ada iklan yang bombastis dalam setiap akan diadakannya pelatihan menulis; ”Anda ingin kaya? Ikutilah pelatihan menulis, dapatkan resep jitu menembus media massa atau penerbit. Jadilah terkenal dan kaya dengan menjadi penulis”. Wah!

Semoga kalimat saya barusan tidak terlalu hiperbolis. Apa pun, rasa-rasanya, sungguh indah jika kita bisa senantiasa berbudaya untuk menjunjung tinggi sportivitas dan kejujuran dalam berkarya. Setiap karya adalah berharga, orisinil, unik, luhur, yang karenanya sayang jika harus dikotori oleh ”pragmatisme kesemuan”. Seperti kata seorang kawan yang tidak mau disebut namanya, bahwa ”karya sastra itu separo wahyu”. Aih...

Wallahua'lam bi ash-showab.

Selamat Menulis, Dab!

(Akhiriyati Sundari, anggota redaksi LONTAR)



CERPEN

Senja Terakhir

Cerpen Deffnau

Tiap sore Raenjoh sibuk berkeliling dengan gerobaknya, mengangkut sampah. Sampah tetangga sekelilingnya yang sebagian besar orang kaya di sebuah kota kecil. Perutnya mual benar setiap kali menuang sampah ke gerobaknya, apalagi sudah dua hari ia libur tak mengambil sampah karena meriang, aromanya jadi berlipat ganda. Badannya masih terasa berat dan lesu, tapi dipaksakannya untuk bekerja.

Dan sore ini Raenjoh bekerja seperti biasanya. Sampah keluarga Suprana, sampahnya paling banyak, tapi tak pernah memberi uang lebih dari 6 ribu sebulan. Jumlah itu memang Raenjoh sendiri yang mematok tanpa pernah berani menaikkan upahnya. Kadang Raenjoh berharap Pak Suprana menolak uang kembalian ketika uang 10 ribu disodorkan kepadanya. “Yach, namanya juga pedagang, serba dihitung”, Raenjoh mengungkit pribadi pemilik sampah.

Berikutnya sampah dari rumah Bu Sinta, pemilik toko “Apa Saja” di pinggir Jalan Negara. Campur aduk kertas-kertas dan sayur basi. “Eman-eman nih kertas dan dus-dus kosong, lengket sama sayur basi, kenapa tak dipisah-pisahkan supaya bisa diambil pemulung. Malas amat!” sungutnya dalam hati. Sampah rumah berikutnya sudah menunggu Raenjoh. Bak demi bak dituang di gerobaknya.

Gerobak pun penuh, ditariknya ke tempat penampungan sementara di teteg kereta api. Esok pagi truk-truk akan mengangkutnya ke tempat pembuangan akhir. Adzan maghrib menggema di kejauhan, Raenjoh bergegas pulang, seperti sapi menarik gerobaknya yang sudah kosong. Langit jingga. Para tetangga juga pulang dari berbelanja di toserba, ada yang habis jalan-jalan sore, bermain sepeda santai sambil memamerkan motor modifikasi kebanggaannya bersama anak istri mereka. Satu dua senyum pada Raenjoh.

Hari sudah gelap. Diparkirnya gerobak sampah di samping rumah. Raenjoh lelah. Lapar. Raduedhit--istrinya--tak masak apa-apa, tinggal tersisa nasi yang ditanak tadi pagi. Jadilah sore ini Raenjoh makan nasi kecap, lumayan daripada biasanya yang hanya lauk jelantah (minyak goreng bekas) dan garam, meskipun gurih tapi tak cukup bergizi. Terbayang kaleng-kaleng ikan, setumpuk tusuk sate, dan kue-kue yang tadi diangkutnya di antara tumpukan sampah..

***

Pagi menjelang. Raduedhit sibuk membantu keperluan anak-anaknya sebelum berangkat sekolah. Sulung kelas 1 SMP, adiknya kelas 5 SD, adiknya lagi kelas 2 SD, sedang Rakopen--si bungsu--baru 3 tahun. Setelah itu Raduedhit mencuci di rumah keluarga Subondo. Si Rakopen selalu ikut ibunya karena di rumah sendirian. Sesekali Raduedhit berteriak-teriak menghalau Rakopen yang bermain-main air cucian. Jam 11 siang Raduedhit selesai mengerjakan perintah keluarga Subondo. Kontraknya sih cuma mencuci, tapi praktiknya Raduedhit masih disuruh ini itu, kalau dituruti tak ada habisnya. Dalam hal ini Raduedhit dianggap keluarga sendiri, artinya tanpa bayaran kecuali upah mencuci. Raduedhit tak kuasa menolak tetangga dan sekaligus bossnya itu.

Ketika Raduedhit pulang mencuci, seperti biasa rumahnya masih berantakan dan setumpuk pekerjaan rumah tangga menunggunya. Selama Raduedhit pergi kerja menjadi tukang cuci, Raenjoh bingung di rumah harus mengerjakan apa, mengurus rumah merasa bukan tugasnya meskipun tangannya nganggur, mau ngantor sudah pasti tak ada yang sudi menerima, ia tak punya ketrampilan apa-apa, juga tak mengenyam pendidikan. Kantornya yang sudah pasti dan harus dijalaninya setiap sore adalah dari bak sampah ke bak sampah.

***

Suatu sore. Raenjoh menarik gerobak sampahnya. “Ups, keterlaluan”, umpat Raenjoh. Pembalut wanita yang masih basah kemerahan dibuang begitu saja di tempat sampah Bu Jorse, tanpa dicuci, tanpa dibungkus. Raenjoh memungutnya, melempar ke gerobak.

