BILIK REDAKSI
Salam Sastra !
Kami mencoba menangkap cuaca. Sesungguhnya cerita apa yang hendak dikisahkan oleh cuaca yang akhir-akhir ini banyak kalangan menyebutnya "tak ramah"? Benarkah cuaca memiliki keramahan dan ketidakramahan? Lantas bagaimana bentuk cuaca yang ramah dan cuaca yang tidak ramah itu?
Pembaca LONTAR yang budiman, beberapa saat lalu kami menyempatkan berkunjung ke pantai Glagah. Angin kencang meniupkan dingin dan gigil ke tubuh kami. Tapi tidak sampai mengantar ombak menjilati kaki-kaki kami atau menghempaskan tubuh kami meski kami begitu dekat dengan garisnya. Kami tak menangkap ramalan cuaca apa-apa. Atau kami saja yang tidak memiliki kemampuan ke sana? Selanjutnya, cuaca yang alamnya coba kami dekati dengan lanskap pantai dan laut itu bagi kami menjadi suasana tersendiri yang kami tak ingin menyebutnya "ramah atau tak ramah". Bagi kami, alam beserta cuacanya adalah sahabat. Yang tak jemu mengingatkan bagaimana kami musti berbagi, menghargai, dan menyayangi semesta. Rasa-rasanya setelah bertemu laut, kami jadi lupa akan menceritakan apa...
Selamat Membaca...
BYAR
Gemuyu
Maafkan. Ini adalah catatan yang terlambat Tapi bagaimanapun harus saya tuliskan. Sebab, semasa hidupnya ia selalu membuat wong cilik gemuyu –meski ia bukanlah pelawak. Ya, Ki Hadi Sugito, dalang kebanggaan warga Kulonprogo yang wafat Januari lalu itu, kiranya tiada duanya dalam hal membuat penonton “gemuyu” –kata ini kurang tepat benar jika disepadankan dengan tertawa. Tertawa hanyalah salah satu aspek saja dari gemuyu. Dan Pak Gito mampu membuat orang tertawa justru karena ia tidak berniat menjadi pelawak. Lalu, apa rahasianya?
Tampaknya lagi-lagi ini soal jarak. Ketika mendalang, Pak Gito tak membuat jarak: baik dengan penonton maupun kru (wiyogo-nya). Penonton dan kru, yang notabene “orang luar cerita”, ia anggap sebagai “satu kesatuan” dari cerita yang ia bangun. Alhasil, lakon yang disuguhkan pun menjadi mengalir lancar dan enak diterima audiens. Dialog antar tokoh wayang pun bisa berloncatan. Kesana-kemari (seakan) tanpa merusak pakem. Seorang Abimanyu bisa pekoleh bersinggungan dengan kentut. Apalagi Punakawan, bebas bicara dari A sampai Z. Padahal, dibanding dalang segenerasinya, Pak Gito lebih “carangan”. Meski jika dibanding dalang masa kini semacam Ki Enthus Susmono dan Warseno Slank, Pak Gito lebih konservatif. Carangan, bagi Pak Gito, kiranya lebih pada “penceritaan”, dan bukan tampilan fisik.
Tentu Pak Gito bukan satu-satunya pemilik teknik ini. Di bidang lain, misalnya, kita pernah mengenal obrolan Pak Besut di RRI. Di dunia tulis menulis, kita ingat kolom Umar Kayam dengan ikonnya yang sempat populer: Pak Ageng, Mister Rigen, dll. Di dunia entertainmen kontemporer, banyak yang punya teknik tak hendak berjarak dengan penonton. Talkshow “empat mata” dari Thukul, juga demikian. Semua itu intinya ingin megajak “orang luar” untuk masuk menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita yang disuguhkan.
