Friday, August 17, 2007
LONTAR 8
Cerpen Siti Suwarsih
“Bangsat!” kata-kata yang tak enak terdengar oleh telinga normal.
“Prangggg! Grubyak!” apa itu?
Ooo…Laki-laki itu! Sudah biasa kelakuannya yang selalu menimbulkan suara-suara yang aneh, tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa selain…tutup telinga! Yeah. Pagi yang cerah. Kulangkahkan kakiku keluar dari kamar. Kamar yang tidak begitu banyak kenangan hidupku. Lantas kusapu halaman dengan tatapan mataku.
Laki-laki itu, laki-laki itu ditemani dua wanita yang merawatnya.
“Dunyo sing wis bubrah…, dunyo sing wis muntir walik, dunyo sing wis owah…” sebuah kalimat yang dia nyanyikan dengan nada kejawen. Laki-laki itu menatap kosong ke arah depan menerawang ruang di antara hembusan nafasnya. Senyum simpul kulihat terukir di atas bibirnya, lantas ia beranjak dari kursi di pojok taman itu, melangkah pergi diikuti dua wanita
yang setia menemaninya.
Keasyikanku melukis di tembok depan kamarku terusik ketika sebuah tangan merampas cat di tanganku dan memoleskannya di wajahku. Marah aku! Tapi dia..laki-laki itu, “Ha…ha…ha” terdengar keluar dari mulutnya. “Dunyo wis abang ijo” tambahnya.
“Edan…! Bajingan…! Sundal…! Wong wedok opo! Wong wedok kudu manut ro wong lanang. Goblok!!” terdengar lagi suara tetanggaku itu.
Kubiarkan laki-laki itu terus berjalan diikuti dua wanita yang setia menemaninya. Dan aku hanya bisa menatap hampa dengan muka yang belepotan cat. Aku belum begitu tahu apa yang terjadi, sehingga sikap dan tingkah lakunya seperti itu, tapi aku menduga itu semua karena seorang erempuan!!?
“Guten tag! Wie heißen (heisen) Sie? Ich heißen Jack”
Belum selesai marahku pada laki-laki kasar itu, kini datang orang aneh ang entah ngomong apa? Aku hanya bengong mendengar apa yang dia ucapkan.
“Jack! Sind sie fertig? Weiter bleibst mit wir” seorang wanita penghuni rumah ini juga berbicara dengan orang asing itu.
“Aufwindersehen” orang aneh itu pergi meninggalkanku sambil melambaikan tangannya, tertawa seperti menertawaiku yang diam mematung. Kemudian aku masuk kamarku, merenungi apa yang selama ini terjadi.
Tiga bulan yang lalu api mendatangi kamarku. Ketika itu aku bersama adik terkecilku berada di dalam rumah. Aku bisa lolos dari maut sedang adikku masih berada di dalam rumah. Terakhir aku melihat, di depan mataku sendiri, adikku yang berusaha lari keluar tertimpa kayu yang telah terbakar. Mereka yang tak melihat fenomena itu mengatakan adikku sudah mati. Penyesalan yang mendalam menyelimuti hatiku, tapi aku tak percaya. Seminggu kemudian ketika orang rumah pergi semua, aku duduk di belakang rumah baruku. Tiba-tiba ada tangan mungil menarik ujung bajuku.
“Mbak! Ayo dolanan! Ayo mbak!!” sesaat aku tertegun.
“Aning” ucapku pelan. “Aning!!” seruku kemudian. “Ayo. Kita dolanan. Tunggu Mbak” Setelah itu kami sering bermain bersama. Kadang Aning mengajak main petak umpet dan dia ngumpet dalam waktu yang cukup lama dan tidak nongol-nongol. Jarang sekarang aku melihat Aning minta gendong Ibu. Jarang pula aku melihat Aning menangis. Aning selalu ceria, sepertiku. Suatu hari ibuku bertanya, “Ndar, kamu kok sering senyum-senyum sendiri, lari-lari sendiri. Apa yang bikin kamu senang? Dapat pacar baru, po?”
“Ibu ini gimana, to? Wajar to kalau Ndari ceria karena ngemong adik Ndari sendiri. Ibu tu yang sekarang ga' pernah perhatian sama Aning. Dia 'kan butuh kasih sayang”
“Pyarrr” tiba-tiba piring yang dipegang ibu jatuh, pecah, berserakan di lantai. Aku hanya bengong. Kok bisa-bisanya piring itu mrucut.
“Ndar, adikmu itu tinggal Tiwi dan Ari. Aning sudah mati”
“Ah, Ibu tu ngawur saja”
“Ndar sadar Ndar, kamu yang nrimo ya, Nduk?”
“Sadar gimana to, Bu? Ndari sadar. Itu Aning duduk di sudut tembok bingung melihat kita” Mendengar ucapanku, Ibu melihat tembok sambil berkerut jidat.
Beberapa waktu kemudian aku dibawa ke sini. Tempat di mana keluargaku bermaksud mengajak liburan dan di villa ini pula mereka meninggalkanku, juga memisahkanku dari Aning. Aku masih bingung, villa ini tidak seperti villa kebanyakan yang kutahu melainkan mirip…
Laki-laki kasar yang memoleskan cat ke wajahku semakin hari semakin liar. Kata-kata kotor terus mengalir dari mulutnya. Dia terus mengumpat, apalagi jika ada wanita di dekatnya, wanita itu pasti akan jadi obyek pelampiasan kelakuannya. Pernah suatu hari aku melihat wanita yang tak kukenal, dihampiri oleh laki-laki itu. Disapa dengan manis dan detik selanjutnya wanita itu tiba-tiba sudah berada dalam dekapan laki-laki itu
yang belakangan kuketahui bernama Herdi. Wanita itu hanya diam. Tapi kemudian ketakutan setelah Herdi menciumnya secara paksa. Tak disangka apa yang kemudian dilakukan Herdi, ia membopong wanita itu kemudian dengan kasar dibanting!!
“Aooow!! Aaaaaaaaakk!!” teriak wanita itu, hingga membuat orang-orang berlari mencari sumber suara itu. Yang kutahu kemudian, wanita itu adalah penghuni baru di sini. Dia diselamatkan oleh petugas. Sedang Herdi dijaga ketat tetapi tidak oleh dua wanita seperti biasanya tetapi oleh
dua orang laki-laki.
Aku semakin bingung, mengapa banyak orang-orang aneh di sini. Dengan bekal rasa penasaranku, aku bertanya pada pengurus tempat ini. Tempat apa sebenarnya ini. Pengurus itu hanya tersenyum. Dengan kecewa aku berbalik menuju kamarku, tapi baru beberapa langkah aku berjalan, seorang wanita muda dengan pakaian lusuh, rambut awut-awutan dengan datar dan dingin memberitahuku, bahwa tempat ini…
Pengurus yang sempat kutanya tadi mukanya tegang.
“Tidaaaaaaaak!! Ini Rumah Sakit Jiwaaaaaaa!!!!”
Footnote :
1 Selamat siang! Siapa namamu? Nama saya Jack
2 Jack sudah selesai? Selanjutnya kamu tinggal dengan kami
3 Sampai jumpa
BILIK REDAKSI
Salam Sastra!
Pembaca LONTAR yang budiman, setelah ke sekian buletin sastra ini terbit disertai sambutan yang cukup positif dari masyarakat (kami berterima kasih untuk itu, juga untuk mereka yang mengirimkan karya meskipun mungkin belum dimuat), kini LONTAR lagi-lagi mengajak pembaca sekalian untuk menerus berkarya dan mengirimkannya ke meja redaksi kami. Kami berhasrat pembaca sekalian bergairah dan meletupkan gairah tersebut dalam bingkai sastra yang meng-indah. Tidak ada batasan dari kami tentang sesiapa yang bakalan dimuat. Kalangan manapun tidak kami kecualikan. Hanya dengan begitu kami kira jagad sastra di Kulonprogo dapat menumbuh ramai-ramai. Sastra menjadi milik semua tanpa ada sesuatu yang dibingkai ”kelas”.
Persoalan tulis-menulis sastra kami rasa bukanlah dimaksud untuk mencari popularitas apalagi menganggap diri sebagai yang paling 'wah', paling pertama, paling dikenal, dan seonggok paling-paling yang lain yang sarat kebanggaan semu. Menulis adalah berkomunikasi. Menulis adalah menghargai diri sendiri sekaligus orang lain sebagai manusia secara ”suci”. Menulis adalah seperti melahirkan puisi di dalam tubuh kita sendiri yang pada akhirnya memancarkan aura bahwa sebagai manusia, kita ada. Maka, muntahkanlah kata-katamu...
Selamat Membaca....
BYAR
Nawm fil 'asal
Istilah nawm fil ‘asal saya peroleh bulan lalu, ketika seorang teman yang sedang kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo mengirim email. Thoyib Ariffin, teman saya tadi, merasa “tidur di lautan madu” selama 10 tahun tinggal di Mesir. “Dalam gemilang fasilitas, saya tak ubahnya seonggok batu yang bisu”, tulisnya.
Saya tercenung menyimak kata demi kata dalam suratnya. Sebab, sepengetahuan saya, ia bukanlah sosok yang berpangku tangan. Tidak juga larut dalam kenikmatan. Di tengah musim dingin Kairo yang mencincang tubuh kurusnya (ia mengaku sering sakit jika musim dingin tiba), ia masih akan melakukan sederet aktivitas ini: mengaji pada syeikh, menghafal 400an bait syair-syair tugas kuliah, melahap buku-buku tebal di perpustakaan,
memandu para senior dari Yogya yang sedang mengerjakan desertasi. Belum tugasnya sebagai penerjemah di penerbit Maghfirah Pustaka yang sering mencambuknya dengan deadline!
Namun, ia tetap merasa dalam kondisi nawm fil' asal. Apa ia sedang menyindir?
Mungkin tidak. Ini hanyalah bahasa seorang pekerja keras: merasa belum mengerjakan apa-apa padahal sudah banting-tulang. Sebab, kata Voltaire, kerja bisa menghilangkan rasa bosan, sepi dan dosa. Tapi, Thoyib tak sekedar pekerja keras. Ia telah menjadi antitesis dari sikap pragmatisme. Barangkali kita sudah sering mendengar cerita ini: banyak mahasiswa Indonesia yang kuliah di Mesir lebih suka mencari uang (terutama kalau musim haji) daripada menuntut ilmu. Dan Thoyib memilih ilmu dengan segala konsekuensinya.
Kalau orang yang telah memeras keringat menganggap dirinya “tidur”, bagaimana dengan kita? Konon, dalam seminggu kita butuh 2 hari libur. Dan di hari libur seakan “sunat” untuk bangun siang. Lembur jangan sampai larut, sebab angin malam tak baik bagi kesehatan. Jika puasa, jangan lupa makanan suplemen…. Dan perayaan kemanjaan tubuh lainnya, yang memenuhi ribuan halaman jika diuraikan. Di sisi lain, konon kita gemar pula mendengar cerita sukses seseorang.
Diam-diam, ada yang tanggal dari perjalanan karakteristik anak bangsa: kesuksesan dan proses dilihat secara terpisah. Mengingatkan saya pada seorang penulis “kemarin sore” yang baru mengirim satu dua karya lalu menggerutu karena puisinya tak kunjung dimuat. Ia sih mengaku pengagum Emha Ainun Nadjib. Tapi jelas ia lupa (atau belum tahu), kalau Cak Nun --gara-gara kelaparan-- pernah jatuh pingsan di Malioboro dalam perjalanan kakinya menuju kantor KR dan MP,demi mengirim sepucuk amplop berisi puisi.*** M A R W A N T O ( www.markbyar.blogspot.com )
ADA APA DENGAN LA
LA Bedah “Samarkand” di TP-9
Selalu ada yang beda di setiap Tadarus Puisi (TP) yang digelar LA. Pada TP putaran ke-9 kali ini, yang dilangsungkan di Gedung Kesenian Wates tanggal 27 Juni jam 15.00 sampai 17.00 WIB, selain melaunching Lontar, juga dibedah buku karya Amin Maalouf berjudul Samarkand. Pendedah “baca buku bulanan” komunitas LA kali ini adalah sahabat Zukhruf Latif (atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Kiai Lumbung”). Dihadiri sekitar 25 anggota LA dan pecinta sastra, suasana diskusi terasa hidup, meski “pembacaan” terhadap Samarkand sendiri terasa berat. Ini karena alur novel karya pengarang Lebanon itu berbingkai-bingkai. Namun, selingan pembacaan puisi yang dibawakan para hadirin mampu mengimbangi beratnya pembacaan terhadap Samarkand. (Asti Widakdo)
Monitoring TBM Lumbung Aksara
Program komunitas LA untuk mendirikan taman bacaan masyarakat (TBM) mendapat dukungan banyak pihak. Tanggal 3 Juli lalu, Badan Perpustakaan Daerah Propinsi DIY, yang akan menganggarkan bantuan buku kepada TBM Lumbung Aksara senilai Rp. 6,5 juta, melakukan kunjungan dan monitoring di lokasi TBM LA yang terletak di Jl. Makam Kiai Batok Bolu Maesan Wahyuharjo Lendah. Kunjungan yang juga didampingi karyawan kantor Perpustakaan Kabupaten Kulonprogo tersebut dalam rangka penjajakan kerjasama pendirian pilot-project pengembangan TBM. “Jumlah koleksi sudah lumayan. Tinggal merapikan pengklasifikasian dan pematangan tenaga administrasi serta pustakawan. Kiranya TBM LA layak dijadikan pilot-project untuk kemudian bisa go public”, ungkap Bandung Wibowo dari Badan Perpustakaan Daerah DIY. (Asti Widakdo)
Lumbung Aksara di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XIX
Sabtu, 16 Juni 2007 bertempat di komplek pasar seni FKY di Benteng Vredeburg Jogja, Fathin Chamama mewakili LA mengikuti lomba menulis dan membaca puisi yang diadakan oleh divisi sastra FKY. Meski 'belum berhasil' menjuarai, namun Fathin 'berhasil' memukau pengunjung di panggung FKY dengan bacaan puisinya. Sementara pada saat bersamaan di kafé FKY, LA juga mengikuti bedah novel Ranting Sakura karya Maria Bo Niok, seorang Pekerja Rumah Tangga yang menjadi buruh migran di Hongkong. Pada FKY kali ini (7 Juni - 7 Juli 2007), LA diundang oleh panitia divisi sastra untuk berpartisipasi dengan mendisplay karya seperti LONTAR dan buku SGSI di stand Dapur Sastra serta bersama komunitas sastra dari berbagai daerah membangun jaringan komunikasi sastra antar kota antara lain dengan Pawon Solo, Hysteria Semarang, Mnemonic Bandung, Poros Madura, Hujan Tak Kunjung Padam Purwokerto, dan beberapa dari kota Jogja sendiri. (Ndari)
PUISI
Padang Rembulan
Oleh : M. Zaynal Arifin
Bintang-bintang menatap enggan
Rembulan tak bergeming
Awan menghilang
Langit membentang tak terbatas
Padangmu selembut salju
Kau simbol keayuan
Dalam fatamorgana
Karna kau bisa dinikmati
Hanya dari kejauhan
Sinar rembulan masuk di dada
Menerpa hati
Membias paru jantung
Mewarnai darah
Kehadiranmu dimiliki anak negeri
Dan kepergianmu tak selalu disesali
Karna kau adalah alternatif
Sebagai penghias bumi
Oh Tuhan....