Berikutnya sampah keluarga Subondo, tempat istri Raenjoh menjadi tukang cuci. Kaleng kornet, dos susu, bungkus sosis, Raenjoh belum tahu seperti apa rasanya, mungkin enak sekali, dan, aha… ada struk belanja toserba yang sudah lusuh. Raenjoh coba membaca… “Wah wah wah, banyak amat belanjanya, kenapa mesti membeli barang neko-neko seperti itu, mendingan uangnya dikasihkan aku aja untuk bayar sekolah dan lauk anak-anakku, toh dia nggak bakal mati meski nggak belanja aneh-aneh kayak gitu, dasar boros!”, Raenjoh terlihat geram.

Dituangnya semua isi tong sampah ke gerobak, lalu “plok!”, pampers bayi yang belum dibuang tinjanya melayang. Raenjoh sejenak tertegun, merasa tak berharga. “Pampers kotornya untukku, yang nemplok di popoknya untuk istriku, lalu anakku si Rakopen bermain-main dengan air cuciannya. Kasihan anak istriku. Subondo benar-benar manusia kemaki. Dumeh Sugih”.

Sampah berikutnya menunggu giliran. Raenjoh sudahi pikiran-pikirannya. Sampai juga di teteg kereta api, saatnya Raenjoh kosongkan lagi gerobaknya, lalu bergegas pulang. Jari tangannya luka, tergores pecahan gelas kaca di bak sampah Pak Sugaya.

***

Hari demi hari Raenjoh menjalani. Setiap petang mengangkut sampah. Kadang-kadang Raenjoh tak bersemangat. Ya, tapi setidaknya Raenjoh tak ingin anak-anaknya menjadi sampah. Lelaki itu merasa harus tetap bekerja. Raenjoh seolah tengah menunggu kapan nasibnya berubah. Mungkin sebuah keajaiban bila di negeri Raenjoh ada yang menaruh perhatian kepadanya. Mungkin memberinya modal, atau ketrampilan, atau…. “Atau…mungkin keadaan sepertiku sengaja dibiarkan untuk keuntungan mereka saja, mempekerjakan orang kepepet sepertiku dengan upah serendah-rendahnya…”, pikiran kacau melintas-lintas di kepalanya. Raenjoh ingin berubah, tapi bagaimana caranya? Apa harus menunggu seseorang menjemputnya, menanyakan keadaannya, lalu mengubah jalan hidupnya? Ah, rasanya itu harapan yang kelewat indah.

***

Pagi. Sampah menumpuk. Kemarin sore Raenjoh tak nampak. Seperi ada keperluan penting yang lain.

Sore. Raenjoh tidak “ngantor”. Mungkin mengunjungi orang tuanya di desa.

Sore berikutnya. Sampah makin menumpuk. Ah, mungkin Raenjoh belum selesai urusannya.

Sorenya lagi. Sampah tak diangkut. Baunya menusuk. Hingga sore-sore seterusnya, Raenjoh tak muncul-muncul. Sumpah serapah ditujukan kepadanya, Raenjoh dituduh menjadi biang keladi kekumuhan yang mengganggu kenyamanan orang-orang kaya.

***

Raenjoh di rumah saja. Tubuhnya yang rapuh terbaring. Typus membuat badannya panas, TBC membuat batuknya mengkis-mengkis. Lukanya mengalami infeksi, tergores pecahan gelas di bak sampah Pak Sugaya. Mungkin ini hadiah dari keuletan Raenjoh, yang bekerja dengan tangan telanjang, tanpa masker apalagi antiseptik, tanpa pengaman apa pun ketika ia bergelut dengan sampah: kotoran dan penyakit. Kini Raenjoh tahu, seiring senja yang merayap, seseorang telah datang menjemputnya untuk mengubah nasibnya. Entah siapa yang akan menjadi penggantinya nanti. Keheningan menyelimuti.

***

Wates, 13 April 2006



PUISI-PUISI


Untuk Temanku di Yaman

(Surat yang tak pernah kukirim)

Oleh : Alfanuha Yushida


Gemuruh cerita tentangmu

Seiring pulang rombongan haji

Kami di sini sedang menerima ujian hati

Tiang-tiang tempat kami berpegangan

Tiba-tiba menjadi gelombang dan badai

Mencengkeram dan menghempaskan

Menarik dan menghentakkan

Kami limbung kami bingung

Doakan kami

Fainna ma'al 'usri yusra

Fainna ma'al 'usri yusra

Agar tak hilang hati kami

Karena tinggal harapan lah milik kami

Hingga gelombang dan badai

Menjadi tiang kembali

Agar kami bisa berpegangan kembali

Ami…n

Kg, Januari 2007


Lagu Kidung

Oleh : Nur Islamiyatun


Kusenandung dalam rinduku

Di antara doa terucap tak sempurna

Kubariskan irama malam-malamku

Dalam khayal terselip mimpi tak pasti


Jika memang perjalanan ini boleh berujung

Terbuai pasti dalam satu titik

Kan ku rengkuh malam-malam indah-Mu

Dalam baris ayat meski tak sampai pada-Mu

Kan ku dekap sunyi dalam diamku

Yang mendatangkan selinap nikmat

Ketika acara sembabkan wajah

Di antara serpih setiap gerakku


Bukan kemarin terlewati

Bukan hari ini terlampaui

Bukan esok yang akan terganti


Namun...

Di antara setiap hari-hari

Nama-Mu tersuci di hati

Robby...



Senja Adalah Kau dan Aku

Oleh : Nichi


Sejak kau tinggalkan aku saat senja memerah di langit itu

Sejak itu pula aku masih menunggumu

Bersama janji yang kau selipkan malam itu

Kau akan kembali suatu saat nanti

Dan aku percaya itu, aku percaya padamu


Tapi kadang rinduku memuncak dalam sepi

Bergetar perlahan lalu tersingkap oleh bayangmu

Terasa sesak bergelayut dalam diri

Lalu gerimis di mataku mulai mencair

Mungkinkah rinduku terbaca olehmu?