Tapi, hemat saya, Pak Gito lebih berhasil membawa masuk orang luar itu daripada contoh pencerita (penghibur) lainnya. Apa karena ia sukses memangkas jarak tak hanya tatkala tampil di panggung, namun juga dalam kehidupan sehari-hari? Atau karena wayang memang media yang paling pas digunakan untuk membuat orang gemuyu? Entahlah. Yang jelas dengan meninggalnya Pak Gito kita kian kehilangan stok orang yang bisa mengajak wong cilik gemuyu, tertawa, senang dan bahagia. Yang kita saksikan kini justru banyak orang yang senang mengajak untuk menertawakan kesusahan orang. Seperti kata Thukul: SMS, senang melihat orang lain susah.***
MARWANTO (www.markbyar.blogspot.com)
ADA APA DENGAN LA
Ketika Sastra mampu Mencegah Timbulnya Sektarian
Sabtu, 9 Februari 2008, bertempat di area gedung Kesenian Wates, Komunitas LA mengadakan Tadarus Puisi (TP) ke-14 yang sempat absen beberapa saat. Hadir dalam kesempatan itu 15 orang dengan pembacaan puisi masing-masing. Sebuah diskusi kecil terungkap ketika itu. Bahwa seusai penyelenggaraan Temu Sastra 3 Kota beberapa saat lalu yang diselenggarakan oleh LA dan Sangsisaku, ternyata sastra mampu merangkum semua lini dan hapus sekat. Tidak ada sektarian di antara para sastrawan karena sastra memang bersifat universal dan tidak berbau sara.
Dalam kesempatan TP ini pula, louncuhing LONTAR edisi 14 dan buletin Prasasti yang pada edisi ini tampil dengan format baru. Ke depan, Prasasti akan tetap konsisten tampil dengan sorot-sorot tajam terhadap fenomena sosial remaja seperti diungkap PU Prasasti. (Sukardi Cimeng)
Agenda Pentas Budaya Sastra Kulonprogo 2008
Kamis, 14 Februari 2008 DisBudPar mengundang LA dan komunitas sastra dan teater lain se-Kulonprogo untuk hadir dalam rapat mengagendakan Pentas Budaya Sastra-Teater 2008. Setelah sukses dengan pementasan akhir tahun di 2007 lalu, DisBudPar akan menyelenggarakan lagi pementasan budaya sastra dan teater yang akan dimulai pada bulan April. Mengambil tempat di panggung terbuka di Alun-alun Wates, pentas ini akan diselenggarakan selama 6 kali pertunjukan dalam setahun. Diikuti oleh komunitas-komunitas sastra dan teater di Kulonprogo. (Zur EA)
CERPEN
TITIK BALIK
Cerpen Z. Latif
Kedua orang itu berjalan berdampingan. Tinggi keduanya tidak jauh berbeda. Mungkin selisih setengah senti saja.Yang satu rambutnya cepak memakai baju kaos warna krem. Dengan baju itu terlihat otot-ototnya yang kencang. Langkahnya tegak dan mantap. Satunya lagi berambut sedikit gondrong berkucir sebahu dengan jaket kulit yang longgar. Memakai sarung warna merah hati bergaris kotak putih. Melihat warnanya, sarung itu seperti belum lama keluar dari toko. Keduanya melangkah ke arah sebuah lincak dan duduk di sana.
”Met,” si Gondrong melanjutkan pembicaraan setelah keduanya terdiam beberapa saat. ”Aku betul-betul heran sama dia.” Dia berhenti sebentar untuk menghisap rokoknya yang masih seperempat batang. ”Aku berhubungan dengan dia sudah lama tapi kenapa dia mengajukan syarat itu sekarang?”. Sunyi. Slamet belum berkomentar, sepertinya dia ingin temannya meneruskan cerita.
”Kau tahu, Met?” Si gondrong bertanya, seperti kepada dirinya sendiri karena jawaban pertanyaan itu ada pada cerita selanjutnya. ”Waktu aku bilang akan melamarnya, dia tanya padaku, Mas Toni di rumah sholat nggak? Tentu saja aku serba salah menjawabnya. Kalau aku katakan sholat, kapan aku mengerjakannya? Lalu kalau aku katakan tidak, yaa... malu dong sama dia. Aku akhirnya hanya diam. Sepertinya dia tahu kalau aku nggak pernah sholat sama sekali.”
”Met”
”Ya. Kenapa?” Slamet menegakkan kepalanya.
”Kamu dengar nggak ceritaku?” Si gondrong bernama Toni itu bertanya menyelidik, khawatir ceritanya hanya didengar oleh angin malam dan jengkerik di kebun sebelah. ”Ya dengar dong. Masak nggak dengar. Aku ini belum tuli dan semoga sampai tua telingaku masih sepeka sekarang. Terus gimana?” Sahut Slamet menegaskan perhatiannya.
”Aku sebenarnya agak khawatir kalau ceritaku ini hanya didengar burung hantu”, lanjut Toni tanpa ekspresi.