Terima kasih
Kau sempurnakan ciptaanmu
Kau hiasi alam ini
Kau terangi sukma mengembara.
Kotagede, April 2000
Kalian
Oleh : Diah Fera Kismawati
Kini…
Kurasakan betapa sakitnya
Rasa tak berbalas
Teman...
Hanya kalian yang aku punya sekarang
Hanya senyum bahagia kalian
Yang ingin aku lihat
Hanya cerita-cerita indah
Yang ingin aku dengar
Ingin kulewati hari
Bersama kalian
Ingin kulupakan dia
Walau sejenak
Ingin kutepis rasa sakit ini
Dengan adanya kalian bersamaku
Tak ada yang lebih indah
Selain KALIAN
Saudara Besarku
Oleh : Fathin Chamama
Di mata Ibuku kulihat sepi
Memandang Saudara Besarku YANG TULI
Waktu Lumpur memancar di Porong-nya
Saat Banjir merebak di Jantung-nya
Kala Gempa membelah di Hati Nyaman-nya
Mata Ibuku semakin sepi
Melihat si TULI makan
Melahap saudaraku yang lain
Nak, ...hati hati
Ibuku terbangun
TULI menjawab : Ibu,
ini sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku
Mata Ibu semakin sepi
Nak, ...perutku mau meledak
TULI menjawab : Ibu,
Masih ada yang bisa kumakan darimu?
Vredeburg, 16 Juni 2007
Dalam Pertaubatanmu
Oleh : Utik
Ketika kau lantunkan ayatayat pertaubatanmu
Kau senandungkan sepenuh jiwa
Lisan berkamit tubuh menggigil
Menyesali yang telah terjadi
Kau sujudkan diri ke Yang Maha Suci
Aku mencoba menerawang
Menekuri jalan taubatmu
Melewati padang luas yang lepas
Tanpa oase atau zamzam
Hanya panas dan terik menemani
Namun asa yang membakar jiwa
Kan' berujung di pengampunanmu
Ngawi-Sragen, 22 mei 2007
Kau terlalu Jauh
Oleh : Neneng Surani
Saat kita bersama walau saling tak bicara
Kutahu bahwa…
Kau tak pernah menganggapku ada
Saat kita di dunia yang sama tapi tak saling menyapa
Kumengerti bahwa...
Hanya punggungmu yang bisa kupandang
Berharap kau berbalik
Tapi itu tak pernah terjadi
Saat senyummu terlihat begitu tulus
Tapi bukan untukku...
Kusadar kau bukan milikku
Malam takkan pernah membawaku kepadamu
Walaupun langit bertaburkan bintang
Dan kerinduan menggoyahkan iman
Meski letih kutertatih
Mencoba menggapai cinta yang putih
Tapi selalu terhenti
Pada ketidaksempurnaan diri
Salahkah...?
Serambi Masjid, 13 September 2006
Menunggu Kasih
Oleh : A. Samsul Ma'arif
Kapan kau lumuri seluruh tubuhku dengan segala kasih-cinta.
malam mayat
Oleh : Salman Rusydie Anwar
kau, yang gagal aku pahami dari sebuah ceruk
tiba-tiba menggali sumur paling kubur di dadaku
malam yang menjadi mayat
memancar dari keping-keping batu
mendatangi setiap pintu demi pintu
yang menggigil dalam rekah jemari
ucapmu, tuhan tak sedang melempar dadu
namun siapakah yang melemparku
hingga seluruh cinta terjerembab
dikulit cahaya
kau menuding langit
kepadaku
mengajarkan huruf-huruf bintang
yang setiap kali aku lihat
selalu saja ada masa lalu dan masa depan
menyatu di tubuh puisi
lalu ada juga sebait mantra
begitu kelam, begitu tuhan
namun selalu gagal aku bacakan
Kepadamu
Kediri 2007
KATA MUTIARA
”Menulis adalah salah satu bentuk doa paling kuno. Menulis berarti percaya bahwa komunikasi itu mungkin, bahwa orang-orang lain itu baik, bahwa anda akan dapat berhubungan dengan kebaikan mereka, membangkitkan rasa kedermawanan mereka serta hasrat mereka untuk menjadi lebih baik” (Fatima Mernissi)
Presented by
Komunitas Lumbung Aksara
Membaca, Menulis; Menjaga Hidup
SMS (SEPUTAR MENULIS SASTRA)
Kita adalah Penulis yang Hebat
Setiap kita mempunyai potensi menjadi penulis yang hebat. Sejak masih kecil kita mempunyai hobi mencoret-coret pada dinding, kertas, meja atau bahkan baju dan tubuh kita. Setidaknya itu adalah sebagian bukti kemampuan kita.
Setiap kita wajib menulis. Minimal beberapa abjad dan angka, sampai kemudian menulis pelajaran di sekolah, daftar belanjaan, lebih meningkat lagi buku harian, esai, makalah, dan seterusnya.
Setiap kita sudah dibekali dengan otak. Otak kanan tempatnya semangat, emosi, spiritualitas, imaji, dan seterusnya. Otak kiri tempatnya perencanaan, outline, tata bahasa, penyuntingan, dan seterusnya.
Nah, bagaimana setiap kita memaksimalkan beberapa modal yang telah dimiliki tersebut? Barangkali kita bisa mempertimbangkan beberapa tips berikut:
Satu, tulislah apa saja. Dari hal-hal yang sepele, apalagi hal-hal yang penting. Jangan pernah berhenti! Ingat, jangan pernah menganggap hal-hal kecil tidak berguna untuk dituliskan.
Dua, kembangkan tulisan-tulisan yang telah kita buat dengan berbagai literatur, baik buku, imajinasi, apapun, dan siapapun.
Tiga, komunikasikan pada orang lain yang telah kita tulis untuk mendapatkan umpan balik. Periksa kembali hasilnya, bagaimana ejaannya, tata bahasanya, alur idenya, dan seterusnya. Jika belum puas tanyakan ahlinya.
Empat, masukkan isu atau hal-hal yang luar biasa, di luar dugaan, atau hal-hal yang 'berbau' tajam untuk membuat kesan pada tulisan kita.
Lima, evaluasi karya-karya itu sekali lagi. Jangan dulu berpikir hasil, yang penting sajikan ia apa adanya selagi kita terus berproses.
Enam, dokumentasikan (simpan) setiap tulisan yang kita buat. Satu tahun, sepuluh tahun, atau seratus tahun kemudian buka kembali. Dan kita akan menemukan sesuatu yang luar biasa. Kita tinggal mempelajari bagaimana proses kita sebelumnya untuk menyempurnakan karya-karya hebat kita yang akan datang. Tak terkecuali karya sastra.
Yang pasti, tips-tips di atas bukanlah hal yang baku. Namun hal yang terpenting adalah mencoba. Jadi, why not ?(Siti Masitoh, Pemimpin Umum LONTAR)
Biodata Penulis
A. Samsul Ma'arif, anggota dewan redaksi LONTAR. Masih aktif di kegiatan yang bernuansa kebudayaan. Alumni jurusan Akidah Filsafat Fakultas Ushuluddin UIN SuKa. Pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Yk. Tinggal di Galur.
Diah Fera Kismawati, lahir di Kulonprogo, 27 Februari 1990. Berstatus sebagai pelajar kelas XII di SMA N 1 Wates. Memiliki hobi membaca apa saja. Tinggal di Dusun 2 Bojong Panjatan.
Fathin Chamama, mengaku lebih sulit membuat data diri daripada menulis puisi. Jadi, jika ingin tahu identitasnya, baca saja sekalian puisinya di buku SGSI; Antologi Puisi Kulonprogo (LKP2 Fatayat KP & Lumbung Aksara, 2006). Tinggal di Bendungan.
M. Zaynal Arifin, alumni Pidana_Perdata Fakultas Syari'ah UIN SuKa Jogja. Asli Plumbon Temon tapi kerap tinggal di Pondok ZéJé Giripeni Wates. Puisi-puisinya dimuat di majalah Tilawah PP Nurul Ummah Kotagede.
Neneng Surani (Nichi), gadis kelahiran 13 Agustus 1990 ini adalah pelajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN 2 Wates). Hal yang paling disukainya adalah memandang langit dan lumba-lumba. Penggemar tokoh kartun Shinichi Kudo ini tinggal di Cekelan Karangsari Pengasih.
Salman Rusydie Anwar, lahir di Madura pada 5 November 1981. Menulis cerpen, puisi, essai, opini, dan resensi. Berbagai tulisannya pernah dimuat di media massa lokal maupun nasional. Pernah aktif di sanggar Bias, Andalas, dan Somor Penang. Mahasiswa UIN SuKa yang kini bergiat di KUTUB Yogyakarta ini oleh alm. Zaenal Arifin Thoha dianugerahi kepercayaan menjadi penasehat Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy'arie Yogyakarta.
Siti Suwarsih, lahir di Yogyakarta, 26 Mei 1990. Belajar di dua tempat sekaligus yakni di SMA N 2 Wates dan Pondok Pesantren Zahratul Jannah (Pondok ZéJé), Giripeni Wates. Cerpennya Derita dari Kekasih Nenek pernah dimuat dalam Antologi Bengkel Bahasa & Sastra Yogyakarta / BBY. Selain menulis sastra juga pernah menulis essai tentang Meminimalisasi Pornografi di Kalangan Pelajar. Pernah terlibat sebagai pemain teater Balai Bahasa Yogyakarta dengan cerita “Semesta Runa”.
Utik, adalah nama panggilan dari Tri Wahyuni. Alumni SMA N 1 Wates dan Fisipol UMY. Memiliki kegiatan seabreg selain di komunitas Lumbung Aksara. Kini ia menjabat sebagai Sekjen Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) untuk Keadilan dan Demokrasi wilayah Kulonprogo serta Ketua Fatayat NU kecamatan Temon. Tinggal di Kebonrejo Temon. E-mail: utik_kecilku@yahoo.com
Tuesday, August 14, 2007
LONTAR 7
DUA SIMPUL MATI
Cerpen Fajar R. Ayuningtyas
Berbincang dengan Nan, aku menemukan duniaku. Sebuah dunia yang diwakili kata, sajak-sajak, cerita-cerita pendek dan bincang ringan tentang karya-karya indah yang pernah kami baca. Seperti suatu sore, dibacakannya untukku Perempuan Padang Lalang(1) saat aku sedang melukis senja di samping rumah (sepintas mengingatkan pada Chairil yang membaca sajak barunya di depan Mirat yang sedang melukis).
“...Aku menunggumu. Bahkan sampai mata berlumut dan tubuh mengeras batu. Aku menunggu. Sentuhan dan rabaan tangan yang ajaib itu...”(2)
Aku berhenti menyapukan cat di kanvas. Diam kupandang Nan. Seperti biasa matanya bicara bahasa yang hanya bisa dimengerti hati. Hubunganku dengan dia memang hanya hubungan hati dalam makna sebenarnya. Persentuhan fisik sepertinya bukan sesuatu yang penting buat Nan. Tanpa persentuhan ia memang telah mampu menyentuh hatiku. Nan pernah bilang cinta tingkat tinggi kadang tidak membutuhkan sebuah pertemuan fisik. Seperti kata Jalaluddin Rumi dalam syair-syairnya.
“Tapi Rumi bersyair lebih menuju Tuhan, Nan”
Waktu itu Nan hanya tersenyum penuh arti dan menggenggam tanganku, sebelah tangannya memegang buku puisi.
“Seandainya aku bisa bilang betapa aku mencintaimu. Tapi kalau aku bilang aku cinta kau pasti kau tertawakan aku. Pasti kau bilang 'apa tidak ada kalimat lain yang lebih indah?'”
Nan mengecup tanganku. Aku tersenyum. Tertawa kecil dan kembali menyapukan cat menyelesaikan pulasan terakhir pada langit dalam lukisanku.
*
Hidup ini memang pelik. Di sebelahku Era bermain dengan pikirannya sendiri sembari menggenggam tanganku. Bagaimana mungkin aku hendak tak peduli padanya? Mungkin aku bukan orang baik. Menit-menit yang kulalui bersama Era rasanya seperti membaca Supernova(3). Meledakkan emosi dan mempermainkan imaji liar.
Era berbeda dengan Nan. Suatu kali pernah kuajak ia menonton pementasan puisi yang membacakan karya-karya Afrizal Malna. Sudah kusiapkan tiket namun sengaja bukan mengajak Nan sebab aku mau suasana baru.
“Aku gak ngerti, Afrizal Malna tu siapa? Bagaimana aku bisa nonton?”
Suatu kali pula, saat senggang aku memberikan padanya bacaan ringan dari salah satu seri Chicken Soup. Tahu apa reaksinya?
“Kau ini, kenapa kau suruh aku baca buku masakan?”
Begitulah. Tapi kau menemukan dunia yang berbeda, yang dengan Nan tak pernah bisa kudapatkan. Apa aku terdengar rendah jika kukatakan ini adalah dunia persentuhan fisik? (Aku sempat malu mengakuinya!). Tapi aku seolah mendapatkan sedikit pembelaan saat aku selesai dengan lembaran terakhir Larung(4). Digambarkan bahkan seorang pastor pun akhirnya, sebab kemanusiaannya, melakukan apa yang baginya terlarang.
Era membawaku pada sebuah dunia yang mungkin hedonis. Dunia penuh kesenangan yang menolak berpikir. Dan aku dengan mudahnya ikut terjebak di sana. Nan akan butuh waktu dan kata-kata yang tepat untuk bilang bahwa ia mencintai aku, tapi Era tidak membutuhkan apapun untuk menyekap bibirku dalam suatu ciuman tergesa. Selalu tergesa, tapi kusukai. Apalagi jika gerimis turun, betapa indah sebuah ciuman di bawah rintik air.
Dan, aku jatuh cinta. Dengan begitu mudahnya.
*
Mungkin aku memang bukan orang baik. Dengan Nan dahagaku akan dunia yang kucintai terpuaskan. Batinku kaya dengan pengalaman-pengalaman dan jiwaku mendapatkan supply energi untuk menikmati hidup. Nan adalah belahan yang sepertinya disediakan Tuhan untukku.