Pagi

Oleh : Asti Widakdo


Dingin pagi membelenggu bersama putih

Kabut menyatu

Kicau burung bersahutan

Berlomba menyenandungkan syair cinta

Sambut sang surya

Perlahan, dingin terurai

Pekat kabut mengerut tersapu senyum

Mengulum

Kilau bintik-bintik embun pagi di pucuk

Daun pun memudar

Mengiringi mentari bersinar

Bising suara motor satu demi satu silih

Berganti

Berkolaborasi dengan kicau burung yang

Sayup-sayup senyap

Lalu-lalang orang, bersepeda, berjalan

Bergerak awali kehidupan

Curahkan pemandangan yang...

Mengumandangkan kuasa Tuhan


Kulonprogo, Januari 2007



JERIT

Oleh : dmeileni. w PB

senja ini aku mati

tertegun diantara resah hati

airmata berlomba turuni celah-celah

terjal asaku yang remuk tergilas

tertindas

terinjak


deru mega yang berarak

memecah lara yang

tersisa diantara duka


senyumku luruh tersapu pekat mata

jari jemari yang gerayangi guratan luka lamaku

terus merasuk

merobek

selaput sendu kidung malamku


tuhan........

biarkan hujan menghapus

jejak-jejak tikaman noda di nadiku



“Malam...”

Oleh : Itul


“Malam...”

Satu butir sapamu lewat telepon genggam kemarin malam

“Malam juga...”

Mestinya kutambah dengan “apa kabar?”

Dan percakapan kita pun mengalir

Sampai kokok ayam mengisyaratkan fajar


Sayang, warna itu sudah kau ramu menjadi ungu

Tinggal kardus coklat dan sampul yang menyimpan bisu



di gerbang lautan api

Oleh : fathin chamama


andai bukan nanMU

sudah menggelap ku ke-7

andai bukan nanMU

sudah menghilang ku kan ku

meski tak 1 cahaya termenangkan

bersyukur patut ku

masih ku meletak di tangga ini.

pada latar tingkat 0

antara surgaMU dan nerakaMU

patut bersyukur ku,

meski titikku dekat ke MalikMU

andai bukan nanMU

tiada bertahan ku mampu

pun tak tahu malu

andai terijinkan,

ingin ku menjauh api ini. aku sayang aku.

wahai……. itu bisaku cuma. cinta aku aku

wahai……. ijinkan ku menjauh api ini

Kulon Progo, June 4 2007



SMS DARI PEMBACA

”Mlm LA, da acr pertmuan gak? Klo ad mu ikut gabung. Penggemar LA ”

(Tanty M2W 085292843XXX)

”Selamat dan sukses buat LA. Di HUT yang ke-3”

(Nur Widodo - 081328005XXX)



BIODATA PENULIS LONTAR

EDISI 20/Th. III/2009

Alfanuha Yushida, entah kapan Bapak satu ini menyelesaikan studi pasca-Sarjananya di Bandung. Yang jelas, kawan-kawan LA selalu terhibur dengan ulah jenakanya. Asli Bendungan Wates.

Asti Widakdo, santri di sebuah pondok pesantren di Bantul yang nyambi mahasiswa. Dia sesekali terlihat masih beredar di seputaran Kulonprogo. Mencari-cari ilham untuk puisi-puisinya.

Deffnau, cerpenis yang ini adalah seorang ibu satu anak--perempuan. Rajin menemani putrinya yang masih duduk di Taman Kanak-Kanak untuk menggambar. Hasilnya? Gambar karya putrinya itu sempat dimuat di Kedaulatan Rakyat. Meski begitu ia menjadi jarang berkonsentrasi untuk menulis cerpen. Tinggal di Wates.

dmeileni. w PB, penyair yang ini baru sekali mengirimkan karyanya ke redaksi. Tanpa biodata lagi. Tapi nama PB yang disandang di belakangnya ditengarai bahwa ia aktif di sanggar seni Padhang mBulan.

Fathin Chamama, penyair yang ini semenjak ditugaskan sebagai aparatur negara di ibukota-nya Indonesia, jarang kumpul bareng di kegiatan rutin LA. Semoga Jakarta tidak mengurungnya dari kegiatan berpuisi.

Itul, nama panggilan dari Maftukhatul Khoiriyah. Anggota redaksi LONTAR ini masih malang-melintang antara Kulonprogo-Jogja, demi tugas hidup yang diembannya. Meski begitu dia selalu mengeluh karena tak bisa bikin puisi. Tinggal di Tirtorahayu Galur.

Nichi, alumni MAN Wates 2 KP. Bisa dibilang gadis satu ini rajin mengirim karya ke redaksi LONTAR. Tapi kok belum pernah nongol di acaranya LA ya?


KATA-KATA MUTIARA

"Membaca buku memang tidak membuat kita jadi selalu benar, tetapi setidaknya buku dapat membantu kita untuk mengakui bahwa kita tidak selalu benar. Membaca buku tidak menjamin kita menjadi sukses, tetapi setidaknya kita tahu bagaimana jalan untuk sukses"

(Garin Nugroho, dalam katalog sebuah pameran buku)

Tuesday, August 26, 2008

LONTAR 19

BILIK REDAKSI

Salam Sastra!
Mulai hari-hari ini dan hampir setahun ke depan, kita akan dihadapkan kembali pada hingar-bingar musim kampanye, mobilisasi massa demi menuju PEMILU 2009. Kita semua barangkali masih akan menduga-duga, euphoria ini mampukah mengalahkan euphoria bulan lalu ketika masyarakat negeri ini bersorai dan gempita menonton Piala Eropa. Kampanye adalah sebuah musim, yang satu saat pasti akan berlalu. Kampanye adalah bagian sah dari sebuah pesta demokrasi. Akan tetapi, semua tersebut itu hanyalah tataran idealnya saja. Berapa PEMILU kita telah ikuti, kondisi bangsa tidak semakin membaik, bukan? Apanya, di mananya yang salah? Seolah-olahkah kalimat ini tendensius mengkambinghitamkan PEMILU? Rasanya tidak. Kami hanya enggan berpikir terlalu rumit dan jauh. Maka kami sendiri merasa harus kembali membuat ”bayangan”. Sebuah komunitas yang dibayangkan bernama Indonesia lebih baik, syukur-syukur yang maju. Bolehlah sedikit nasionalis. Ah....
Selamat Membaca...