”Apa kau kira aku ini hantu? Aku memang punya burung tetapi aku bukan hantu. Enak saja!” Sela Slamet dengan suara sedikit mengeras. Wajahnya lebih ditegakkan. Matanya memandang Toni untuk memberi perhatian lebih.
Sunyi lagi. Asap rokok dari hisapan terakhir mengepul di udara. Toni melempar puntungnya ke sela-sela kerikil halaman.
”Kemudian dia tanya begini Met, kalau baca al-Qur’an Mas Toni bisa nggak? Tentu saja pertanyaan ini juga seperti pukulan telak bagiku. Boro-boro baca, hurufnya saja aku nggak tahu namanya. Hurufnya kriting semua, Man” lanjut Toni mengutip kata-kata dalam sebuah film Dedy Mizwar. Sunyi lagi. Terdengar derit pohon bambu tertiup angin malam.
”Kenapa kau nggak bilang bisa? Dia ’kan nggak akan mengujimu, to? Kecuali kalau dia memegang al-Qur’an dan menyorongkannya padamu”, tanya Slamet. Pertanyaan yang diikuti kalimat sedikit ketus. Toni tidak menunjukkan reaksi tersinggung atau jengkel. Ekspresinya datar. Dia tahu Slamet bukannya tidak peduli. Komunikasi bagi keduanya tidak semata-mata kata-kata tapi lebih kepada sikap dan perilaku.
”Ya nggak bisa begitu. Nanti kalau dia betul jadi istriku dan aku ketahuan nggak bisa baca Al-Qur’an, terus bagaimana?” bela Toni.
”Ya nggak apa-apa ’kan? Toh dia sudah jadi istrimu,” balas Slamet.
”Ah, nggak enak rasanya menipu diri sendiri. Aku jawab saja, nggak bisa. Lalu dia bilang begini, ’Mas, suami itu adalah imam keluarga. Kalau imamnya nggak bisa baca Al-Qur’an, terus sholatnya bagaimana, sedangkan sholat harus pakai bacaan Al-Qur’an?’ Dia tanya begitu. Mendengar itu aku nggak bisa berkomentar. Kami kemudiam terdiam beberapa saat. Rasanya seperti beberapa abad. Aku nggak tahu mesti bicara apa. Bibirku lengket seperti kena lem alteco.”
”Jangan berlebihan begitu. Memangnya kamu doyan lem?” Slamet menyela supaya Toni tidak terlalu larut dalam perasaannya.
”Entahlah, Met.” Lirih Toni berucap. Ucapan yang sebenarnya menyikapi suasana tetapi terdengar seperti menjawab pertanyaan, padahal dia tidak pernah makan lem sama sekali.
Toni melanjutkan, ”Entah berapa lama kami terdiam. Setelah aku merasa pembicaraan selanjutnya sudah tidak nyaman lagi, aku pun pamit pulang. Kau perlu tahu, Met. Sepanjang perjalanan pulang itu aku menangis. Untung saja waktu itu malam hari, Malam Minggu, jadi aku tidak terlalu malu pada orang-orang di jalan.”
”Laki-laki nggak boleh menangis”, Ucap Slamet menirukan orang tua yang menenangkan anak laki-lakinya yang menangis. Toni tidak berkomentar. Dia malah melanjutkan ceritanya.
”Sejak itu aku ingin sekali belajar baca Al-Qur’an. Aku menyesal, kenapa aku dulu tidak sekolah di Madrasah Tsanawiyah saja kemudian ke Madrasah Aliyah supaya sekarang aku sudah lancar baca Al-Qur’an.”
”Belajar Al-Qur’an kan bisa di rumah. Ngaji ke Kyai Munif.” Bantah Slamet.
”Persoalannya bukan itu, Met. Aku malu kalau belajar bareng anak-anak kecil. Aku takut diketawain, orang sebesar ini kok baru belajar Iqra’.” Toni membela diri.
”Ya kalau malu terus, kapan bisanya? Malu memang perlu, karena itu yang membuat dirimu jelas laki-laki atau perempuan. Tetapi kalau tidak pada tempatnya, atau bertempat di tempat lain apalagi di kepala, malu justru akan merugikan diri sendiri” komentar Slamet.
”Apa maksudmu? Malu itu nggak ada hubungannya dengan jenis kelamin”, sahut Toni.
”Ada temanku yang lebih tua dari kamu,” Slamet berubah lebih serius. Rupanya dia khawatir kalau komentar-komentar yang tidak jelas akan membuat kawannya ini marah.