Dengannya aku bisa berbincang tentang apapun, mulai membahas komik Doraemon sampai mengapresiasi Rendra, dari mulai mengomentari artikel di majalah sampai berdiskusi soal trafiking. Nan juga pasangan yang kompak untuk duduk menonton pementasan-pementasan puisi dan teater, penikmat sastra sepertiku.
Nan sempurna. Untuk batinku. Nan sangat sempurna memuaskan keliaran pikiranku, menampung semua yang bahkan tak terkatakan.
Tapi mungkin sebab aku bukan orang baik. Nan yang dingin dan alpa membaca naluriku membuatku memasukkan Era ke sisi hidupku yang lain, membuatku menginginkan Era. Yang lugas dan terus terang, sentuhan-sentuhannya membuatku mendamba. Pengakuan yang mungkin akan membuat muak orang lain. Tapi bukankah itu salah satu dari ghara'iz manusia? Kehilangan satu naluri ini membuat manusia bukan lagi manusia. Ah, mendadak aku sok agamis.
Tapi Era bukan teman untuk bicara. Bincang dengannya membuat aliran ideku serasa tersumbat. Saling tak mengerti dunia masing-masing. Bincang dengannya pasti akan berhenti pada satu titik, kebekuan.Kemudian, suatu sore, saat cuaca yang aneh mengubah warna pohon akasia langsing di depan rumah menjadi keunguan, suasana menjadi ganjil dan tak dikehendaki ketika Nan dan Era muncul di teras rumah. Tiba-tiba kecemasan bertebaran di udara.
“Kau tentukanlah pilihanmu!” Era mulai meneriakiku sementara Nan mencengkeram bahuku dan memaksaku menatapnya.
“Hatimu pasti membawamu padaku. Kau perempuan padang lalangku.” Mata Nan yang biasanya lembut tiba-tiba terasa sangat memisauku.
Era mendorong Nan.
“Ia tak akan datang padaku jika kau urus baik-baik perempuan padang lalangmu ini!”
“Sudah!” aku berteriak. Berlari masuk dan kubanting pintu.
Di balik pintu waktu berlalu lambat, seperti neraka yang tak pernah berakhir. Lalu bagaimana mungkin aku memilih? Aku membutuhkan keduanya dalam hidupku. Aku membutuhkan Nan bagi jiwaku, sekaligus juga membutuhkan Era untuk ragaku. Seperti Chairil membutuhkan Mirat untuk gejolak jiwanya, untuk inspirasi puisi-puisinya, tapi juga setia mengunjungi Siti yang buta huruf dan tak mengerti sajak, di gubuk pinggir rel kereta(5) Seperti banyak hal di dunia ini yang saling tak bisa dilepaskan satu sama lain. Jadi jangan pernah salahkan jika keputusan untuk memilih itu,bahkan tak kupertimbangkan.
Watulunyu, Mei 2007
1) Sebuah puisi Warih Wisatsana
2) Cuplikan puisi Perempuan Padang Lalang, Warih Wisatsana
3) Novel Dewi Lestari
4) Novel Ayu Utami, setelah Saman
5) Aku, Syumandjaya
Bilik Redaksi
Salam Sastra!
Gelisah. Kami tengah disundut gelisah. Mungkin karena kami memang penggelisah. Untuk itulah kami bersuara. Karena kami belum mampu berbuat lebih. Atas apa yang tersaji di media akhir-akhir ini. Batin kita sebagai anak bangsa dibuat meruyak. Ketika “atas nama kekuasaan” kekerasan dijadikan senjata ampuh untuk menindas rakyat, membunuh rakyat, menginjak harga diri atas hajat hidup rakyat. Tidakkah ini artinya kita tengah bergerak m enggelinding turun menuju serpihan sebuah bangsa yang “konon” cinta damai? Semoga hal yang sama tidak menularkan virus di sekitar kita-kita.
Selamat Membaca...
BACA BUKU
Eksistensialisme Cinta, Filsafat dan Estetika
Judul buku : Lousiana - Lousiana
Pengarang : Jamaluddin Wiartakusumah
Penerbit : PT. Grasindo
Tahun : 2003
Editor : Neta
Begitu eksotis, walaupun temanya tentang cinta yang sudah banyak tersemat di beberapa judul novel akan tetapi ini bukanlah hanya sekedar novel percintaan. Novel bernuansa barat tepatnya Negara Denmark sebuah negeri yang miskin cahaya mentari. Dengan setting tata ruang kota yang berderet gedung-gedung tua bernuansa modern. Sebuah karya arsitektur zaman pertengahan, yang membuat kita bertamasya ke sejarah masa lalu.
Disinilah dunia arsitektur dibincangkan sebagai bumbu gurih dalam keseharian seorang mahasiswa Arkitekskole dalam petualangan cintanya. Membuat kita berimajinasi tentang keromantisan, juga tentang karya-karya seni rupa yang disampaikan dengan mudah dan gamblang.
Lousiana-lousiana sebuah nama museum di kota Kopenhagen Denmark. Konon diberinama Lousiana karena pemilik rumah yang dijadikan museum ini. Knud W. Jensen, seorang maecenas karya seni modern, menikah dengan wanita bernama Lousiana, istri yang pertama ini meninggal, kemudian menikah lagi dengan wanita yang bernama Lousiana, istri kedua ini pun meninggal, kemudian menikah lagi dengan wanita yang bernama Lousiana juga. "hummm…… Tuhan ada-ada saja!!!"
Novel yang menggandeng kita untuk memahami "eksistensialisme" Soren Aabye Kierkegaard. Lewat cerita anak sunda yang berkepribadian timur untuk menyesuaikan dengan kepribadian barat yang sekuler dan bebas. Kita diajak uintuk merenungkan cerita yang serba kontras, penuh lika-liku, benturan dua budaya, pergolakan lahir dan batin anak adam. Novel yang mengajak kita belajar filsafat, moral, dan teori seni juga cinta.(Astiliano W., The Dragon Fyer X. Pecinta Buku. Tinggal di Galur)
ADA APA DENGAN LA
TP ke-8
Tadarus puisi yang merupakan tradisi rutin bulanan Komunitas LA, kali ini terasa cukup istimewa. Mengambil tempat di komplek Taman Binangun KP di Minggu pagi 27 Mei 2007 lalu, Komunitas LA menggelar helat sederhana guna memperingati Satu Tahun LA sekaligus 365 Hari Gempa Jogja. Acara yang bertajuk “Ada Apa dengan LA” ini, selain dihadiri oleh kerabat LA sendiri juga tampak kawan-kawan sastrawan Jogja. Yaitu Aguk Irawan MN (penulis novel Kitab Dusta dari Surga) dan Salman Rusydie Anwar (Sanggar KUTUB Krapyak Jogja).
Seperti biasa, diawali dengan tradisi Tahlil selama + 5 menit, acara ini kemudian dilanjutkan dengan refleksi perjalanan LA setahun ini. “Saya sangat terharu melihat semangat temen-temen untuk menumbuhkembangkan kebudayaan dengan seadanya.Terlebih ketika memilih sastra di jalur pinggir.” Tegas Aguk Irawan MN sembari mengimbuhkan agar ke depan LA bisa bekerja sama dengan LESBUMI dan tidak hanya menggarap sastra, tapi juga teater. Selamat buat LA! Semoga tetap semangat untuk terus “Membaca - Menulis; Menjaga Hidup”. (AriZur)
LA Bedah “Louisiana-Lousiana” di Pinggir Kali Progo
Siang menjelang sore-Kamis 31 Mei 2007, di pinggir kali Progo tepatnya di seberang barat jembatan Srandakan, Komunitas LA membedah novel karya Jamaluddin “Lousiana-Lousiana” sambil lesehan di “Saung Progo” cafe & Resto. Pembedah kali ini adalah sahabat Asti Widakdo dengan dihadiri 12 pecinta sastra. Acara bedah buku ini dijadwalkan menjadi kegiatan rutin Komunitas LA sebagai salah satu bentuk pelestarian tradisi “Membaca- Menulis; Menjaga Hidup”. (Mazzie)
BYAR
Rahasia
Rahasia itu bagai magma, menyimpan kedahsyatan yang tak terduga. Simak misal puisi Sapardi berikut: tak ada yang lebih tabah/ dari hujan bulan juni/ dirahasiakan rintik rindunya/ kepada pohon berbunga itu. Puisi tersebut menjadi indah, salah satunya, karena sisi kontradiktoris ditampilkan dengan wajah lembut. Sapardi tak serta-merta “menentang” perspektif meteorologi dan geofisika yang melihat bulan Juni sebagai kemarau.
Rindu yang lama tak terlampiaskan, adalah “hujan yang dirahasiakan”. Apa yang terjadi ketika “hujan yang dirahasiakan” tadi satu demi satu terkuak? Sebuah kedahsyatan siap menyapa. Dan apa yang terjadi ketika “hujan yang dirahasiakan” itu tak kunjung turun? Ia menjadi guru terbaik dari ketabahan dan kearifan.
Seorang pemuda yang “merahasiakan” cintanya pada pujaan hatinya bagai seorang ahlus-saum yang tak cepat patah arang. Ia juga akan merawat hubungan cintanya dengan bijak, untuk tidak egois. Seorang yang beramal dengan siri, selain menerima pahala yang dahsyat, juga mengasah ketabahan (menghadapi kesempitan maupun kelapangan) dan sikap bijak (untuk tidak “berteriak” yang bisa berakibat mengurangi pahala maupun menyakiti yang diberi). Demikianlah buah dari rahasia: dahsyat, tabah, dan bijak. Bukankah semua itu positif bagi kehidupan?
Tidak ! Pelanggaran hukum yang dirahasiakan, tidak diusut, adalah gouletin yang siap memenggal leher bangsa ini, kata seorang teman yang di tahun 1998 hampir diculik rezim Orde Baru. Teman tersebut sepenuhnya benar. Tapi benar dari segi hukum, di negeri ini, sering dikacaukan dengan: perbandingan kemanfaatan dan kemudaratan bagi kehidupan bernegara. Maka jangan heran, jika seorang Amien Rais yang semula lantang ingin mengungkap (rahasia) penggunaan dana non-budgeter DKP, tiba-tiba bersikap: dar' al-mafasid muqqadam 'ala jalb al-masalih (menghindarkan bahaya lebih diutamakan daripada melaksanakan kewajiban yang baik).
Benar, untuk menghindari polemik antar pemimpin yang bisa kontraproduktif bagi perjalanan bangsa, masalah tersebut mesti dibawa ke (dan diselesaikan lewat) jalur hukum. Namun persoalannya, “bahasa hukum” di negeri ini hanya milik segelintir orang. Apa-apa yang sejatinya terjadi pada proses hukum, selain mengenal istilah “tebang pilih” --juga sepenuhnya misteri, seutuhnya rahasia. Dalam atmosfir seperti ini, tidakkah Tuan Amien rindu mengulang perjuangan di tahun 1998 ?
Barangkali momentum reformasi memang tinggal kenangan Sebab, hal tersebut berkaitan dengan momentum politik yang usianya juga amat pendek. Namun, seperti pesan Mao, “meski hidup kita terbatas, revolusi tak pernah mengenal tepi*** M A R W A N T O ( http://markbyar.blogspot.com )
PUISI
AKU BOSAN
Oleh : Sri Juliati
Mata terpejam, terlena malam
Sunyi senyap bawa mimpi kelam
Hati berontak kala angin membekam
Raga lemah menggumam
Khayal melesat terbang
Menjauh dari keraguan
Tak kuasa tuk teriakkan
A K U B O S A N !!!
AKANKAH
Oleh: Reni Windars
Di setiap ufuk ketemukan
Hamasah yang lelah
Azzam yang mulai ringkih
Izzah yang terkoyak
Di setiap langkah kupijak
Bumi bergetar
Gunung berpendar
Bergerak, sujud menuju-Mu
Di setiap tarikan nafas kutanyakan
Akankah Engkau gantikan kami, Robbi??
Bukit Cubung, Mei 2006
KABAR RAHASIA
Oleh : Akhiriyati Sundari
Aku lihat rembulan luruh di pelataran bangku taman
Memajang potongan resahmu dalam gumpalangumpalan cendawan musim hujan
yang dibawa angin ketika hendak berlari kacau ke arah selatan
Bergemuruh kemudian, ditikam kabarkabar yang mematikan akan lakumu yang
tak pernah bisa kutebak, bahkan dalam malammalam memanjang saat
pertemananku dengan rembulan itu masih sehangat suhu badan
Aku lihat kau berlari menembus batas pendengaranmu sendiri
Seperti berlomba membisikkan kalimat rahasia pada telingatelinga
pemancar yang tak letih bersiar ;
“Akan ada yang mati hari ini, Bung!”
Lalu kulihat piala itu retak, melumpuhkan gelisah telingatelinga yang
bising oleh gaduhmu!
(Jl. Brigjen Katamso-Wates, September 2005)
KEMARAU PUN MULAI
Oleh : Enes Pribadi
langit tak lagi menangis
ketika petani desa siap membangun pagar
tanahnya yang berdebu
dibuatkan lubang.
untuk menanam biji bijian
menyongsong paceklik.
kemarau kemaraulah, girangnya
kemarau pun mulai
pepohonan sudah meranggas
rumpunnya hilang
tiada belaian daun
kalau kemarau panjang
mungkin siang mungkin terang
sisa tonggak jadi tegak
aku
aku lupa
MENJAMAH MALAM
Oleh : Dodo el-Faqir
dalam ketenangan
dalam kegelapan
si pekat menampak
andai si bodoh bisa sempurna
andai si pandai tawadu
andai kegelapan tak menyertai malam
andai matahari tak hadir dalam siang
mungkin ada yang ingin berkata
katanya ada TUHAN?
hanya malam yang mampu menjawabnya
mampu menyembunyikan sifat lahir
al f@kir 2007
AKU MENCARIMU
Oleh : Purwanto
Di gunung
Di lembah
Di pantai
Hampir gila
Ternyata kau ada di sini
AKU DAN KATAMU
Oleh: Zukhruf Latif
Aku
melangkah di tepi malam memegang kitab suci
teriak di mimbar seakan dunia hanya sejengkal
membaca ayat tentang surga dan neraka
tentang iman dan kafir
tentang bumi dan langit
tentang matahari dan bintang
galaksi dan cahaya
kemudian buntu dalam labirin otakku
aku bertanya sendiri
sendiri
tanpa tahu ke mana kucari jawabku
karena katamu
itu tidak perlu,
tidak semua mesti terjawab, katamu
bahkan Tuhan pun tak menjelaskan
ketika malaikat bertanya
kenapa Dia ciptakan manusia
yang jelas-jelas akan merusakkan bumi dan menumpahkan darah
kita hanya hamba, katamu
yang tak layak bertanya kepada tuannya apa saja
kita hanya patut mengabdi, katamu
dan hanya mengabdi
sebagai hamba sebaik-baik hamba
dan aku termenung dalam sepi kamarku
(Juni, 2007)
TEMBANG BULAN JUNI
Oleh : Faiz al-Hady
Sepertinya sunyi dan rindu akan lebih banyak menemaniku
Aku kehilangan mereka
Aku telah kembali lagi di sini, menghidupkan gerimis kenangan dalam
nyanyian waktu
Ingin kukirim surat jiwaku kepada mereka. Tapi mereka tak akan tahu
karena aku sembunyi bersama waktu. Biarkan lukaku menua lalu terkapar di
sepanjang musim ini.