BYAR
Kethoprak
( Utik TW )

Ajakan nonton kethoprak. Itulah SMS terakhir yang kuterima darimu. Sebelum kau berpulang pada sebuah pagi yang tak lagi dingin. Matahari, di pagi itu, telah senyum begitu lebar. Ah, bahkan tertawa. Ya, seperti tawamu yang amat lepas: ketika kita sedang tadarus puisi, menyiapkanTBM atau menggarap laporan PMK yang tak kunjung rampung. Dan di jalan Deandeles itu agaknya kau juga tertawa meski dalam dekapan malaikat--, tawa yang terakhir.
Dan bukankah kethoprak (setidaknya dalam perspektif modern) mengajak kita tertawa? Mungkin memang bukan yang utama. Tapi, dalam konotasi tertentu, tawa dalam istilah kethoprak tidak bisa sekedar disebut bumbu. Simak misalnya dalam ungkapan: “Wah, malah kethoprak-an” atau “Jangan sok kethoprak-an, ah”. Ungkapan tersebut sering diartikan: jangan membuat lelucon. Akhirnya, pada tafsir kontemporer, acapkali seni kethoprak direduksi sekedar (pentas) lelucon.

Padahal, pada awal kemunculannya, kethoprak bukanlah berisi cerita yang cuma mengajak kita tertawa. Konon, sejarah kethoprak yang bergulir tahun 1887 dengan jenis kethoprak lesung, dimulai dengan mengusung tema-tema “serius”: babad, legenda, dan adaptasi karya pujangga ternama semacam Pangeran Hamlet karya Shakespeare. Tapi, dalam perkembangannya kethoprak diidentikkan pentas yang mengusung lelucon. Muncullah kethoprak plesetan dan kethoprak humor.

Hal ini agaknya karena kehidupan yang kian pragmatis dan gersang. Dalam pragmatisme hidup, mengusung keseriusan ibarat berteriak ditengah gemuruh gelombang. Dan di dunia yang telah gersang, sesuatu yang serius acapkali membuat kram otak. Sebaliknya, lelucon/humor menjadi segelas es pelepas dahaga. Lalu dengan ditunjang perkembangan audio visual, pentas kethoprak meraih booming. Tapi, kejemuan memang gejala alamiah. Publik pun bosan. Masyarakat muak. Kethoprak tak lagi lucu. Sebab kehidupan nyata itu sendiri yang kemudian menjelma lelucon. Dan, dalam konteks ini, Utik tak salah: menyikapi dunia yang letih dengan tawa yang lepas.
Ah, Utik. Mungkin teman-teman lebih mengenangmu sebagai aktivis yang tak jenak diam (mobilitas telah identik dengan dirimu) atau kedua tahi lalat di pipimu. Namun ijinkan aku selalu terkenang dengan tawamu. Seperti di sore itu, memang ada isak dan air mata mengiringi jenazahmu tapi selanjutnya yang terngiang adalah tawamu. Tawamu yang khas. Mengingatkanku pada pepatah Yahudi: saat manusia berpikir, Tuhan tertawa.***

MARWANTO (www.markbyar.blogspot.com)

RALAT:
Pada LONTAR 18 tertulis “Utik” Tri Wahyuni meninggal pada 8 Mei 2008. Yang betul adalah meninggal pada 8 Juni 2008. Dengan ini kesalahan telah dibetulkan. Redaksi mohon maaf atas kesalahan penulisan tersebut.


ADA APA DENGAN LA

LA Bedah ”Sang Musafir” di Sanggar Singlon
Setelah sekian lama absen dari agenda rutin bulanan LA, Sabtu 28 Juni '08 di Sanggar Singlon Pengasih, komunitas Lumbung Aksara (LA) kembali mengadakan kegiatan bedah buku. Di panggung terbuka yang mirip pendopo berukuran 5 X 10 m, kerabat LA disodori ”Sang Musafir” sebagai menu utama.
Novel Sang Musafir besutan Mohamad Sobary ini begitu detil dikupas oleh Burhanul Fahruda selaku pembedah buku ini. ”Adalah bahasa 'kebebasan' yang menjadi muara perjalanan hidup seseorang” begitu tandasnya usai menceritakan isi novel tersebut. Meski hanya beberapa yang hadir, suasana menjadi hangat karena dimoderatori oleh A. Soendari. Acara ini kemudian ditutup dengan Tadarus Puisi dan lounching LONTAR edisi 17. (Izur EA)

”Panji Koming” di Alun-Alun Wates
Alun-alun Wates kedatangan Panji Koming. Sosok dalam cerita kartun Kompas itu telah menyatroni masyarakat Kulon Progo lewat pementasan teater yang digelar di panggung terbuka Alun-alun Wates, oleh Komunitas Trotoar, Sabtu, 5 Juli 2008,19:30 WIB. Komunitas Trotoar menampilkan teater sebagai bentuk respon terhadap program Dinas Pariwisata dan Budaya Kulon Progo yang memberi kesempatan unjuk gigi pada beberapa komunitas di Kulon Progo. Lewat sosok yang merakyat, konyol, namun cerdas itu Komunitas Trotoar mampu memotret kehidupan masyarakat Indonesia yang penuh dengan trik kasus suap dan sedang terombang-ambing ini.
Sebagai rakyat kecil, Panji koming memiliki impian besar bagi dirinya dan negerinya. Upaya mengadu nasib sebagai orang penting dalam kerajaan mengalami banyak aksi sikut menyikut; mulai dari kasus suap, sogok-menyogok, sampai akhirnya pemberontakan. Alhasil, hukuman mati pun harus ditanggungnya. Beruntung, Pailul mampu menyelamatkannya.
Pentas teater garapan Joko Mursito berdurasi kurang lebih selama 2 jam itu mengolaborasikan gamelan dan beberapa alat musik modern lainnya. Pertunjukan pun menjadi lebih menyatu dengan budaya lokal dan masyarakat setempat. Tampak beberapa pejabat dinas KP, perwakilan dari komunitas LA dan beberapa komunitas lainnya, serta masyarakat setempat menonton dalam suasana yang bergairah. (Osephe)