”Dia sudah punya dua anak dan sekarang baru belajar Iqra’. Bayangkan, sudah punya dua anak. Tapi kalau kamu ingin belajar sekarang, janganlah karena kau ingin melamar perempuan. Karena jika itu sebabnya, maka ketika lamaranmu ditolak kau juga berhenti belajar.” Lanjut Slamet. Dalam hatinya dia tertawa ketika mengucapkan petuahnya. Dia merasa seperti guru spiritual. Keduanya terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai rasa kantuk menyerang dan keduanya sepakat untuk terlelap.
Kulonprogo, Juni 2007
GEGURITAN
GEGURITAN
Bongso Tempe
(Kagem Mas Presiden)
Oleh : A. Samsul Ma’arif
Bung Karno sesorah
Ojo mung dadi bangsa tempe
murahan
Cekereme.
Mulane
Diagitasi terus
Gempur Nekolim
Inggris dilinggis
Jepang ditendang
Amerika disetrika.
Ning saiki cingak
Jaman wis Presiden ganti bola-bali
Ananging Rakyat malah san saya rekasa
Di linggis
Di tendang
Di setrika
Wa akhiruhu
Tan ana kumecap
Mung:
Gempur
L a w an
Somenggalan, 23 Januari 2008
PUISI
Gerimis di Bulan Maret
Oleh : Andjar
Lancip jarum-jarum hujan, menandai jejalan cemara jarang
Menghantar langkahku di kelokan itu
Di situ kau berdiam;
Membuka korden pagi di musim-musim tropis
Mengemasi mimpi-mimpi di rantau
Kuyup jiwaku mengenalmu
Ada sedu katamu di gerimis itu
Kukenang lagi malam, wajahmu hadapku berpendar lelampu jalan
Sederap jarak mendekat
Sepertinya kita pernah bertemu; kau tak asing bagiku
Lama bermukim-berumah di jiwaku,
Menjadi degup hari-hari
Jum’at, 16 Maret 2007
Karang Malang, Yogyakarta
tentang-mu
oleh : fathin chamama
biarkan selalu melagu
jagakan jiwa menadakan-mu
tentang-mu adalah bertanya
dan jawab adalah engkau
karena engkau adalah cinta
meski dari-mu adalah misteri
diri-mu lah sebenar sejati
pada-mu…….
seluruh alamlah menunduk
maha benar engkau
dengan segala kehendak-mu
Kulon progo, August 31 2005
Namaku Sarjana
Oleh : Pukon
ibuku seorang guru sekolah dasar
bapakku memeras keringat guna mengairi sawah
padahal kakekku seorang kyai,
lalu namaku sarjana
orang-orang mengatakan kami sedarah
ada yang mengatakan kami tak setumpah
karena kami tidak jatuh dalam satu wadah,
lalu, namaku sarjana?
Ibuku berharap aku jadi pintar
bapakku sesekali menyuruhku kerja di sawah
hidup memang susah
kakekku punya pesan, jadilah anak soleh,
memang namaku sarjana
namaku sarjana
cita-cita selalu kubawa
menjadi pintar, pekerja keras, dan
tau mana yang baik, mana yang buruk
jadi, ibuku, bapakku, juga kakekku,
adalah bagian dari namaku
Sebuah Rongga, November 2007
LURUH
Oleh : Yani
Tak lagi tergubahkan apa yang kau ingini
Tiada lagi keinginankah hatimu untuk menyudahi
Tak terpikirkan olehmu kau telah menyakiti
Perasaan luka hatiku yang tak lagi kau temui
Yang aku rindu kini tak lagi di sisi
Yang aku puja tak lagi ingin mengerti
Salahkah jika aku memberimu suatu uji
Relakah kau andai kuterima yang tak ku mimpi
Kau relakan aku lepas tanpa suatu arti
Kau restui masa mengambilku dari sisimu
Adakah kesungguhan kasihmu menyertaiku
Adakah kesungguhan cintamu menemaniku
Kini tak lagi ujiku terlampaui
Kau terlalu ikhlas bersama mimpi
Tiada kesungguhan dirimu yang tak kuingini
Karena kini kau bermimpi beda dengan yang kumimpi
Mungkinkah dulu kau harapkan hanya suatu khayalan
Dan sehingga kau telah tepikan kini
Seperti apakah kau hendak samai
Ciptakan hatiku yang kini telah kau lukai
Cinta
Oleh : Verlienda Yunita
Ketika malam datang
Hati ini jadi tak karuan
Foto dan wajahmu selalu kupandangi
Dengan penuh rindu dan harapan
Kutahu dan selalu kupikirkan
Kalau penantian itu sangat membosankan
Namun ini sudah aku putuskan
Karena tidak mudah untuk menanti seseorang
Yang akan kembali dengan kepastian
Kucoba dan selalu kurenungkan
Ternyata cintaku ini penuh gangguan
Walaupun kutahu ini memang sebuah rintangan
Yang harus dihadapi agar tak jadi penghalang
Seandainya semua ini hanya tipuan
Maka cepatlah aku dibangunkan
Agar tidak larut dalam sebuah hayalan
Menghayalkan cinta yang tak karuan
Cintaku tak pernah ada penyesalan
Cintaku tak pernah ada perkenalan
Cintaku berawal dari sebuah pertengkaran
Cintaku adalah kedamaian
Cintaku adalah keberuntungan
Karena cintaku adalah dunia pisang??