Aku ingin membuang separuh mimpiku. Lewat air mata tapi mengapa ia
hanya mengalirkannya dalam sesat. Dan tak mampu melawan badai di jiwaku.
Aku semakin terkurung dan terperosok jauh. Dalam teka-teki mati. Tapi
aku harus kembali. Untuk mengenali diriku sendiri.
KATA MUTIARA
Malas, Bukan Saja Kontra Produktif
Tapi Juga Kontra Revolusi
Presented By
KOMUNITAS LUMBUNG AKSARA
membaca-menulis;menjaga hidup
SMS dari Pembaca
“Mhn maaf ats ketdk hadrn km pd acr ultah LA. dr Jgja km ucpkn slmt ultah ke 1. Smg LA lbh maju dn sukses. Maju terus Komunitas LA”(Humam- 081931765XXX)
“Saya acungkan 4 jmpol tx Lontar. Sy pgen nanya, bgaimana cranya tx mjadi komunitas Lontar? Tadarus puisi acrnya ngapain sih?”(Andhika- 085643246XXX)
Biodata Penulis
Akhiriyati Sundari, Orang Indonesia yang suka dengar koleksi musik Slowrock. Sesekali nimbrung di “Forum Téh Toebroek” Wates. Tinggal di Ngestiharjo. E-mail : monggo_mocomoco@yahoo.co.id
Dodo el-Faqir, alias Widodo. Bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang handphone. Tinggal di Banguncipto Sentolo. Aktif dalam pengkajian Islam di pesantren Gaul Kiai Bantar Angin.
Enes Pribadi, sering juga memakai nama Papi Sadewa. Pendidik di SMAN 1 Wates. Penyair yang pernah meramaikan jagad perpuisian Kulonprogo di era tahun 1980an ini tinggal di nJurangkah Temon.
Faiz al-Hady, nama pena dari Ummul Faizah. Alumni MAN Wonokromo Pleret Bantul. Saat ini tengah nyantri di PPAI Maron Purworejo.
Fajar R. Ayuningtyas, punya nama panggilan Fafa. Bekerja part-time di sebuah warnet di kota Wates. Tinggal di Ngulakan Hargotirto Kokap. Penggemar novel Seno Gumiro Ajidarma.
Purwanto, lelaki satu ini adalah pengusaha Herbal yang sukses. Cukup aktif mengikuti kegiatan-kegiatan Lumbung Aksara. Tinggal di Dusun IV Tirtorahayu Galur.
Reni Windars, gadis kelahiran Kulonprogo, 25 Oktober. Pecinta sastra yang menekuni Sastra Indonesia di Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia UNY angkatan 2000. Tinggal di Sumberejo Jatirejo Lendah.
Sri Juliati, sesuai namanya ia lahir di bulan Juli tanggal 21 tahun 1989. Baru saja usai mengikuti UAN di SMUN 1 Sentolo. Tinggal di Nanggulan.
Zukhruf Latif, Lelaki kelahiran 26 Mei 1975 ini adalah Lay-Outer handal LONTAR. Alumni Fakultas Syari'ah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pendidik gigih yang satu ini adalah Kyai Tetap di Lumbung Aksara dengan spesialisasi Ro'is Tahlil.
LONTAR 6
Rock d World!
rio_nisafa(web admin)
Tuesday, August 7, 2007
LONTAR 5
Aku Masih Supri !
oleh : Diana Trisnawati
Setahun sudah aku meninggalkan kampung, hijrah ke kota besar yang penuh dengan gemerlap rona kehidupan. Jakarta! Kota yang tak pernah sunyi itu akan menjadi tujuanku mengadu nasib. Di setiap sudut kota, kulihat gedung-gedung menjulang tinggi bak pencakar langit, bangunan-bangunan mewah dan keramaian kota yang selalu mengusik ketenangan jiwa. Aku pun berharap, semoga kutemukan kehidupan yang lebih baik di kota ini.
Berbekal sedikit uang dari bapakku, usai lulus SMA aku pergi merajut kehidupan di Jakarta. Dengan sedikit uang itu, kucoba mengubah jalan hidup. Sementara, waktu terus berputar bagai roda bajaj yang melaju entah ke mana, dompetku kian tipis. Sementara pekerjaan belum di tangan.
Suatu hari, seorang teman menawari sebuah pekerjaan. Memang, sebenarnya pekerjaan itu kurang layak bagiku. Namun disebabkan kebutuhan hiduplah akhirnya aku menerima tawaran itu. Sebuah pilihan yang sebetulnya pahit.
”Pri, pakailah baju ini. Biar kamu kelihatan lebih menarik.” Tono memberiku satu stel pakaian.
”Apa? Ini kan baju wanita! Aku nggak mau!”
”Apa katamu? Nggak mau? Katanya pingin dapat duit. Ya beginilah caranya kita menghasilkan uang!”
”Jadi, kamu nyuruh aku jadi waria lalu mangkal di perempatan gitu? Aku ini masih lelaki normal, Ton!”
”Iya, aku tahu! Tapi memang beginilah pekerjaan yang aku tawarkan buat kamu. Ayolah, Pri. Kamu mau ya?” Tono berusaha meyakinkan.
”Bbb...Baiklah, akan kucoba.”
Semula aku tak mau memerankan lakon seorang wanita dengan jiwa laki-lakiku, hanya demi uang. Aku masih menjunjung tinggi nilai moral, agama, dan norma yang aku patuhi selama ini. Tapi, seolah nasib mujur tak pernah berpihak. Selalu saja kesialan yang menimpa, hingga akhirnya aku menyanggupi tawaran Tono.
”Gimana pekerjaanmu sekarang, Pri? Kamu senang 'kan jadi waria, bisa dapat uang tiap malam?”
”Ya, senang nggak senanglah. Mungkin ini yang terbaik buat aku saat ini. Aku 'kan harus kirimi orang tuaku uang.”
”Dulunya aku juga nggak mau kok kerja kayak gini. Tapi lama-lama aku jadi senang, soalnya gampang dapat duit. Mungkin memang sudah nasib kita ya Pri, jadi waria!
Malam semakin larut, aku dan Tono masih terhanyut dalam suasana sedih bila selalu mengingat derita hidup saat ini. Hidup di Jakarta memang tak semudah dan tak seindah yang terbayang dulu. Rumah mewah, pendapatan melimpah dan kebahagiaan hidup, mungkin hanya milik orang-orang yang berperuntungan mujur saja. Tidak untuk aku dan temanku, Tono!
”Pri, kamu cantik deh pakai baju itu. Pantes banyak yang tertarik sama kamu.”
”Ah, biasa aja deh. E-ke jadi malu kamu bilang begitu...” Aku berkata sambil berlagak khas waria pada umumnya.
Banyak temanku bilang kalau perawakanku tinggi-langsing, kulitku kuning langsat dan wajahku terlihat cantik dengan make-up yang biasa aku pakai. Seolah aku terlihat bak bidadari cantik. Bidadari malam yang selalu mangkal di perempatan. Dan nama Vina mungkin memang pantas untukku. Tapi, aku masihlah Supri! Hati dan jiwaku masih sebagai laki-laki yang selalu mendambakan cinta wanita.
”Polisi datang...polisi datang!”
”Ayo, Pri. Kita lari! Aku nggak mau ketangkap!” teriak Tono.
”A...ayo, Ton! Tapi lari ke mana? Mungkin kita udah dikepung!”
Rasa gugup, tegang dan khawatir silih berganti mengusik hati kecilku. Iringi langkahku berlari tinggalkan perempatan yang terang-benderang berhiaskan kerlip lampu metropolitan. Aku takut kalau polisi menemukanku dan membawaku ke kantor polisi.
Ternyata apa yang aku takutkan terjadi! Belum jauh aku berlari, polisi telah memergokiku. Akhirnya aku dan Tono dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Setelah itu kami diberi bimbingan penyuluhan dan siraman rohani. Kegiatan bimbingan ini benar-benar membuat hatiku terketuk! Membuatku tersadar akan semua salah dan dosa yang pernah tertoreh. Aku ingin meninggalkan semuanya. Kembali menjadi Supri yang dulu. Kembali ke kampung halaman.
Tok...tok..tok...
”Pak, Bu, Supri pulang!” Kuketuk pintu rumah dengan hati riang. Berharap bapak dan ibuku menyambut kedatanganku dengan suka cita.
”Ayo masuk, bapakmu ada di dalam.” Aku bagaikan tamu tak diundang. Kedatanganku sepertinya membawa kesialan bagi mereka. Bapak dan ibu ternyata membiarkan aku begitu saja, tanpa kata sambutan yang terucap.
Aku terkejut. Tiba-tiba kulihat kedua mata ibuku mengeluarkan air mata. Dan isak tangis pun semakin mengharu-biru suasana.
”Nak, ibu kecewa padamu. Kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa harus bekerja di tempat kotor, Nak? Kamu mencoreng muka keluargamu sendiri!”
”Maafkan Supri, Bu. Semula Supri juga nggak mau. Tapi karena nggak ada kerjaan lain, terpaksa .... Bu, hidup di Jakarta ternyata sulit!”. Kata maaf mungkin takkan pernah bisa menghapus rasa sakit di hati ibuku. Ternyata bukan bahagia yang aku bawa dari Jakarta, tapi kekecewaan dan kepedihan yang amat dalam. Plus rasa malu yang selalu mengikuti kemana aku pergi. Seakan setiap bertemu orang-orang kampung mereka selalu berkata: ”Hallooo...Mbak Supri. Eee keliru....Mas Vina......”
***
BILIK REDAKSI
Salam Sastra,
Pembaca LONTAR yang budiman, di bulan April (ingat RA Kartini?) sejarah mencatat adanya "zaman pencerahan" yang mengantarkan kaum perempuan berkesempatan merengkuh kehidupan yang semestinya, sebagaimana hak kemanusiaan mengakuinya. Di LONTAR sendiri, sebagian besar personil perempuannya berkeinginan kuat untuk belajar bersama. Ini seperti sebuah puisi yang indah. Seperti kata-kata yang sarat makna.
Membersitkan keinginan untuk bisa hidup "seribu tahun lagi" seperti dituangkan Chairil Anwar dalam puisinya "AKU". Di kalangan sastrawan, bulan April acapkali dikenangkan pada sosok penyair besar tersebut yang wafat di usia muda. LONTAR mengajak pembaca sekalian untuk mengambil "spirit muda" dari penyair kenamaan itu. Selamat membaca ....
BACA BUKU
Judul buku : The Zahir
Pengarang : Paulo Coelho
Alih bahasa : Andang H. Sutopo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (2005)
Membaca tak ubahnya seperti menikmati alam. Keindahannya terasa ketika kita melihat, mendengar, mencium, dan menyatu sendiri dengan alam. Selihai apapun seseorang menceritakan pengalamannya tentang terjalnya gunung, sunyinya gua dan damainya pantai, tentu tak seindah jika dibandingkan dengan apa yang telah ia rasakan. The Zahir akan terasa keindahannya apabila kita membaca sendiri halaman demi halaman novel Paulo Coelho ini.
Aku --- tokoh utama novel ini --- adalah seorang suami yang ditinggalkan istrinya secara tiba-tiba. Kepergiannya menimbulkan pertanyaan dan kenangan yang ditinggalkan tak mudah dihapuskan. Esther, istrinya, adalah wanita pendiam yang membiarkan suaminya pergi sendirian sebab cintanya pada suami lebih besar daripada cintanya pada diri sendiri. Bagi sang suami, wanita itu sudah menjelma menjadi Zahir.
Zahir, menurut Jorge Luis Borges sebagaimana dikutip oleh Coelho, berasal dari tradisi Islam dan diperkirakan muncul pada sekitar abad delapan belas. Zahir, dalam bahasa Arab berarti terlihat, ada, tak mungkin diabaikan. Zahir adalah seseorang (sesuatu) yang sekali kita kontak dengannya, lambat laun memenuhi seluruh pikiran kita. Keadaan ini bisa dianggap sebagai tingkat kesucian atau kegilaan.
Kehadiran sang Zahir sungguh menyiksa kehidupannya. Berbagai cara dilakukan untuk menghapus ingatan akan mantan istrinya itu. Termasuk saat ia berusaha mencintai Marie. Namun, cinta itu berbeda dengan cintanya pada sang Zahir.
Hingga suatu ketika hadirlah Mikhail. Kehadiran lelaki ini menjadi jalan pembuka untuk menemukan kembali istrinya. Bagaimanakah kisah selanjutnya? Apakah ia berhasil menemukan istrinya? Bukan keberhasilan yang ingin ditegaskan penulis dalam novel ini. Namun keberanian untuk mewujudkan sebuah keinginan. Apapun hasilnya, itu berkah Tuhan. Dan, menurut Coelho Tuhan tahu bahwa manusia adalah seniman dalam hidup.
(Maftuhatul Khoiriyah, pembaca sastra, pengelola perpustakaan komunitas Lumbung Aksara.)