Bimtek Perpusda DIY
Penuhi undangan Perpusda DIY, senin 30 juni 3 juli 2008 LA mengirimkan wakilnya, The Pukon, untuk mengikuti Bimbingan Teknis Perpustakaan Desa, di gedung pusat Badan Perpustakaan DIY, Jl. Tentara Rakyat Mataram no. 4 Yogyakarta.
Bimbingan yang melibatkan kurang lebih 40 pengelola perpustakaan kecil yang tersebar di seluruh pelosok desa di DIY tersebut mengusung tema peningkatan SDM melalui pendekatan perpustakaan. Dalam pengantarnya, Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan DIY, Drs. Tulus Widodo menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi pendidikan kita. Dengan bimbingan teknis ini diharapkan perpustakaan-perpustakaan yang berada di desa semakin meningkat baik jumlahnya maupun kualitasnya. Materi yang disampaikan pun cukup menjawab persoalan-persoalan kecil para pustakawan desa selama ini, yaitu pelayanan, klasifikasi, katalogisasi, dan pelestarian perpustakaan. Dengan dinamika tanya jawab dan praktek, bimbingan yang berlangsung selama 4 hari tersebut diikuti secara antusias oleh para peserta. Pihak perpustakaan daerah mengerahkan tak kurang dari 5 stafnya untuk menjadi pembicara, antara lain: Drs. Heru Purwanto sebagai pengampu katalogisasi, Rini Handayani, Msi. sebagai pengampu klasifikasi, Drs. Iskak Budi L sebagai pengampu pelayanan, Petrus Wihardo sebagai pengampu pelestarian, dan beberapa staf lain yang membantu secara teknis. Acara ditutup dengan upacara kecil dan pembagian buku kenangan.
Setelah penuh dengan bekal pengelolaan perpustakaan, para peserta akhirnya pulang dengan PR-nya masing-masing. Di LA sendiri, rencananya akan mengerahkan personilnya untuk merealisasikan bimbingan teknis ini. Mudah-mudahan! (Osephe)