Yang hijau dan kuning melambangkan kesuburan...
Assalamualaikum
Oleh : Hendri Sulistya
Inilah salamku
yang pertama ku ucap
sebagai tanda perkenalanku
maka perkenankanlah aku
masuk dalam kehidupanmu
tuk mengukir waktu
Zamrud
; EA
Oleh : Chyto
Kata yang kubangun dari gelisah
Saat hujan dinginkan tulang-tulangku hingga kaku
: Teringat percumbuan kita tadi siang
Aroma terapi tubuhmu gairahkan resahku
Selebihnya hanya itu..
Hujan tak habis-habis, 130108
SMS DARI PEMBACA
”Tadi aq buka website lontar. Bagus..” (Lathif MP - 0817274xxx)
”Mbak aq mo ngsh saran bwt Lontar, gmn klo 1 saat nnt semua puisi dLontar tu dibukukn trs klo laku y dijual. Lmyn. Bsa mmbri knngan bwt penulisan KP”
(Marwi - 0817467xxx)
BACA BUKU
Hidup adalah Perjuangan?
Judul : Diary Hitam Putih
Penulis : Restu R.A.
Penerbit : Matapena (Novel Pop Pesantren), Yogyakarta
Cetakan : I, Mei 2007
Tebal : vi + 152 halaman, 11 x 17 cm
Warna kehidupan manusia berbeda-beda, begitu juga kombinasi dan detil perubahannya. Kata Inayat Khan—spiritualis asal India, semua manusia mengalami evolusi terus menerus untuk menemukan jati dirinya, untuk mengetahui dan mengembalikan siapakah sebenarnya dirinya. Karena itu Tuhan menghargai seseorang yang menyadari proses tersebut. Evolusi dari ketidaksempurnaan menuju kesempurnaan.
Novel sederhana ini mengisahkan pencarian jati diri seorang remaja, Ryan. Ia memiliki komunitas pecandu minuman keras yang menjadi bagian dari masa silamnya. Tapi sang ayah berhasil mengeluarkan Ryan dari hal buruk itu dengan mengirimnya ke pesantren, yang membuka kisah novel ini.
Menjalani kehidupan yang sama sekali baru tentu tidak mudah, apalagi kebebasan-kebebasan masa silam telah ’dirampas’ dan diganti aktivitas yang sarat aturan, mulai dari bangun tidur sampai jam berangkat tidur pun harus ditepati, lengkap dengan ritual pendekatan kepada Tuhan yang tidak mengenal waktu berhenti. Semula Ryan merasa asing dan tertekan, tetapi berkat bimbingan Kyai dan para santri senior yang ulet, sedikit demi sedikit Ryan mengalami perkembangan positif. Tidak berarti tanpa tantangan, Ryan sering mengalami ujian terberat, yakni saat-saat datang godaan untuk kembali mengonsumsi minuman haram. Ironisnya, ada oknum seniornya yang juga bernasib sama dan menggodanya untuk menenggak minuman itu. Dia harus berjuang keras. Ryan kerap kewalahan mengendalikan tubuhnya yang kecanduan. Ternyata tidak mudah menetralkan pengaruh tersebut jika rangsangan untuk minum itu datang.