ADA APA DENGAN LA
LA Bedah “The Zahir”
Guna mengeratkan jalinan intern, komunitas LA mencoba mentradisikan membaca dan menelaah pustaka, utamanya karya sastra. Ide ini direncanakan menjadi kegiatan rutin setiap bulannya dalam bentuk diskusi kecil bertajuk “Bedah Buku”. Edisi perdana bedah buku kali ini mendaulat Maftukhatul Khoiriyah (Itul) untuk membedah novel “The Zahir” karya Paulo Coelho. Selain diikuti anggota komunitas LA, acara yang bertempat di TEXAZ Café Wates pada Rabu 28 Maret 2007 pukul 14:30 WIB ini juga dihadiri para simpatisan, termasuk anggota DPRD Kulonprogo. (Ndari)
Silaturahmi LA dengan Joko Mursito
Rabu malam, 28 Maret 2007 sebagian awak komunitas LA silaturahmi ke rumah seniman yang juga sekretaris Dewan Kebudayaan Kulonprogo Joko Mursito S.Sn. Dalam jumpa santai yang diiringi rintik gerimis dan ditemani mie goreng hangat itu salah satunya terungkap bahwa potensi seni-budaya di Kulonprogo belum tergarap maksimal. “Kita punya pemandian Clereng dan lainnya yang jika digarap serius dan sinergis oleh berbagai pihak bisa dijadikan wisata budaya yang handal”, kata alumni jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta. (Samsul)
Pembelajaran Menulis Kreatif
Senin siang 19 Maret 2007, Komunitas Lumbung Aksara mengadakan Tadarus Puisi (TP) edisi keenam di rumah sahabat Burhan - kontrakan AB Giripeni Wates. Beda dari biasanya, TP kali ini diisi ”Pembelajaran Menulis Kreatif” dengan menampilkan nara sumber Hasta Indriyana, penyair-penulis dari komunitas Tandabaca Yogyakarta. Di hadapan sekitar 30 peserta, Hasta berbagi ilmu dan pengalaman seputar proses kreatif menulis puisi. Bahwa untuk berproses menulis puisi dan menjadi seorang penyair, memerlukan waktu yang lama serta ketekunan yang luar biasa. Pada kesempatan ini pula seluruh peserta dimintanya mempraktikkan menulis puisi dengan pengantar cerita tentang Roro Jonggrang. Dalam waktu 10 menit, seluruh peserta menuliskan cerita itu berbentuk puisi yang selanjutnya dibaca dan diapresiasi oleh Hasta. (Ndari)
BYAR
Seribu Tahun Lagi
………….
Apakah waktu / seperti yang kita angankan pada jarum jam / seperti yang ditunggu orang tua dan kereta berjalan (Menaksir Waktu, 1996)
Sepeninggal sahabat Zainal Arifin Thoha, teman saya --penyair Abdul Azis Sukarno-- menulis puisi yang bertutur “maut adalah sebuah antrian” (Minggu Pagi, No.01/Th. 60/ April 2007). Mungkin Aziz benar. Atau sedang melihat dari sudut tertentu. Tapi mungkin juga ia alpa: maut (baca: mati) bukanlah sebuah akhir dari hidup. Sebab, hidup dijalani bukan sekedar untuk antri mati.
Semisal orang membaca buku, lembar demi lembar ia baca, bukan sekedar menuju halaman terakhir lalu tamat. Pertanyaannya: ketika buku ditutup, apa ia paham isinya? Ada yang tak paham . Ada yang paham setelah selesai membaca hingga titik akhir. Namun, bagi yang bernaung di lauh al-mahfud, bisa saja paham saat baru menyimak separoh isi buku.
Analogi tersebut mendasari “definisi mati” yang tigabelas tahun lalu saya terima dari seorang pakar filsafat Timur. Terang, ilmu ini mengusik saya --dimanapun berada. Hingga menyeret pada sebuah pertanyaan tentang waktu. Saat itu saya memang belum paham terminologi zeitgeist (roh waktu). Meski begitu, penggalan puisi di atas, jelas mengarah terminologi zeitgeist.
Puisi tersebut saya tulis di Tawangmangu disela-sela Ospek Fakultas Ilmu Sosial-Politik UNS Solo, dimana saya terlibat kepanitiaan. Saat menyimak jalannya Ospek itulah, terutama ketika sesama teman senior memberi “wejangan” pada mahasiswa baru, di lubuk hati saya terngiang sebuah tanya: “Apa hak mereka memlonco? Karena lebih senior?
Lamanya waktu tak menjamin seseorang lebih mutu memberi “kesaksian” atas hidup. Si A dan Si B yang penumpang kereta dari Kediri menuju Padalarang belum tentu memiliki kesamaan kualitas “kesaksian”perjalanan. Bisa jadi Si C yang berangkat dari Kediri namun turun di Wates justru lebih berbobot kesaksiannya. Tergantung intensitas mereka menggauli hidup, untuk ditarik ke garis ilahiah, dan memberi dampak pada sesama.
Memang di dalam kematian batas ditancapkan. Namun “batas” tersebut adalah ranah dimana manusia berpeluang memberi kesaksian atas hidup. Dan “kesaksian” (syahid) paling konkret membekas, kata para arifin, ada tiga hal: amal (jariyah), ilmu (manfaat) dan anak (saleh). Itulah kesaksian yang tak kan pernah “mati”.
Maka, sungguh cerdas ketika meninggal pada usia muda Chairil Anwar justru menulis larik sajak: Aku ingin hidup seribu tahun lagi. Chairil sadar, juga sahabat Zainal dan mereka yang mati muda lainnya: yang hidup bukanlah raganya, namun karya-karyanya --kesaksiannya.*** M A R W A N T O
PUISI
TENTANGMU
Oleh : Osephe H.W.
Tentang kegelisahanmu
Tentang rasa penatmu yang tak berbatas
Menghantui sepinya hari, saat dulu, sekarang,
Dan esok...
Tentang ketakutanmu
Tentang rasa kehilangan, membuntuti jejak tak pasti
Penantian yang tak bermuara
Singgahlah sekedar membicarakannya,
Barang semenit,
Tak akan lama, River West-August, 2006
Ketika Kamu Serupa Rindu
Oleh : Retno Prihandaru
Ketika matamu serupa rindu
Itulah rindu yang kukikis dari batu-batu alotku
Ketika rambutmu serupa penat
Itulah penat yang kutangkis dari malam-malam asamku
Ketika senyummu serupa peluh
Itulah peluh yang kualirkan dari saluran nadiku
Di sini, aku terdiam sendiri
Memandangi lekukmu yang menghanyutkan
Cukup banyak yang mesti kukristalkan
Di batas cakrawala kita
Matamu menjelma elang
Menukik ke sudutku menggelayuti perihku
Senyummu menjelma bulan sabit, terkadang
Bukankah begitu wahai pangeranku
Kamulah nafas di dadaku
Yang berdetak badai
Akankah begitu wahai pangeranku
Kamulah jiwa di tubuhku
Yang berdenyut angin
SEKUTU
Oleh : Nani
Mengapa engkau tertarik kepada orang gila
Padahal ia tak 'kan menyerahkan diri
Walau engkau mengejar & berusaha menangkapnya
Perjuanganmu akan sia-sia
Dia hanya akan menyerahkan buah beraroma pahit
Energimu akan habis
Dimakan bayang-bayang tariannya
Ditelan permainan akrobatnya
Dibalik keganasannya
Ia hanya mau berteduh
Nyaman mengabdi
Tunduk berlindung pada majikan
Yang mengabaikan kehadirannya
Ia tak memiliki dirinya
Tapi tak sanggup menjadi budak kesiaan
Hanya sedia berpadu
Untuk menempuh kembali jalan yang lapang
Januari 2007
PARANGGI
Oleh : Hasta Indriyana
Ke rumah Raudal, bukan
Dengan kuda kupacu laju
Batang lalang dan
Aroma kampung halaman
Kujinjing buat
Menuntaskan satu puisi
Yang lama membatu
Dan jadi rindu
Masa lalu, begitulah
Seperti kekasih yang bikin
Betah dan merasa kenal
Nama sendiri
Kata-kata, kata Mas Iman,
Banyak berkisah tentang
Hal dan sesuatu
Maka sempatkan pulang
Ke rumah hatimu
Yang lapang
Yang dijagai kuda-kuda
Yang ditunggui ibu
Yang bercerita segala tanpa
Kata-kata
Rumahlebah, 2004
Husnul Khotimah
Oleh: Anib Nuham
Hati terang tiba,
Bahagia dalam jiwa,
Langit tegak berdiri di cakrawala.
Hati terang tiba,
Bahagia dalam dada,
Langit cerah berseri semburat warna.
Itu tanda jiwa kembali fitrah,
Menutup mata dalam damai,
Husnul khotimah...
Nagung, 23 Maret 2007
PROGO#1
Oleh: Muh Rio Nisafa
ratusan orang mengiringku ke jakarta,
berusaha menjajakan asa di laju kereta
PROGO#2
kereta ini telah menjadi pasar panjang,
Mengadu nasib menantang masa depan
PROGO#3
“aqua jos yang dingin-dingin”
“yang ngopi-ngopi, kopi-kopi, dua ribu ngopi panas”
mereka berniaga sambil bernada,
sebuah mantra penggugah selera.
Hujan di Pagipagi Sekali
Oleh: Akhiriyati Sundari
Dongengmu ini seperti hujan di pagipagi sekali
Mengirim kesedihan luar biasa
Sewarna dengan perasaan ketika ditinggal pergi kekasih
Dan di pagipagi sekali ini
Hujan kembali mengunjungiku
Menderaskan air mataku
Teringat Pamujiku
(Teringat in memoriam-ku)
Teringat ibuku
(Teringat kesedihanku)
Ngestiharjo, 24 Januari 2007
SMS Pembaca
Ass, Sy Lia, slh 1 pmbc Lontar. Btw, Lntr sgt mbggakn. Sy mo ty, Lntar biasa'a kluar + - tgl brp ya stiap prgtian bln?? Mf kl ggu. Wass.
(Lia-081904018xxx)
Salut deh buat LA! Dg mndatangkn pnulis2 hndal sy jd tau bhwa sya blum mjd seorang pnulis, pokoe pgalaman yg g bs dilupakn, bnyk akhwatnya ya! bagoeuss.. (Andhika-085643246xxx)
Kata Mutiara
Orang Yang Sukses Adalah Orang Yang Mampu Hidup dalam Ketidaknyamanan By Komunitas Lumbung Aksara
Membaca-Menulis,Menjaga Hidup
Biodata Penulis
Akhiriyati Sundari, alumni MAN 2 Wates (1997) ini lahir di Kulonprogo, 16 Oktober 1979. Puisinya masuk di Herbarium, Antologi Puisi 4 Kota; Bandung, Denpasar, Padang, Yogyakarta (PUstaka puJAngga,2007). dan Seorang Gadis Sesobek Indoneisia: Antologi Puisi Kulonprogo (2006). Email: monggo_mocomoco@yahoo.co.id
Anib Nuham, nama pena dari HM Anwar Hamid, S.Sos adalah mantan Wakil Bupati Kulonprogo (2001-2006). Lahir di Bantul tahun 1958. Alumni Fakultas Adab IAIN SuKa dan Sosiologi Stisipol Kartika Bangsa Yogyakarta. Tinggal di Bendungan Wates.
Diana Trisnawati, masih belajar di SMA 2 Wates.
Hasta Indriyana, lahir di Gunungkidul, 31 Januari 1977. Manajer komunitas Tandabaca Yogyakarta ini pernah menjabat Sekretaris Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY, 2003-2005). Mengikuti workshop penulisan esai Majelis Sastera Asia Tenggara di Palembang (2005). Buku yang telah ditulis: Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta (Jendela-2004), Perempuan tanpa Lubang (Pinus-2005) dan menyusul Teater Pendidikan Untuk Pembebasan (INSISTPress-2007).
Muh Rio Nisafa, PNS di Pemda Kulonprogo ini lahir 23 September 1978. Sempat menjadi penumpang setia KA Progo selama 2 tahun. Tulisannya dapat dinikmati di www.rio-nisafa.blogspot.com
Nani, lengkapnya Isnani Nurhalimah, aktivis perempuan yang pernah menggeluti wacana formalnya di jurusan Akidah Filsafat UIN SuKa. Guru MAN 2 Wates ini tinggal di Plumbon Temon.
Osephe H. W., Lahir di Kulonprogo, tinggal di Catur Tunggal Sleman. Belajar Sastra Inggris di USD Yogyakarta. Volunteer di sebuah Mobil Klinik anak-anak jalanan di berbagai persimpangan jalan Yogyakarta. Sajaknya "Berkelakar, Adam dan Kekasihnya" dibawakan di "Panggung Penyair Muda se-Jogja I di Taman Budaya Yogyakarta (20 Agustus 2006).
Retno Prihandaru, siswi SMA N 2 Wates kelas 3 ini lahir di Semarang, 19 Juli 1989. Hobi membaca, menulis, mendengarkan musik dan nge-net. Tinggal di Panjatan.
Friday, July 27, 2007
LONTAR 4
Cerpen AriZur
Peron masih basah. Bau malam pun belum lenyap benar. Wangi rerumputan yang tersapa pagi masih sedikit menyisakan embun. Sepi.
Keputusan ini sudah final. Hatiku telah bulat untuk meninggalkan Jogja. Meninggalkan semua mimpi-mimpi, menanggalkan segenap resah yang selalu menghantui di setiap tidurku.
Masih terngiang jelas silang pendapatku dengan ibu.
Duapuluh lima tahun bukanlah masa yang singkat. Berbekal asa, kubulatkan tekad meneruskan perjuangan Kartini. Berteriak lantang membebaskan kaumku dari pemiskinan dan penindasan. Tapi apa yang terjadi? Semuanya telah diluluhlantakkan oleh ibuku yang ironisnya adalah bagian dari kaum yang aku perjuangkan.
"Pokoknya kamu mesti nurut apa kata romo dan ibumu, titik".
"Tapi, Ratri belum ingin menikah sebelum apa yang Ratri cita-citakan tercapai, Bu...", rajukku sembari menahan isak.
"Jadi kamu melawan perintah romo dan ibu, gitu!"
"Bukan maksud Ratri melawan kehendak romo dan ibu. Tidak sama sekali. Hanya saja beri Ratri waktu. Ratri masih ingin sekolah".
"Nduk, bukan berarti romo dan ibu sudah tidak mau membiayaimu sekolah. Mana ada orang tua yang tidak senang kalau anaknya bisa sekolah lebih tinggi. Jadi orang pinter. Hanya saja ibu sudah tidak tahan dengan gunjingan orang-orang. Mbok ya lihat usiamu itu, sudah tidak pantas untuk terus melajang".
Aku terdiam. Lagi-lagi ibu membawa sensasi kuno itu lagi sebagai alasan perjodohanku. Sensasi yang hanya diukur dengan standar kepantasan umum.
Antara pantas dan tidak pantas, antara wajar dan tidak wajar. Sesuatu yang selalu disorot dari hitam dan putih. Saja.
# # #
Tak terasa sudut kelopak mataku mulai membasah. Sepintas kulihat arlojiku menunjukkan pukul 06:35 WIB. Masih setengah jam lagi, pikirku. Ah, lambat benar, gumamku sembari menggerutu.
Sedikit menepi dari keramaian orang yang mulai mengantri menunggu keberangkatan kereta, kusapu air mataku dengan punggung jemariku. Kulewatkan penantian ini dengan mengenang masa lalu. Membiarkan ingatanku mengembara jauh ke sebelah tenggara kota Jogja.