CERPEN

Anak Laki-Laki di Teras Rumah
Dua Belas Tahun yang Lalu

Cerpen Fafa

Mungkin dia bukan siapa-siapa kami. Aku bahkan tak mengenalnya hingga suatu sore ia berdiri di teras rumah, mengepit tas kain kumal, bercelana pendek dan kaos oblong yang sudah mulur. Kakinya polos tanpa alas. Waktu itu aku yang teringat film-film dengan adegan seorang ibu berpesan kepada anaknya ; don't talk to stranger, langsung berlari ke dalam rumah, menjumpai kedua orang tuaku. Mereka keluar, dengan aku membuntut memegangi rok ibuku. Anak kecil itu berdiri menggigil sebab gerimis tiba-tiba bertambah deras. Rambutnya yang masai menutupi sebagian wajahnya. Ayah membimbingnya masuk. Ibuku mengeluarkan serentet pertanyaan seperti muntahan peluru di serial Combat sambil menepiskan peganganku pada roknya.
Sekarang sudah duabelas tahun berselang. Anak itu tumbuh bersama-sama denganku. Ibuku sudah enggan lagi bertanya siapa gerangan dia sebab ayahku akan selalu bilang; dia tak penting. Ibuku sudah tak bertanya-tanya lagi akhirnya. Tapi rupanya keingintahuan seorang perempuan melebihi apapun. Rasa ingin tahu ibu bertahan melewati tahun sampai aku tumbuh dewasa dan anak laki-laki asing itu juga. Apakah ia anak ayah dengan perempuan lain?
Suatu hari ibuku berkata.
"Ibu tak membenci siapapun, apalagi hanya anak kecil kumal yang tiba-tiba datang di tengah gerimis."
Aku diam saja tapi menemukan kelelahan sarat di mata ibuku. Setelah itu ia mengiris kubis sambil menangis.
Anak laki-laki itu tumbuh baik. Ia rajin membantu ayahku di ladang pantai kami. Ia betah menyiangi rumput liar di antara tanaman cabe merah, terbakar matahari. Jika musim bertanam melon, ia akan terlibat dari penanaman benih hingga mengangkut melon-melon matang ke bak pick-up. Kulitnya semakin hari semakin legam tapi ia jauh lebih bersih daripada ketika pertama kali datang ke rumah kami.
Suatu hari yang lembab seperti saat pertama kali dia datang, aku dan anak laki-laki itu bercakap-cakap.
"Ibu selalu sedih karena aku?'
" Barangkali jika kau mau beritahu siapa kau...."
"Kau tahu, aku bisa membaca apa yang akan terjadi besok. Maka biarkan apa yang tak diketahui tetap begitu adanya."
Aku tertawa. Zaman sudah sangat maju, meski kami hidup di desa aku sudah tak percaya lagi dengan hal-hal berbau mistis dan supranatural. Aku lebih percaya pada internet. Maka kubiarkan dia menunggu gelakku habis.
"Kau tak percaya kan? Tapi ayah dan aku percaya."
Sejak hari itu, dia berusaha membuatku percaya bahwa ia bisa membaca masa depan. Ke kamarnya yang penuh dengan gambar konstelasi zodiak anak laki-laki itu sering menuntunku masuk. Di dalam ia akan mencoret-coret menunjukkan gambaran di pikirannya tentang ayam-ayam ayah, berapa bertelur minggu ini, berapa ton hasil ladang cabe, dan ikan apa saja yang dibawa pulang nelayan di pantai dekat ladang kami. Suatu kali ia tak mencoret-coret tapi menatapku dalam-dalam.
"Apa-apaan sih?"
"Ssstt. Aku sedang membaca masa depanmu."
"Ah, katakan saja padaku apa soal ujian besok daripada kau baca masa depanku. Itu lebih penting buatku." Aku tergelak dan dia melotot.
Ibuku, menangkap kelebatan anak laki-laki itu menuntun aku masuk ke kamarnya suatu sore.
"Kau tak tahu siapa dia."
Ibuku mengiris kubis keras-keras, hingga aku khawatir jika meleset dan mengenai tangannya tanpa sadar seperti perempuan-perempuan di perjamuan Zulaikha.
"Aku hanya bercakap-cakap. Katanya ia bisa membaca masa depan."
Ibuku makin keras mengiris kubis. Aku merasa bersalah.
Anak laki-laki itu telah membawa warna yang lain ke rumah kami. Aku merasakan kegembiraan seorang ayah memiliki anak laki-laki yang bisa diajaknya mengerjakan ladang. Aku tak mungkin membantunya sebab sedikit saja kulitku terkena rumput maka gatal-gatal seluruh badan dan ibuku sambil berkeluh akan membedaki ruam-ruam di kulitku. Tapi di dalam rumah ada bara yang juga siap meledak. Aku masih ingat muntahan pertanyaan seperti rentet peluru di serial Combat itu, dan setelah bertahun-tahun ini, masih banyak ranjau tertanam yang siap meledak. Ayahku tak pernah berkata apa-apa tentang anak laki-laki itu.
Dan pada sebuah subuh, aku masih meringkuk di bawah selimut setelah terlambat tidur sebab harus mengetik berlembar-lembar laporan praktikumku, terdengar gaduh di ruang tengah. Aku beranjak melawan dingin sebab suara itu membuatku tak bisa lagi memejamkan mata. Daun pintu perlahan kubuka sedikit, berusaha tak menimbulkan derit. Cahaya lampu panjeran di ruang tengah yang redup tak menghalangiku melihat apa terjadi. Anak laki-laki itu berdiri di tengah ruangan, membelakangi televisi yang tak menyala. Ayahku duduk dan ibuku berdiri di tentang pintu antara ruang tengah dan dapur. Dan, seorang lelaki tak kukenal berdiri membelakangi pintu kamarku hingga tak kulihat wajahnya.
"Sudah saatnya ia menjadi hakku."
"Lalu bagaimana dengan janjimu?"
" Bagaimana bisa waktu dua belas tahun tak kau gunakan dengan benar?"
Ibuku menatap mereka silih berganti.
"Janji apa yang kau tunggu sebab anak laki-laki ini?!"
Lelaki asing itu memandang ibuku. Aku melihat ibuku yang meradang seolah tunduk di bawah tatapan laki-laki itu. Ayahku seperti hendak menjelaskan sesuatu tapi hanya terkunci di mulutnya. Aku melihat ruang tengah terbalut suasana mistis. Bukankah aku tak percaya pada hal-hal semacam ini? Tapi tak bisa kucegah tiba-tiba aku merinding.
Lelaki tak kukenal itu memanggil si anak laki-laki dengan isyarat tangan. Anak laki-laki itu mendekat. Mereka kemudian pergi tak berkata-kata. Ibuku beku di tentang pintu dan ayahku duduk terpaku. Aku menutup pintu. Tak tahu apa yang kupikirkan.
Tak ada yang berubah esok harinya, kecuali ibu yang semakin riang, suara irisan kubisnya terdengar merdu, dan ayah yang terlihat lebih murung. Anak laki-laki yang dua belas tahun lalu berdiri di teras kami itu, aku tak pernah tahu siapa.
***



GEGURITAN

CANDRA KALIMASADA
Dening Redjo

Kapan anggonmu teka kang...
Datan kaweruh dumadimu kadiparan
Apa bebarengan kelawan untang
Tekamu pindha tathit tanpa udan

Ngancik ing wewengkon iki
Suwara-suwara kuwi tansah hangandhani
Marang sak kabehing guru suci
Rumesep pangeran luhur mring gusti

Tekamu samar ndak sawang
Ananging sewu werdi kang ndak gawang
Prasasat nemu ing sak jroning pralambang
Ya ing sak tumekaning ati sing kapang

Kudune aku lumaku ing kana kae
Ngancik lad-ladan kancane dhewe
Nggayuh ayang-ayang sing dadi sesawangane
Lan marang kabeh wae kang wis rinonce

Kudune aku tumandang cipta
Ngampiri kabeh sing padha tandang karya
Bisa gawe gumyak senajan mung sedela
Nyirnakna bebendu kang bakal mbalela

Ananging kang...mung digawe bubrah
Bubar-bubar sumebar tanpa wadhah
Apa kudu ana bebanten maneh
Nggendong kamulyan tanpa jiwa sareh?

Apa bakal ketemu maneh
Oncating dubita bisa gumuyu ngekeh..

Kang.. apa jagade wis padhang
Banjur anapaki ara-ara sinebrang
Manekung amrih rahayu sing digadhang
Bisa nggulung murka ati sing kemramang abang

120205



PUISI-PUISI

Kau Yang Tak Pernah Menemukan Namaku
Oleh : Chyto

Di jembatan pertemuan kau tanyakan nama
Yang tak terdapati
Dalam deretan huruf dan angka
Sungai sungai yang tak hendak berhenti sebelum ceruk menggenangkanmu
Sebegitu waktu
Menenggelamkan apaapa
atau menyatu di antara matahari yang terluka

Sayang engkau lupa mencatat sejarah yang kutitipi sebagian diriku
Untuk menggenapkan perkenalan

Andai arah angin bisa kau putar mungkin
Dapat kau ambil serpihanku yang telah mendebu
Disembunyikan waktu entah ke mana
Dan kau dapatiku belum punya nama