Kisah diakhiri ketika memasuki bulan suci Ramadhan di pesantren. Ryan sudah lumayan memiliki kesadaran untuk konsisten membunuh habis kebiasaan masa lalunya. Niatan suci Ryan untuk mengisi lembaran baru yang putih bersih dari rantai hawa nafsu dipersaksikan kepada Tuhannya dalam sebuah munajat doa.
Yang khas dari novel ini adalah menyajikan karya puisi pendek setiap awal bagian. Sedangkan bagian ke satu sebagai pembuka diformat dengan puisi panjang. Begitu juga bagian ke-16 sebagai pamungkas dihidangkan beberapa puisi doa.
Di dalam novel ini, seperti mengandung beberapa teka-teki karena tidak diceritakan secara tegas apa yang sebenarnya yang terjadi dalam kehidupan Ryan. Apakah hanya hitamnya Ryan dengan minuman kerasnya? Tak ada jawaban mengapa Ryan sampai terjerumus ke lembah hitam. Juga tidak ada deskripsi bagaimana latar belakang santri-santri di pesantren tersebut berikut visi misi pesantren yang ditempati.
Sebagai pelengkap pustaka, buku ini layak dibaca. Betapa gejolak anak muda tetap butuh pengarahan dan sentuhan kasih sayang dari sekelilingnya. Tak mudah mengganti lembar hitam menuju putih. Tuhan akan menghargai setiap perjuangan!
(Isnani Nurhalimah, alumnus UIN, mengajar di MAN 2 Wates)
BIODATA PENULIS LONTAR
Andjar, nama panggilan dari A.Ginandjar Wiludjeng. Lelaki kelahiran Banyumas, 11 Juni 1983. Mahasiswa Teknik Arsitektur Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY), dan ASDRAFI (Akademi Seni Drama Film Indonesia). Dipercaya sebagai Ketua Teater Dokumen UWMY (Pendopo Mangkubumen) 2005-2007. Puisinya terkumpul di Kumpulan sajak; "Gamang, Ragu, Resah" (cetak terbatas) dan "Atjeh, Sebuah Kesaksian Penyair". Aktif ngamen puisi dari trotoar, bus, rumah ke rumah, sambil jualan antologi sajak. Kost di nDalem Mangkubumen Yogyakarta.
A. Samsul Ma’arif staf pengajar di MTs Ma’arif Dondong Panjatan. Kini, sibuk kuliah lagi di Bantul sambil berjualan buku-buku. Tinggal di Galur.
Chyto, perempuan energik yang tetap rendah hati alumnus UIN Sunan Kalijaga. Dengan tangan dinginnya, ia masih berkesibukan memimpin LONTAR. Tinggal di Plumbon Temon.
Fathin Chamama, penyair yang sering mengeluh kalau diminta biodata siapa jati dirinya. Sulit, katanya. Yang pasti perempuan penyair satu ini adalah alumnus Statistik UGM dan bergiat aktif di dunia pendidikan dan pergerakan perempuan.
Hendri Sulistya, lahir di Kulonprogo, 15-05-’85. Nyantri di PP. An-Nadwah Bendungan. Puisinya pernah dimuat majalah HORISON sewaktu duduk di bangku SMA. Bersama kawan-kawannya, pernah menerbitkan buletin Kettappel (Kita Peduli Pelajar) yang dipelopori ISPGM (Ikatan Santri Peduli Generasi Muda) di mana ia sebagai Ketuanya. Tinggal di Kauman Bendungan.
Pukon, merupakan nama lain dari Osephe H. W. Mahasiswa Sastra Inggris Sanata Dharma Yogyakarta. Kini tinggal menanti detik-detik meraih Sarjana (seperti judul puisinya, hehe..). Tinggal di Yogyakarta.
Verlienda Yunita, alumni SMK Muh. Gadingan Wates. Sekarang dia jarang berkabar kepada kawan-kawan redaksi. Tapi puisinya masih tertinggal di meja redaksi.
Yani, perempuan kelahiran Kulonprogo, 12 Februari 1981. Alumni MAN Wates 2. Tinggal di Siluwok Temon.
Z. Lathif, cerpenis yang penyair atau penyair yang cerpenis? Dua-duanya memang melekat pada sang lay-outer LONTAR ini. Tinggal di Kauman Bendungan.
KATA-KATA MUTIARA
Hati orang tolol ada di lidah sedang lidah orang bijak ada di hati.
(mahfudzat)
No comments:
Post a Comment