Kotagede. Tempat di mana aku terlahir dengan nama Rr. Ratri Kusumaningtyas. Putri ketiga dari pasangan RM. Suryo Saputro dan RNgt. Rumanti. Dari gelarnya saja sudah terlihat kalau keluargaku adalah keluarga ningrat. Aku hidup serba berkecukupan. Apa saja yang aku inginkan selalu terpenuhi. Meskipun pada awalnya duniaku hanya terbatas dalam benteng keraton, tak lebih.
Ketika aku masih kecil, aku hanya tahu Dakonan, tari-tarian serta tembang dolanan Jawa yang lain, sementara kedua kakak laki-lakiku boleh dibiarkan bermain sesukanya bersama teman-teman sebaya di luar keraton. Dari situlah kemudian aku berontak. Aku merasa ada perlakuan yang tidak adil dari romo dan ibuku. "Kamu ini anak perempuan, nggak pantes kalau bergaul dengan anak laki-laki!" kata-kata itulah yang selalu membuatku merasa menjadi bagian kedua setelah kedua kakakku yang kebetulan saja laki-laki. Memang aku akui, dalam adat keluargaku, seorang perempuan yang keluar rumah masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu.
Arghh..persetan dengan semuanya. Lama-kelamaan aku merasa bosan dengan keadaanku. Kehidupan ningrat ternyata tak ubahnya hidup dalam penjara bagiku. Kehidupan yang serba aturan, tata krama dan segala tetek-bengek adat-istiadat yang membuatku semakin terasing dengan diriku sendiri. Kehidupan yang terbangun hanyalah sebatas hubungan antara abdi dalem dengan ndoro majikannya, yang jelas membenarkan adanya perbedaan status sosisal. Dan itu semakin membuatku merasa tidak betah.
Selang kemudian, aku sedikit beruntung diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan di luar tempat tinggalku. Dari situlah aku mengenal kehidupan luar. Dunia yang jauh dari keberadaanku sekarang ini. Dunia yang mengajariku warna pelangi, bukan warna hitam atau putih saja melainkan juga warna-warni lain. Jelas kesempatan ini tak 'kan kubiarkan percuma.
Sesekali di sela-sela kuliah, aku mulai aktif dalam beragam kegiatan, berdiskusi dengan kawan-kawan seperjuangan, ikut aktif melibatkan diri di LSM yang bergerak dalam bidang advokasi perempuan. Meski semua harus kulakukan dengan mencuri-curi waktu; tanpa sepengetahuan romo dan ibu, tetapi semua berjalan rapi bahkan hingga gelar lulusan strata satu aku sandang.
Yach...sepenggal cerita itu hanyalah sepotong mimpi. Hingga datanglah seorang Bagas Susetyo. Sesosok nama yang disebut-sebut romo dan ibuku sebagai calon suamiku. Kehadirannya ternyata telah mengacaukan semua mimpiku. Mimpi-mimpi yang aku bangun dari kecil untuk membuat kaumku sedikit terangkat dari kubangan penindasan.
"Sudahlah, Nduk. Manut saja sama romo dan ibumu. Kurang apa sih nak Bagas itu? Orangnya baik, sudah bekerja, wis mapan. Pokoknya nggak bakalan nyusahin hidupmu", bujuk ibuku ketika menggambarkan sosok calon mantu bagi anaknya. Siapa yang tidak kenal dia? Bagas adalah salah satu konglomerat di Jogja. Dia bekerja di perusahaan perak ayahnya yang sekaligus sebagai pewaris satu-satunya karena dia anak tunggal.
Hmm, aku hanya bisa mengulum pedih. Kenapa sih di usia yang sudah berkepala dua masih suka di atur, pikirku. Bukankah tugas utama ketika seseorang menginjak masa dewasa adalah deklarasi kemerdekaan?
Yach, kemerdekaan, kebebasan! Bebas dari segala macam apapun. Siapapun. Terlebih bebas memilih untuk menikah atau tidak sekalipun. Apalagi dengan seseorang yang tak pernah aku kenal siapa dia. Bagaimana dia. Ah...tidak mungkin!! Pikirku. Buatku, menikah bukanlah satu-satunya jaminan untuk hidup bahagia. Kalau toh kita bisa bahagia tanpa harus menikah, lalu buat apa menikah?? Bagiku menikah tak lebih dari suatu produk kebudayaan masyarakat, yang hanya melegalkan tubuh perempuan untuk bebas dinikmati oleh seorang lelaki. Sesuatu yang agung dari sebuah lembaga perkawinan, sering dilupakan. Tak jarang justru dalam lembaga ini, kekerasan dan ketidakadilan menemukan tempat aman. Huhh..aku gemas!
# # #
"Kereta api jurusan Jogja-Jakarta di jalur dua akan segera diberangkatkan. Diharap para penumpang agar bersiap-siap".
Suara operator kereta sontak membuyarkan lamunanku. Gontai langkahku menyusuri gerbong-gerbong kereta, mencari tempat kosong. Sengaja kupilih tempat dekat jendela agar bisa lebih leluasa menikmati perjalanan.
Kulemparkan pandang ke luar. Masih kulihat hijaunya sesawahan yang entah berapa tahun lagi harus tergusur oleh pesatnya zaman. Keramah-tamahan yang terpancar dari penduduknya yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Jogjaku. Aku akan tetap merindukanmu.
Selang beberapa jam dari stasiun Tugu, mendadak tubuhku tersungkur. Jerit ratusan penumpang histeris ketakutan. Empujaya telah kehilangan kendali ketika sebuah Pick-Up melintas di perlintasan KA. Roda-roda kereta seketika keluar dari rel. Menghempaskan tubuhnya hingga terlempar beberapa meter. Suasana seketika menjadi hening. Sehening langkahku pagi tadi.
Aku merasa sayap-sayap telah membawaku terbang. Meretas bebas ke entah. Wangi aroma therapy yang biasa aku baui di lingkungan keraton serasa menyengat hidungku.
Dalam keremangan, samar kulihat wajah ibu. Kucium tangannya sambil berbisik lirih, "aku masih perempuanmu, Ibu. Yang hanya punya vagina dan payudara. Dan hanya itu yang membedakan aku dengan lelakimu!!".
(An-Najah PP. Wahid Hasyim, 29-30 Maret 2004)
BILIK REDAKSI
Salam Sastra!
Bukan suatu kebetulan jika di bulan Maret banyak yang belum tahu ada momentum penting. Ya, tanggal 8 Maret adalah "Hari Perempuan Internasional". LONTAR menggayung sambut momen itu, bukan karena 'latah sosial", lebih dari itu, LONTAR sebagai wadah sastra adalah juga subkultur dari wajah sosial yang sudah semestinya peduli. Mungkin terlalu romantis jika LONTAR bergerak jauh di garda depan perjuangan kaum perempuan. Namun setidaknya LONTAR mencoba beringsut "menyuarakan perempuan" dengan mendorong terwujud-nya masyarakat berkeadilan gender, melalui keindahan yang LONTAR menyebutnya: Sastra! Semoga sedikit suara tentang perempuan di edisi ini bisa memantik harapan tersebut.
Selamat membaca ….
SMS (Seputar Membaca Sastra)
Sastra merupakan dunia yang bebas diskriminasi gender. Sastra dalam arti yang sebenar-benarnya tak boleh diskriminatif.Untuk Indonesia, sejak dulu perempuan seolah-olah merupakan obyek yang tiada habisnya. Perempuan lebih banyak diposisikan sebagai tokoh sentral. Bedanya, kalau dulu menggunakan 'bahasa lelaki' karena penulisnya pria, sekarang yang muncul adalah 'bahasa wanita'.
Kalau kini muncul karya sastra yang ditulis oleh perempuan dengan bahasa yang sangat lugas dan apa adanya, itu bukanlah pemberontakan." Pemberontakan adalah perlawanan atas perlakuan yang tidak adil. Padahal, sastrawan pria pada umumnya justru menampilkan wanita sebagai sesuatu yang indah, bahkan lebih indah dari aslinya,".
Karena itu, perempuan penulis tampaknya tidak menghendaki kepalsuan tersebut dan lahirlah dalam karya mereka sosok perempuan sebagai manusia biasa yang mendambakan kekuasan, harta, dan seks. Berbagai pengakuan terbuka dalam karya sastra, termasuk dalam novel Petir karya Dewi Lestari (Dee), bertujuan membebaskan sastra dari kepura-puraan atau kepalsuan. Di situ digambarkan bahwa perempuan bukan lagi sang dewi yang tanpa cacat Terkadang kebablasan,memerosokkan diri kedalam seks rendahan.
Memek karya Djenar Mahesa Ayu misalnya terjerembab dalam soal selakangan, yang rendah, bukankah estetika kejujuran bukan berarti sama dengan adegan bahasa seks yang vulgar? Dan yang sangat risi manakala kita membaca swastika yang mengambil setting kota Yogyakarta, seolah menasbihkan Yogyakarta sebagai kota Kelamin Sastra yang sejati merupakan karya yang adil, seimbang, dan menyeluruh.
Karena itu, seorang lelaki atau seorang perempuan yang memilih mengabdikan hidup di bidang sastra harus membebaskan diri dari jenis gendernya.Dan tetap kritis tidak terejebak waton beda dengan lelaki.(A Samsul Ma'arif, pecinta budaya)
ADA APA DENGAN LA
LA Audiensi
Selama Januari dan Februari 2007 Komunitas Lumbung Aksara (LA) melakukan audiensi dengan instansi terkait, seperti Perpustakaan kabupaten Kulonprogo, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kulonprogo, serta Dinas Pendidikan Kulonprogo. Materi audiensi seputar perkenalan komunitas dan program kerja. Selain mendapat tanggapan positif, ketiga instansi tersebut siap membantu program kerja LA. Bahkan di tahun 2007 ini, Perpustakaan Daerah Kulonprogo sudah memrogramkan hibah buku sebagai rintisan perpustakaan komunitas LA. (Ndari)
Tadarus Puisi Edisi Kelima
Tadarus Puisi (TP) edisi kelima digelar pada Sabtu Kliwon, 17 Februari 2007 bertempat di rumah Siti MAsitoh (Plumbon, Temon). Program bulanan LA ini dihadiri beberapa simpatisan dan wajah-wajah baru. Tidak ada narasumber khusus, namun TP kali ini terkesan lebih ekspresif sebab langsung dikomentari oleh anggota yang hadir. Baik dari segi isi maupun pembacaan. "Ternyata modal membaca puisi sama dengan membuat puisi yaitu PeDe!", komentar salah seorang anggota komunitas LA. (Mazzie)
Silaturahmi Kultural Komunitas LA
Kesadaran pemahaman budaya di kalangan masyarakat dan pemerintah daerah terasa masih rendah. Salah satu indikatornya, budaya masih dipahami secara sempit. Akibatnya, konsentrasi program dan anggaran dari Pemda di bidang kebudayaan hanya berkutat kegiatan seputar seni. Padahal budaya itu meliputi banyak aspek.
Hal ini dikemukakan tokoh masyarakat Kulon progo Drs. Ahmad Subangi saat menerima "silaturahmi budaya" komunitas Lumbung Aksara (LA), 28/2/07. Lebih lanjut anggota DPRD dari Partai Golkar ini mengatakan harus ada kelompok masyarakat yang berjuang di atas kultural seperti LA. Tapi perjuangan seperti itu kurang memberi keuntungan politis-ekonomis, jadi dibutuhkan individu yang betul-betul punya komitmen kultural.
Di tempat terpisah, komunitas LA bersilaturahmi dengan Yusuf Cahyono. Anggota DPRD dari PAN itu menyarankan komunitas LA mendekat ke Dewan Kebudayaan Kulonprogo. "Perjuangan anggaran lewat APBD sulit. Solusinya Lontar harus mendekat ke Dewan Kebudayaan agar dijadikan sub kegiatan sastra di lembaga tersebut", kata anggota dewan yang pernah membidani lahirnya Sanggar Seni Sastra Kulonprogo. (Samsul)
BYAR
Per-empu(k)an
Ketika membayangkan perempuan, kadang saya teringat sosok ini: Seorang perempuan yang setelah "menjewer" anaknya yang penguasa diktator dan kemudian ia menjadi penguasa di kota Macondo, sejatinya ia telah mewartakan ketegaran seorang perempuan. Meski, dibalik kekuatannya, ia masihlah perempuan yang suka menangis.
Memang, Ursula Iguaran, tokoh perempuan dalam novel One Hundred Years of Solitude (novel ini pertama kali terbit dalam bahasa Spanyol: Cien Anos de Soledad tahun 1967) karya Gabriel Garcia Marques tersebut belum bisa memberi konklusi atas sosok perempuan.
Saat lain, saya juga ingat Sri Sumarah: tokoh perempuan dalam prosa karya Umar Kayam yang begitu "sumarah", manut-miturut, demi menjaga sebuah wisdom bertajuk nilai adiluhung. Sumarah pun tak sepenuhnya memberi gambaran final tentang perempuan.
Meski agak prematur, kita bisa bertanya: mengapa pengarang Kolumbia (Marques) memilih melukiskan perempuan sebagi sosok tegar, daripada pengarang pribumi (Kayam) yang menampilkan perempuan sebagai pribadi yang tersubordinir?
Benar, tak semua pengarang pribumi menampilkan perempuan sebagai makhluk "lemah". Tapi bahwa imej perempuan (Jawa) itu ringkih , sekedar konco wingking, terutama karena "dibentuk" oleh wacana pustaka kita, hingga detik ini masihlah menghantui. Padahal, dalam hidup sehari-hari, amatlah tak terhitung perempuan kita yang tampil tegar dan heroik.
Dengan demikian, kecurigaan bahwa ketegaran perempuan kita selama ini ditutupi oleh wacana yang dikembangkan ideologi patriarki tidaklah berlebihan. Barangkali berangkat dari sinilah timbul ungkapan "sejarah itu miliknya laki-laki" (His-Story dan bukannya Her-Story).
Di lain pihak, tak sedikit perempuan yang suka dipandang dari sisi wadag-nya saja. Selebriti atau bukan, kini banyak yang terlihat ikhlas dan bahkan bangga mempertontonkan ke-empuk-an tubuhnya. Seolah menjustifikasi sebuah larik kalimat yang amat terkenal dalam novel Pengakuan Pariyem-nya Linus Suryadi AG: Nikmat Pangkal Paha.
Anehnya juga, sebagian kaum hawa beranggapan: untuk menaklukkan dominasi kaum adam mesti ditempuh lewat jalur tubuh. Padahal, ada banyak cara yang elegan agar seorang perempuan bisa tampil tegar, terlebih tak menjadi korban ideologi patriarkt. Tengoklah Siti Khatijah, RA Kartini, Bunda Theresa, atau yang lainnya.