Andai cahaya mampu mengantarmu
Di kegelapan. Kau boleh punguti namaku
Tercecer di Jogja antara perjalanan kita ke Surabaya
Terlalu lelah buku harianmu mengeja
Tak yakin kapan saat kau tiba
Aku mungkin telah berada di Jakarta

Akhirnya kita tak pernah bertemu
Kecuali diriku tubuh tanpa nama

Mungkin sebaiknya kita mendekam di rahim yang sama
Setetes darah kita nikmati berdua

Lumbung Aksara, 21Jan08


DARI BALIK KACAMATA
: perempuan-perempuan lumbung aksara

Oleh : Imam Wahyudi

Dari balik kacamata yang tenang. Aku selalu saja terkesima.
Pada mereka yang masih setia menanti. Kekasih yang
tiada pernah berkabar. Datang dan pergi.
Tak bisa diduga dan dimengerti

Lihatlah. Perempuan-perempuan itu duduk melamun di muka
jendela sepanjang hari. Bersama sepi yang bernyayi.
Ditemani secangkir kopi yang mulai basi. Dan pohon sawo
di samping rumah yang mulai renta.
Sebentar lalu rintik hujan turun menetes satu-satu di teritisan.
Seolah menaksir rindu yang menahun.

“Oh...kekasih datanglah ?! Aku menantimu.
Aku menunggumu...”

Perlahan semilir angin berhembus pelan. Tak dinyana
menerbangkan para kekasih ke hadapan. Berloncatan.
Mereka menghambur ke pelataran.
Menyambut kata-kata yang berjumpalitan.
Menangkapnya dengan rindu yang makin meradang.
Makin sayang

Konon kemudian orang-orang ramai bercerita. Tentang
perempuan-perempuan yang bahu membahu membuat
rumah inspirasi bagi kata-kata. Berkembang semakin besar
Makin berkibar. Menjadi lumbung kata-kata.

Sementara disini, dari balik kacamata yang gamang.
Aku makin terkesima. Melihat mereka tiada lelah bercumbu
dengan kata-kata sepanjang malam....

Kulon Progo, Mei 2008


Sajak Buat Laut Kita
Oleh : Nurul Lathiffah

hujan ini, tetes pertama
seteleh kau susur Yogya-Surakarta
di perjamuan ini, wangi mawar, kau susun di dekat
:perapian
lalu kita eja jarak yang panjang
rindu yang mengejar pertemuan
menitiskan selaut keharuan
menyesak.
mendesak.
menggelorakan.
Laut kita yang semula mati.sepi. hening. Kering.


Jangan Menelponku Malam Ini
Oleh : Akhiriyati Sundari

Jangan menelponku malam ini
Sebab sinyal telah hilang di tikungan gedung dewan
Akan sia-sia kau jelajahi sunyi
Seperti pernah kau puja
Dan kau tulis dalam altar ruang senyapmu

Jangan menelponku malam ini
Sebab rembulan tak lagi luruh
Melewati kelokan hatimu yang menyepuh
Lipatan demi lipatan sepenuh sungguh

Jangan menelponku malam ini
Sebab tak lagi ada rinai air
yang menghanyutkan sepi kembara
langkah yang tak terbaca
menyudut di titian

Jangan menelponku malam ini
Kecuali kau kabarkan
BBM batal naik detik ini
Ah,
Sketsahati, 23 Mei '08


NASIYEM
Oleh : Lathif

Apa kabarmu Nasiyem?
kemarin kau mempesonaku
bahkan karenamu
aku hampir menduakan Tuhanku
kau datang dalam mimpiku
dalam sadarku
dalam i'tikafku
bahkan dalam shalatku

Apa kabarmu Nasiyem?
Ada apa dengan perutmu?
Aku kan sudah bilang
jangan buka jendela malam-malam
karena angin malam tak baik untukmu

Apa kabarmu Nasiyem?
Parfummu menyelinap di sela-sela nafasku
Kenapa kini berbau comberan?
Ohh ... betapa sayang
Bidadariku terpuruk di tempat sampah

Kauman, 30 September 2007


Aku Jalan Tengah Malam
Oleh : Firdaus Asykar

Aku jalan tengah malam
Ada yang berjajar jajakan diri
Bukan, bukan lelaki
Perempuan, seksi
Di sekitaran Pangsud
Hingga dini hari

Aku jalan tengah malam
Dari gedung anggota dewan kota
Kekanan susuri tepian Kalimas
Bersandar pada pagar di trotoar
Lelaki gagah dengan press-body T-shirt
Kadang sendiri-berdua-bertiga

Aku jalan tengah malam
Kembang kuning, Diponegoro
Remang kuburan Cina
Jadi tempat sukasuka
Bukan laki juga wanita
Waria saja, waria saja

Aku jalan tengah malam
Dari simpang lima Pasar Burung
Naik
Berderet etalase, penuh sofa
Ditawarkan lelaki bersafari
Beberapa pakai Batik,
Ini katanya yang paling gede se-Asia Tenggara
Komplit dari yang
Hampir remaja sampai setengah baya
Yang langsing sampai segembrot tebing

Aku jalan tengah malam
Aku jalang tengah malam
Jalan Surabaya tengah malam
Jalang Surabaya tengah malam

(2008)


BACA BUKU

Apa Ya?*

Judul buku : Sang Musafir
Penulis : Mohamad Sobary
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Agustus 2007
Tebal : 272 halaman

Pertanyaan ini akan selalu ada kapan saja. Tidak akan berhenti. Memusingkan. Dan sulit atau tidak sulit untuk kita jawab.
Berjalan. Ada tembok. Kita hadapi. Kita ambrolkan. Kita lalui. Kita lega...ada lagi. Kita lakukan hal yang sama dan kita ulangi berkali-kali danterus-menerus.
Mungkin ini sekilas pribadi sang musafir.
Banyak hal yang bisa kita dapatkan dari Sang Musafir, kalau saja ini terjadi dalam diri kita sendiri atau kita jalani, segala apa yang ada dan kita hadapi adalah sekian banyak mutiara hidup penuh sensasi. Betapa tidak, musafir kehidupan berjalan tiada henti dari waktu ke waktu, dia adalah petualang yang mendapatkan apa yang ia cari dan apa yang belum ia dapatkan.
Bahasa yang sederhana dan mudah dipahami menjadikan novel Mohamad Sobary ini enak untuk dibaca, dimengerti artinya, dipahami isinya dan banyak lagi. Perjalanan setiap judul membawa kita pada persoalan hidup dan kehidupan. Perjalanan musafir menjadikan orang tidak boleh berhenti, menjadikan orang harus berjuang untuk hidup, bercengkerama dengan kehidupan, menghadapi benteng yang ia ciptakan dan tercipta.
Kebebasan, mungkin ini inti setiap kehidupan, mungkin ini yang sekian lama manusia mencari, mengejar dan bahkan demi kebebasan itu, ia rela memenjarakan orang lain, ia rela membunuh orang lain.
Betapa tidak. Kebebasan seorang yang sudah ia dapat, ia harus terbelenggu dengan sebuah sistem birokrasi yang penuh aturan, penuh kepentingan pribadi, kelompok bukan lagi demi kepentingan bangsa. Ini sungguh penyiksaan yang harus dialami orang yang akan masuk ataupun yang dipaksa masuk dalam sistem itu, seperti dalam judul empat. Keterbelengguan seorang pada birokrasi menjadikan ia harus beradaptasi dengan hal yang baru dan berlainan, walaupun tidak selamanya kita akan merasakan kebebasan itu selamanya, ewuh-pekewuh itu kadang juga harus muncul pada setiap diri.
Atau kita bayangkan Muhammad sang nabi. Status musafir dia jalani selama 23 tahun di Madinah, ketika Makah kebebasannya dirampas oleh musuh-musuhnya, kesimpulan yang terbaik adalah hijrah. Memusafirkan kelompoknya yang setuju dengan ide-idenya, keluar dari Makah. Mereka diterima kelompok Ansor, bersatu, membangun, berstrategi untuk mendapatkan hak setiap manusia atas nama kebebasan. Sungguh luar biasa.
Saya tidak mengomentari isi buku Sang Musafir. Terlalu wagu untuk melakukan itu, tapi sebagai pengagum pengarangnya, saya sangat banyak mendapatkan seluk-beluk kehidupan pribadinya ketika harus berbagi untuk dirinya, keluarganya, dan bahkan untuk manusia pada sekitarnya yang terlihat ataupun yang jauh. Bagaimana perjuangan kehidupan ia lakukan demi kebahagiaan bersama.
Demikian saja yang bisa saya tuliskan, masih banyak sisi lain dan terlalu banyak yang tidak kita tahu.

(* adalah kesan dari pembacaan ”Sang Musafir” oleh Burhanul Fahruda, pegiat AB Giripeni Wates)



SMS PEMBACA

”Halo Lontar..sy penggemarmu d Jkrta..usul blh kan...kgiatan LA dtayangin d situs Lontar dong. Mksie..B-) ”
(Fathin 085643011XXX)

”Mo nanya neeh, LONTAR, q toe suka nulis2, bikin puisi, cerpen, b-leh gak q salurin hobi q ke LONTAR and gimana caranya?”
(Arif, Margosari 081802645XXX)


BIODATA PENULIS LONTAR

Akhiriyati Sundari, masih aktif mengurusi keredaksian LONTAR sehari-hari. Berdiam di Blok 2 Ngestiharjo Wates. Sketsa-sketsa gumamannya bisa dibaca di blog pribadinya: www.sketsajagad.blogspot.com

Chyto, alumni PAI UIN Sunan Kalijaga. Memiliki PD yang tinggi hingga berani menyanyikan lagu SATU Dewa 19 saat ujian pendadaran skripsinya di hadapan sidang dewan penguji. Puisinya pernah dimuat di koran Seputar Indonesia.

Fafa, pemilik nama lengkap Fajar R. Ayuningtyas ini sekarang sibuk bekerja di sebuah mini market di daerah Wates. Masih suka berpuisi dan menulis apa saja di www.selepas-lautan.blogspot.com. Tinggal di Ngulakan Hargorejo Kokap.

Firdaus Asykar, lelaki asli Ngawi Jawa Timur yang mengaku berusia 27 tahun ini aktif di Teater Kusuma Surabaya sejak tahun 2001 dan telah menerbitkan buku kumpulan cerpen tunggalnya Aku Mengumpat Setiap Hari (2008). Beberapa puisinya terdokumentasi di www.surgadaim.blogspot.com.

Imam Wahyudi, suka menamai diri sendiri dengan sebutan ”Mbah Im”. Mengaku masih terus sabar mencari inspirasi walau karya-karyanya tak pernah membumbung tinggi. Puisi-puisinya bersemayam dengan damai di pondok mayanya www.ilalang-berbisik.blogspot.com.
Lathif, staf pengajar MTs Ma'arif Dondong Wates. Tinggal di Kauman Bendungan.

Nurul Lathifah, sekarang telah berstatus alumni SMA N 1 Lendah dan meneruskan belajar di Fakultas Psikologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Lahir di Kulonprogo, 21 September 1989. Karya-karyanya pernah dimuat di Horison, buletin Coret dan SKH Kedaulatan Rakyat.Tinggal di Dusun 3 Rt.12/05 Brosot Galur.

Redjo, memiliki nama asli Wahid. Memiliki nama pena yang puitis ”Pujangga Rimba”. Aktif nimbrung berkesenian di komunitas Padhang mBulan. Tinggal di Wates, sesekali di Panjatan atau sebaliknya.


KATA-KATA MUTIARA
“Kebebasan berarti tanggung jawab, itulah sebabnya, mengapa kebanyakan orang takut kepadanya” (George Bernard Shaw).