Ironisnya, sangat jarang perempuan yang berkaca pada sosok tersebut. Mengapa? Mungkin benar yang ditulis Dorothy W Cantor dalam bukunya Women in Power: perempuan itu jarang mengimpikan masa depan yang gemilang.***M AR W A N T O
Lisa-Ku (Liputan Sastra Kulonprogo)
Tanggal 1 Maret 2007 di kota Wates, tepatnya di sepanjang trotoar depan eks-gedung bioskop yang sekarang difungsikan sebagai gedung pertunjukan bagi masyarakat Kulonprogo, Komunitas Teater Kulonprogo (Tekape) bersama divisi sastranya (ASK) menggelar performance art bertajuk "Serangan Puisi 1 Maret". Acara ini diselenggarakan dalam rangka mengenang jiwa patriot dan semangat "Serangan Umum 1 Maret". Visualisasi puisi dalam bentuk gerak, pola dan bunyi berlangsung 3 jam serta didukung oleh 20 awak ini membawakan puisi-puisi karya Chairil Anwar (Red)
PUISI
Bias Semu Malam
Oleh Nur Islamiyatun
Malam menjadi saksi beku
Ketika resah mengembang dalam senyumku
Semburat benakku menjadi dalih
Dalam panjangnya harapanku
Sekerat daging dalam tubuh
Memilah arti seutas bayang
Memberi kejora dalam arti yang berbeda
Dalam derap titian langkah terjalku
Kunanti jawaban Esa
Dengan rangkai doa tulus
Atas kesucian yang mengarah laju
Berderit hingga cerah hari-hariku
Kumenanti songsong senyum terkias
Ketika seonggok lobi di depanku
Mencakrawala dalam hidup takdirku
Aku mendesah kelu pada sepoi angin
Merintis peluh dalam tapak jalanku
Berharap jawaban Esa ada padaku
Perdamaian
Oleh Refia Adriana
Kudamaikan diriku denganmu, sobat
Setelah perselisihan panjang
Dan alotnya perdebatan
Tanpa kumengakuinya, menerima
Maaf dari sebuah penyesalan
Saat itu aku terluka
Perih dan menganga lebar
Dan kau membasuhnya dengan dusta
Saat itu aku tersulut amarah
Dan kau meniupkan oksigen
Menjebakku dalam bara yang panas
Sekarang...aku pasrah
Kukatakan, aku butuh perdamaian
Disaksikan semua penderitaan
Aku berjanji, tak akan ada lagi kebencian
Cintaku Saudaraku
Oleh Verliendia Yunita
Ketika malam datang
Kesunyian ini menghadang
Sunyi, senyap dan sendiri
Hanya suara hewan-hewan malam yang menemani
Malam kian larut
Hatiku kian tersudut
Kecintaanku pada seseorang
Menjadi duri di sebuah persaudaraan
Pikiran, hati dan perasaanku
Semakin lama, semakin kalut
Kenyataan ini membuat aku jadi penakut
Aku pun tak tahu apa yang kutakutkan...
Duhai malam...
Hanya engkau saksi bisuku
Tetesan air mata kebingungan
Antara cinta dan persaudaraan
Tapi aku hanya dapat selalu ingat
Bahwa cinta tak harus memiliki
Dan cinta tak ingin dimiliki
Jika cinta itu dipaksakan...
Maka hanya akan menyakitkan perasaan
Masih Juga
Oleh Mazzie
Bocah perempuan terkatung-katung di ayunan
Gaun putih menyiratkan keabadian
Bersama debu mengubur impian pada langit-langit benderang
"Ini di mana mama?", katanya
Sebutir keheningan seolah jawaban
Dan waktu yang melenggang membodohi kenyataan
"Sabarlah nak, ayahmu masih di perjalanan"
Mungkin jika telah tiada petang ia datang
(15 Januari 2007)
Karamnya Perahu Kertas
Oleh Reni Windars
Badai menampar anjungan perahu kertas
menghantam buritannya di gunung es yang menjulang
menghempaskan tubuhnya ke samudra yang berjelaga
sunyilah perahu kertas yang limbung berlayar
tiada kawan menggayut senyap
adakah hatinya menyimpan kata
laksana zikir panjang mayapada yang tak jua berakhir
menghantar perahu kertas pada takdirnya
kau dengarkah lantunan doa
mengiringinya jumpai penguasa jagad raya?
( MayaPada, 2006)
Untuk Perempuan Terluka
Oleh Dewi Fatimah
Kesedihan
Hanyalah sebuah kubangan yang dalam
Semakin kau memasuki
Tak ada ujung kau temui
Satu-satunya pilihan hanyalah
Keluar dari kubangan itu
Cepatlah melaju
Usah menengok lagi
Tidakkah kau lihat
Tangan-Nya yang setia
Terulur meraihmu
Engkau hanya pantas bersama-Nya
(Kulonprogo, 1 Suro 1428)
KATA MUTIARA
Setiap detik yang berlalu
Adalah kesempatan untuk Merubahnya
By
Komunitas Lumbung Aksara
Membaca - Menulis, Menjaga Hidup
SMS dari Pembaca
Asslkm. Kpd Buletin "LONTAR"..sya mau tny, kpn t'akhir pngumpulan puisi? Apkh pd s't tadarus puisi? bgmn jk esok sya mngajak tmn ktk s't tadarus puisi? (081392868xxx)
Aq dodo den, Sentolo. Biasa pakai nama al-fakir,td bc lontar eh k kpngn sms, kykn lontar pny energi CINTA yg kuat neh, wadau..kpn2 pngn ktmuan dgn pra sstrawny blh? (081807000xxx)
Biodata Penulis Edisi 03/Th.I/Februari 2007
Ari Zur, alumni UIN SuKa, pernah nyantri di An-Najah PP Wahid Hasyim. Cita-citanya menjadi penyair yang beriman.
Dewi Fatimah, lahir 1979. Terobsesi memiliki kolam Eldorado, sanggar lukis, butik, dan sekolah alternatif. Tinggal di Wates.
Nur Islamiyatun, alumni MAN Wonokromo Bantul, beberapa puisinya pernah dimuat majalah Bhakti.
Refia Andriana, pelajar SMK N 1 Pengasih ini lahir di Kulonprogo, 25 Mei 1989. Tinggal di Siluwok, Temon.
Reni Windars, lahir 25 Oktober 1987 masih kuliah di FBS UNY Yogyakarta. Tinggal di Jatirejo, Lendah.
Mazzie, atau Siti Masitoh, lahir 22 Nopember 1980 masih berjuang menyelesaikan studi di UIN Suka. Tinggal di Temon.
Verliendia Yunita, pelajar SMEA Muhamadiyah 1 Wates, tinggal di Temon.
Thursday, July 5, 2007
LONTAR 3
Cerpen Asti Widakdo
Bedebah! Ternyata selama ini Risa menganggapnya tidak serius. Belum cukupkah pengorbanan Alpin untuknya? Seenaknya saja Risa menuduh rasa cintanya hanya main-main belaka. Kenapa tidak dari dulu Risa bilang begitu, sehingga tak perlu capek-capek Alphin memperjuangkan rasa cinta demi kebahagiaan mereka. Semua masih tersimpan sempurna dalam otak Alphin: tentang awal mereka menyatakan perasaan sampai akhirnya seperti ini. Ya, semua masih tersususn rapi dalam memori.
" Aku sayang kamu tulus dari hati ". Bukankah itu yang selalu Risa nyatakan saat dalam pelukan Alphin. Anehnya Alphin percaya semua itu akan membawanya ke sesuatu yang membahagiakan mereka. Tapi kini, bagai kilatan petir di siang bolong semua impian sirna oleh kata-kata Risa yang ternyata berlipstikkan dusta. Risa yang dulu Alphin anggap sebagai bidadari syurga, mendadak berpaling darinya.
Kini Alphin sadar telah dibutakan oleh rasa cintanya. Terjebak dalam perangkap yang menyeretnya ke jurang kenistaan. Alphin pun memutuskan untuk mendobrak pintu perangkap dan lepas dari belenggu rasa yang akan terus menyiksanya.
Walau begitu, Alphin tak bisa sepenuhnya menyalahkan Risa. Semua berawal ketika mereka saling curhat tentang masalah yang sedang Risa hadapi, yang tanpa terasa telah menarik rasa simpati untuk membantu Risa. Bukan karena Alphin mencintainya, tapi sebagai seorang sahabat Alphin ingin membantu tanpa pamrih.
" Aku sudah lama mencoba untuk mencintainya, tapi selama dua tahun aku tidak bisa. Dan sekarang, aku sedang jatuh cinta kepada seseorang, aku bingung! "
Risa ungkapkan apa yang ada dalam hati.
" Kalau kamu tidak mencintainya, kenapa mau menerima dia? Bukankah itu akan menyakitkanmu... dan sekarang kau rasakan itu. Kalau boleh tau siapa lelaki yang meruntuhkan rasa cintamu? "
Mereka saling terdiam sesaat. "Apa aku mengenalnya?" lanjut Alphin.
"Ya, kau mengenalnya. Bahkan sangat mengenalnya" jawab Risa.
Terlintas dalam benak Alphin "apakah itu aku?", tapi Alphin segera membuang jauh pikiran itu. Sampai pada malam yang akhirnya membuat Alphin takluk akan sinyal cinta yang terpancar dari hati Risa. Dan mereka pun menyatakan rasa yang masih mengambang di bawah romantisnya sinar purnama sebagai awal kisah cinta. Hingga suatu ketika....
"Sebagai seorang lelaki aku masih meragukan tentang status kita. Ris. Apa kau serius mencintaiku? Sejujurnya aku tidak mau diduakan. Aku sungguh menaruh harapan besar terhadapmu".
"Al, aku bingung! Dalam hatiku berkecamuk, gundah gulana berkliar mengakar tak berujung. Tapi hati ini tetap mengalunkan nada cinta untukmu.
Dan, asal kau tahu saja, aku tak mau kehilangan rasa cinta ini. Untuk dia, aku belum merasa yakin apa aku bisa, aku takut kalau nantinya menyakiti perasaan orang lain.
" Aku mencintaimu Al, tulus dari hati", sambil menitikkan air mata, Risa rebah di dada Alphin. Suasana haru nan romantis, diiringi deru angin sepoi dingin dalam kemesraan.
" Aku juga mencintaimu Ris. Aku tak mau kehilangan rasa ini. Kita jalani saja apa yang harus kita jalani, semua ini adalah atas kehendakNya. "
Waktu berlalu. Detik berganti menjadi menit, menjadi jam, menjadi hari, menjadi minggu, dan menjadi bulan. Tanpa terasa kisah mereka terlewati penuh keromantisan, keraguan, dan kedengkian. Gila, geli, gelisah menjadi deretan gerbong dalam kereta cinta. Sampai pada waktunya......
" Ris, ada apa gerangan sikapmu beberapa hari ini berubah? "
" Memangnya. "
" Aku merasa kau tak lagi seperti dulu. Indahnya cinta tak lagi kurasa dalam pancaran matamu. "
Gejolak keraguan mengoyak relung hati Alphin, dalam deru sendu ia beranikan diri untuk menanyakan hal itu kepada Risa.
" Setiap hati ada batasannya Al, kenapa kau tidak tanyakan sendiri pada dirimu."
Sedikit kasar memang, tapi itulah Risa yang misterius. Gejolak kembali merebak dalam hati Alphin terus menjalar ke otak, beribu pertanyaan berserakan dalam pikirnya. Hatinya berbisik.....
" Alphin, bukankah Rosululloh telah mengajarkan kita untuk bersabar? Jangan sampai kau buta oleh prasangka yang nantinya akan membawamu ke dalam penyesalan. Bukankah cinta tak harus memiliki, karena itu buktikanlah untuk cintamu dengan sedikit berkorban. "
" Hmmm...... berkorban demi cinta? Kelihatannya asyik juga, apa salahnya dicoba. " Alphin berdialog dengan hatinya.
Selama berhari-hari, detik-detik terlewati hanya Risa yang ada di benak Alphin. Terus dan terus menjawab pertanyaan yang tercipta dalam otaknya. Ternyata semua itu meyakinkan hatinya bahwa Risa bukanlah yang terbaik baginya.
" Jika memang diriku bukanlah menjadi pilihan hatimu, mungkin sudah takdirnya kau dan aku tak bersatu ", suara hati berbisik bak lantunan lagu. Lagu yang menyeret Alphin memencet nomor Risa yang ada di HP-nya.
" Risa, bisa kita ketemu? "
" Ada apa Al ? "
" Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Penting. ?"
" Kalau begitu temui aku di masjid siang ini. "
Alphin meletakkan HP-nya. Ia keluar dari pintu kamar, dengan semangat jihad, menuju Rumah Tuhan. Sambil bergumam, " Aku tak berniat menyakiti hatinya, aku hanya inginkan dia bahagia. "
Masjid itu masih lengang. Alphin melihat gadis itu duduk di serambi masjid, dengan raut wajah penuh tanya.
" Ris, sudah cukup kebimbangan yang kau cipta "
Suasana hening, meski kata-kata Alphin datang bagai petir menyambar di siang bolong.
" Maksudmu..? "
" Setiap hati ada batasannya. Dan hari ini adalah batas hati itu. Ris, hati ini lelah oleh sikapmu yang tak pedulikanku. Padahal kau tahu betapa aku mennyayangimu. Aku letih dengan semua ini. Kuharap kamu mengerti dan sadari "
Terdiam, keduanya terdiam. Sunyi sepi menjadi dalih atas bisunya lisan. Mungkinkah ini akhir cerita cinta diantara mereka? Suara adzan mengalun merdu menusuk relung kalbu, menyejukan jiwa, dan tanpa terasa waktu dzuhur telah tiba.
(Kulon Progo, 1 Muharram 1428 H)
Bilik Redaksi
Pembaca budiman,
Bagi sementara orang, ter-utama anak muda, bulan Februari identik dengan bulan "kasih sayang". Ya, ini karena pengaruh Valentin's Day. Jika ditelusuri, perayaan Hari Valentin merupakan tradisi Gereja dalam memperingati wafatnya Santo Valentinus. Konon, sebelum gugur sebagai martir (mati syahid?) ia sempat menulis catatan kecil tentang cinta. Lalu, di berbagai belahan dunia, hari Valentin diperingati dengan pembarian hadiah seperti coklat, bunga mawar, kartu bergambar cupid dan ungkapan cinta bagi sepasang kekasih. Kita tidak menolak, tidak juga mengkampanyekan hari Valentin. Kalau Lontar edisi ini terkesan "bernuansa cinta", itu lebih karena sikap toleran semata. Bagi kami, tak ada sedetik pun waktu terlewat tanpa cinta. Dan karena cinta pula, Lontar selalu hadir menyapa Anda.
Selamat membaca !.
Baca Buku
Judul : Pudarnya Pesona Cleopatra;
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Penerbit Republika, Jakarta
Cetakan : IV, 2006 ( vii + 111 halaman)
Novel tipis ini terdiri dari dua cerita berbeda dan tidak memiliki kesatuan cerita. Kesamaannya terletak pada tema yang diurai. Cinta dan pernikahan. Cerita pertama menyajikan kisah cinta yang tragis. Lelaki yang menikah dengan gadis pilihan ibunya tanpa didasari cinta bahkan hingga istrinya mengandung anak mereka. Sang istri akhirnya meninggal bersama bayinya di saat lelaki itu mulai bisa mencintainya. Sayang, ia tak memiliki kesempatan untuk menebus kesalahan, juga cintanya. Pergulatan batin penuh dialami oleh lelaki itu yang tergila-gila dengan prototype perempuan-perempuan Mesir (tempat di mana lelaki itu pernah menimba ilmu) yang kecantikannya konon merupakan titisan Cleopatra.
Cerita kedua menampilkan tokoh perempuan yang bergulat dalam dilema. Mirip kasus klasik ala Siti Nurbaya. Menikah untuk melunasi hutang ayahnya. Cerita ini ditutup dengan happy-ending yang mudah ditebak. Ada pahlawan yang tiba-tiba datang menyelamatkan si tokoh (bak pangeran berkuda putih). Dilanjutkan dengan kalimat "akhirnya mereka hidup bahagia sebagai sepasang suami istri".
Membaca novel ini, kita seolah diajak untuk romantik sekaligus sentimentil. Pergulatan batin yang menjadi ruh novel ini (seperti disebut sebagai novel psikologi Islami) terasa biasa saja, dilihat dari latar belakang pelakon cerita yang notabene orang-orang yang cukup berpendidikan, sehingga sudah selayaknya pandai mengelola konflik batin itu. Istimewanya bagi saya cerita ini membawa pesan moral tentang bagaimana memilih dan mencintai pasangan hidup dengan tulus-apa adanya.
(Akhiriyati Sundari, Penikmat novel cinta. Tinggal di Blok 2 Ngestiharjo-Wates)
Ada Apa dengan LA
LA di Forum Penyair 4 Kota
Dua penyair komunitas Lumbung Aksara (LA), Marwanto dan Akhiriyati Sundari, diundang pada acara Forum Penyair 4 Kota (Padang, Bandung, Yogya, Bali) yang berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta, 2-3 Februari 2007. Pesertanya adalah penyair yang karyanya dimuat di buku "Herbarium" (Antologi Puisi 4 Kota). "Dari 4 penyair Kulonprogo yang mengirimkan karyanya, terpilih 2", kata Mahwi Air Tawar, koordinator acara. Selain lounching "Herbarium", juga digelar diskusi sastra dengan pembicara Dr. Faruk HT, Afrizal Malna, Saut Situmorang, Raudal Tanjung B. (Yogya), Widzar Al-Ghifary (Bandung), Sudarmoko (Padang), Muda Wijaya (Denpasar). (Itul Khoiriyah
Tadarus Puisi Edisi Keempat
Acara bulanan Komunitas LA, Tadarus Puisi (TP) berlangsung 23-1-07 di Sorobayan, Tirtorahayu, Galur diikuti anggota dan simpatisan Komunitas LA. Beda dari biasanya, di TP kali ini hanya dua penyair yang membacakan puisi: Samsul Maarif (LA) dan M. Shodiq (ASK). Sebab, acara dilanjutkan untuk membahas program kerja LA. (Itul Khoiriyah)
BYAR
Ghaib
Ada baiknya kita ingat Parmin. Ia memang bukan tokoh penting. Tapi di malam itu (sekitar sepuluh tahun lalu), di sebuah wartel yang sesak orang antri ingin menelpon, ia berjuang keras “melawan” kemauan “ruh”-nya.
“Cepat dong, katakan!”
“Emm.... apa harus malam ini..?”
“Ya, harus ….!!!!!!!!!”
Parmin gagal mengucapkan. Juga esok harinya, saat bertemu Siti di kampus. Meski belum mengucapkan, sejatinya ia telah menyatakan sikapnya pada Siti. Dan inilah keyakinan Parmin: cinta itu bukan sederet kata dan rayuan manis, tapi sebuah sikap. Sikap yang dilandasi hubungan intens antar “ruh”. Apakah ruh itu?
Menurut kitab suci, pengetahuan manusia tentang ruh serba terbatas --sedikit. Mungkin bisa ditafsirkan: definisi ruh tak perlu diperdebatkan. Sebab ruh itu urusan Tuhan (Ar-ruhu min amri Rabbi). Cukup manusia menjaga dengan sikap, dengan tindakan, yang merupakan manifestasi dari vibrasi ruh. Dan inilah cinta!
Cinta itu tak ada habisnya jika (hanya) dibicarakan, tapi sungguh sangat simpel bin nikmat jika dilaksanakan. Demikian seloroh seorang teman. Ia tidak salah. Sebab, mendebatkan hubungan antar ruh adalah muskil.
Itu wilayah ghaib: domain yang sejatinya “tak tersentuh kata”. Ingat saat Kanjeng Nabi mi'raj? Di “langit kesatu sampai enam” beliau masih bisa berdialog dengan malaikat. Tapi, begitu menghadap Allah di langit ke tujuh (sidratul muntaha), “pertemuannya” tersebut tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Mengobral cinta dengan kata bukanlah tindakan bijak. Kecuali bagi seorang penyair. Itupun tidak untuk tujuan “mendebatkan” cinta, namun untuk menghaluskan rasa. “Alusing rasa bakal ngadohke tumindak dur-angkara”, kata teman kos saya di Solo, tahun 1997. Tapi saya menyanggah: “Bukankah penguasa kita juga berperangai halus, suka ngumbar senyum di hadapan petani pada acara klompencapir, mengapa banyak teman kita demonstran diculik?”
“Halusnya rasa tak (hanya) identik dengan senyum, Dab! Tapi, bertindak sesuai kata hati”, jawab teman tadi. Saya pun tertegun, dan kembali teringat Parmin, yang beberapa waktu lalu ditanya istrinya.
“Mas, katanya sampeyan itu penyair, kok tak bisa romantis…?” Cukup lama Parmin merenungkan pertanyaan isterinya. Sampai pada suatu kesimpulan: “Dik, mungkin aku ini bukan tipe penyair yang suka tebar pesona………….”
M A R W A N T O
Lisa-Ku (Liputan Sastra Kulonprogo)
Sebuah acara menarik bertajuk “Bikin Puisi Bareng” (BPB) berlangsung di Taman Binangun Kulonprogo (TBK) pada hari Minggu pagi (4-2-07). Acara yang direncanakan berlangsung pada minggu pertama tiap bulan ini digagas oleh Ajar Sastra Kulonprogo (ASK). Untuk BPB edisi perdana kali ini menghadirkan nara sumber: Marwanto (koordinator Komunitas Lumbung Aksara) dan Wahid AS (ketua komunitas Padang mBulan) dengan dipandu Puthut Buchori (Pemimpin Redaksi buletin ASK).
Acara yang diikuti sejumlah anak muda ini diawali uraian singkat dari nara sumber ihwal pandangan mereka terhadap dunia kepenulisan dan sastra (khususnya puisi). Bagi Wahid, puisi adalah tulisan yang menekankan penggunaan simbol yang indah. Sementara menurut Marwanto, beda dengan tulisan ilmiah, puisi adalah sebentuk karya yang berangkat dari mata batin penulisnya.
Setelah paparan nara sumber, acara dilanjut dengan membuat puisi. Setiap peserta yang hadir diberi waktu 15 menit untuk membuat puisi. Lalu, mereka membacakan karyanya dan semua yang hadir diberi hak untuk mengomentari.
Menurut Puthut, komentar dari nara sumber hanya bertujuan memperkaya wacana. “Di sini tak ada pengadilan puisi, sebab kita sama-sama masih dalam taraf belajar menulis puisi”, kata lulusan ISI Yogyakarta ini. (Aris Izur)f
PUISI
Makin ridu
Oleh Mukhosis Noor
Hari ini kau sematkan di tanganku duri-duri mawar
Setelah kemarin kau selipkan di jariku paku-paku kehidupan
Seperti air
Kau adalah titik hujan
Seperti batu
Kau adalah ornamen kehidupan
Seperti kembang
Kau adalah teduh bakung
Seperti api
Kau adalah bara
Seperti angin
Kau berlalu
Hari ini
Makin aku rindu
(Yogjakarta, 18 desember 2006)
Nota Cinta
Oleh Sri Juliati
Serpihan hati masih melekat
Tak kan terhapus oleh pekat
Bayang ragamu slalu ada
Menari di dasar jiwa
Ingin kuberontak
Kepada sesuatu yang maya
Sesuatu yang disebut cinta
Apalah makna ini semua!!
Senyummu tak dapat kulupa
Lalu kapan kan sirna?
Semua hampa, tiada berasa
Valentinkan Ibuku
Oleh Niko Ferdian
Aku inginkan semua bervalentin
Siapapun. Dimanapun. Kapanpun.
Agar nurani merdeka tanpa batas
Dan kalbu berteriak tanpa asa
Tapi belum untuk Ibuku
Sori Bu…..
Sebenarnya valentin hanya hakmu
Bukan milik mereka yang melalaikanmu
Bukan milik mereka yang menyiksa nuranimu
Aku janji….
Kuberikan saat ini dan esok hari
Tuhan..?!
Valentinkan Ibuku
Ini yang kumampu
Berniat belum berbuat
Berucap belum bersikap
Met valentin Ibuku…
Senja Ke Seribu Enam Ratus
Delapan Puluh
;untuk lelaki senja
Oleh Fajar R Ayuningtyas
Senja ke seribu enam ratus delapan puluh
di cakrawala siluetmu telah tak terbaca.
Entah
Hanya fosil matahari angin debu
dan segenggam abu perapian
sisa perburuan semalam
Maka kulepaskan cinta, sayang, ke lembah bebatu itu
hatiku masih terjal. Sampai entah kapan
Kini biarkan saja malam turun dihatiku dan engkau
Dawai-Dawai Cinta
Oleh Wahid Agus Supriyanto
Di sini kita berdiri
Di sudut rona mentari berseri-seri
Bersedih ….
Ataukah lebih perih
Ketika kusebut sebuah nama
Bergetar membias seluruh jiwa
Mungkin kecewa atau duka
Mungkin juga gundah gulana
Kupetik gitar tua di tengah huma
Nyanyikan syair lagu mawar bunga
Untukmu wahai kusuma
Impian hati di tanah surga
(Taman Binangun Kulonprogo, 4-2-07)
S a a t n y a
Oleh Borhan
Keindahan seperti apa yang kau cari
Kenapa harus menunggu waktu
Bukankah bisa didapat kapan saja
Asalkan kau sanggup bermimpi
Kasih sayang dari mana ingin kau dapat
Kenapa harus mencari dengan sesaat
Bukankan bisa dari siapapun
Asalkan kau siap menggapainya
Kebahagiaan seperti apa coba kau raih
Kenapa harus bersama-sama
Bukankah bisa dengan kesendirian
Asalkan kau bisa menikmatinya
Ah…..
Keindahan semu mungkin
Uh…
Kasih sayang beku pasti
Ehm…..
Kebahagiaan sesaat klimaksnya
Ah.. Uh….Ehm….
Ada di diri dan pribadi
GEGURITAN
L E L O N O
Dening Numri S. Zain
Ing lelakone urip
Akeh pangurip-urip ing warta
Ananging manungso
Ora padha sadar lan mangerti
Hilang sudah
Lelabuhan kang digadang-gadang
Tanpa warta
Tanpa suara
Urip iku kudhu kelingan karo sing ngecet lombok
Ojo lali laporan
Mung nundukake nafsu
Kanggo wektu kang sedilit
Ora suwe
Gusthi ngerti karepmu
Karepe sedoyo wong kang urip ing dunyo
Gusthi kang Maha kuasa
Lelono ing jagad liyo
Ora ngerti panggawean
Ngerti wus manggon
Anjejekake palungguhan
Ing panggonan kang sepi
Lelono ora mung neng jagad dunyo
Ugo ono jagad pamikiran
Kang dipun enteni
Sedoyo karya lan ide
Ingkang sampun kasimpen wonten wigatosanipun
Sedoyo pelakon urip
Ngupoyo hasil
Kang durung kasampean
Nganti ngimpi-ngimpi
Lelono ing ati luwih susah
Nyumertaake rasa, jiwa lan raga
Kabeh tumurut
Nora nana kang gampang
Ati kang kudu ng-ati-ati
KATA MUTIARA
Dengan atau tanpa
Valentin
Cinta adalah Ruh Kehidupan
By
Komunitas Lumbung Aksara
Membaca - Menulis, Menjaga Hidup
Biodata Penulis
LONTAR Edisi 03/Th.I/Februari 2007
Asti Widakdo, lahir 26 November 1987. Penulis yang asli Galur ini mulai awal Februari mencari pengalaman hidup di Bekasi. Sambil mendinginkan hati, akunya.
Borhan, yang punya nama lengkap Burhanul Fahruda adalah penyair “karaten” yang kini terobsesi menjadi pengusaha sukses. Tinggal di “Kontrakan AB”, Giripeni Wates.
Fajar R Ayuningtyas, lahir 29 April 1982, punya kesibukan part-time di sebuah warnet di Wates. Tinggal di Ngulakan, Hargorejo, Kokap.
Mukhosis Noor, lahir 16 Februari 1986, masih kuliah di jurusan Bahasa Dan Sastra Arab, Fak. ADAB UIN Sunan Kalijaga. Tinggal di Sindutan, Temon.
Niko Ferdian, penyair muda pesisir kidul ini siswa kelas III SMA 1 Wates, dan belum punya pacar.
Numri S. Zain, alumni UIN Sunan Kalijaga. Kini pengurus Dewan Asatidzah PP Wahid Hasyim.
Sri Juliati, sekolah di SMA Negeri 1 Sentolo, tinggal di Nanggulan.
Wahid Agus Supriyanto, lahir 11 Maret 1978, adalah ketua komunitas Padang Mbulan. Seniman yang akrab dipanggil Redjo ini juga sering menulis geguritan, tinggal di Panjatan dan Wates.
SMS Pembaca
Asslkm. Surprise! Da komunts sastra di KP. Gimana caranya gabung? (Ida-Lendah: 081932763xxx)
Mas/Mbak, nek mau gabung sama Lumbng Aksara piye carane yo? Nuwun. (Sartana-Girimulya: 0817269xxx)
Gmn klo di Lontar ada rubrik ulasan thdp karya yg dimuat. Ya, spy karya yg ada bisa dipahami pembc, OK?? (Tole-Galur: 08104283xxx)